Nurulloh
Nurulloh Pekerja Media

Ordinary Citizen

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Puing dan Arena Boling di Jakabaring hingga Sibuknya Bumi Sriwijaya

16 Mei 2018   14:18 Diperbarui: 21 Mei 2018   15:04 1758 10 8
Puing dan Arena Boling di Jakabaring hingga Sibuknya Bumi Sriwijaya
Ilustrasi: Pembangunan jalur LRT di Palembang (Antara Foto/Feny Selly)

Berbagai atribut perhelatan terbesar olahraga se-asia, Asian Games 2018 yang akan digelar di dua kota sekaligus, Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus 2018 menyambut kedatangan saya di Kota Palembang pada Minggu (13/5) pagi.

Mulai dari pintu kedatangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sampai di perjalanan menuju tempat saya menginap di Jl. Kapten A. Rifai suasana Asian Games ke-18 kental terasa. 

Pemasangan atribut Asian Games 2018 sejak beberapa bulan belakangan di dua kota, Jakarta dan Palembang merupakan bagian dari promosi dan sosialisasi kepada masyarakat selain memperlihatkan kesiapan Indonesia sebagai tuan rumah.

Ini kali kedua Indonesia menjadi tuan rumah setelah Asian Games ke-4 tahun 1962 yang berpusat di Senayan, Jakarta.

Saat itu Jakarta bersolek, bahkan jor-joran melakukan pembangunan sana-sini termasuk pembangunan komplek olahraga Ikada atau yang kini bernama Gelora Bung Karno dan juga Monumen Selamat Datang karya arsitek Henk Ngantung dan Edhi Sunarso yang berada di Jalan Bundaran Hotel Indonesia, berdampingan dengan Hotel Indonesia tempat para atlet dan kontingen peserta menginap.

Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games tahun ini karena Hanoi (Vietnam) mengundurkan diri akibat keterbatasan biaya.

Pagi itu Palembang diguyur hujan ringan setelah sekian lama hujan tidak membasahi jalanan "Bumi Sriwijaya".

Alhasil, perjalanan saya dari penginapan ke Jakabaring Sport City (JSC) yang berjarak kurang dari 7 kilometer itu dilengkapi dengan genangan air berwarna kecokelatan. Sistem drainase di jalanan Palembang seperti tersumbat.

Para pekerja konstruksi lengkap dengan helm pengaman menjadi pemandangan di sepanjang jalan. Hampir seharian Palembang diselimuti awan tebal setelah beberapa hari sebelumnya cerah.

Pembangunan jalur LRT di Palembang/Rul
Pembangunan jalur LRT di Palembang/Rul

Dengan jalanan yang relatif berlubang dan tergenang karena pembangunan rel light rail transit (LRT) memperpanjang waktu tempuh. Seakan berada di Jakarta. Dimana-mana pembangunan jalur transportasi alternatif.

Pembangunan LRT di Palembang merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memfasilitasi penyelenggaraan Asian Games 2018 dan menjadi syarat bagi tuan rumah yang diwajibkan menyediakan transportasi cepat. Hal tersebut sudah menjadi ketentuan dari Dewan Olimpiade Asia (OCA).

Pembangunan moda transportasi ini tidaklah murah. Pemerintah mengucurkan dana 10,9 triliun rupiah yang diambil dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN). Ditargetkan selesai di bulan ini, Palembang akan lebih dulu memiliki LRT dibanding Jakarta yang masih tahap pembangunan. 

Pembangunan LRT bukan tanpa cela. Mulai dari molornya ujicoba yang direncanakan pada akhir April lalu sampai kepada hitungan untung rugi karena proyek LRT dengan jalur lintasan sepanjang 23,4 kilometer ini dinilai belum begitu dibutuhkan oleh masyarakat Palembang. 

Bahkan, pemerintah Provinsi Sumatera Selatan tidak mengikutsertakan rencana pembangunan LRT ini ke dalam rencana pembangunan jangka menengah dan panjang daerah (RPJMD dan RPJPD) sebagaimana laporan Tirto.id. Belum lagi penghitungan biaya perawatan. Rasanya banyak persoalan yang akan ditemui ke depannya.

Di setiap sudut kota berbenah dan mempercantik diri. Kota ini menjadi sangat sibuk jelang Asian Games 2018.

Setelah sekitar satu jam perjalanan, akhirnya saya tiba di depan pintu masuk JSC yang menjadi kebanggaan warga Palembang. Di pintu masuk terdapat beberapa orang yang sudah berjaga sekaligus memungut biaya masuk sebesar 10 ribu rupiah untuk pengguna kendaraan roda empat.

"Mahal sekali?!," kata sopir yang mengantar saya selama di Palembang.

"Ya, biasalah...," kata penjaga tersebut sembari cengegesan.

Kompleks olahraga yang di dalamnya berdiri kokoh stadion yang menjadi markas klub besar sepak bola Sriwijaya FC ini terlihat seperti sedang "kejar tayang". Dimana-mana terlihat tumpukan galian tanah dan puing serta renovasi beberapa sarana yang akan digunakan dalam Asian Games 2018.

Jika melihat secara fisik, kondisi kompleks olahraga ini seperti jauh dari kata rampung. Di setiap sudut jalanan masih banyak puing-puing. Padahal, tidak lebih dari 3 bulan lagi, Asian Games 2018 dihelat.

Tetapi, Gubernur Sulawesi Selatan Alex Noerdin pada awal tahun ini di Jakarta mengatakan bahwa segala pembangunan dan renovasi arena sudah sesuai rencana. Artinya, akan selesai tepat waktu. Semoga saja....

Memang, beberapa sarana atau arena cabang olahraga yang memasuki tahap penyelesaian akhir sudah bisa digunakan bahkan mulai dimanfaatkan oleh masyarakat Palembang, seperti arena Bowling Center yang selalu ramai.

Kompleks olahraga seluas 360 hektar ini dibangun dengan biaya yang cukup besar sejak mulai dibangun pada tahun 90-an. Dana yang dikeluarkan untuk membangun segala fasilitas dan merenovasi beberapa arena menyambut Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang lebih dari 30 triliun rupiah.

Namun, masifnya pembangunan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung dalam penyelenggaraan Asian Games 2018 ini masih menyisakan keraguan besar terutama nasib perawatan segala hal dari apa yang sudah dibangun. 

Jangan sampai pengalaman Riau menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 silam berulang. Sarana dan prasarana yang dibangun saat itu dalam kondisi yang memilukan saat ini. Dibiarkan tak terurus sebagaimana diwartakan banyak media. 

Rupiah yang tidak sedikit yang dikeluarkan pemerintah demi suksesnya Asian Games 2018 itu diyakini akan menghasilkan keuntungan dengan tumbuhnya ekonomi ke arah positif. Hal tersebut merupakan optimisme dari Kementerian Keuangan RI.

Meskipun begitu, tidak semua biaya pembangunan fasilitas dan kebutuhan Asian Games 2018 berasal dari kantong negara. Perusahaan Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas yang menjadi mitra utama mengucurkan dana bantuan USD 4 juta atau senilai 56 miliar rupiah dan secara terpisah menggelontorkan dana sebesar 27 miliar rupiah khusus untuk membangun sarana olahraga boling bersama pihak Pertamina yang juga menjadi bagian dalam sponsorship.

Jakabaring Bowling Center/rul
Jakabaring Bowling Center/rul

Dengan total luas 3.600 meter persegi, arena boling ini diklaim sebagai yang terbaik di Asia. Meski terlihat megah, bowling center ini belum seutuhnya beres. Bagian luar arena masih dipenuhi tumpukan tanah merah. Tetapi, hal tersebut tidak menyurutkan warga Palembang untuk bermain boling di tempat ini. 

Selain harga sewa yang murah, semua fasilitas pendukungnya berskala internasional.

Di tempat ini saya berjumpa dengan sepuluh bloger Kompasiana asal Palembang yang tergabung dalam komunitas Kompasianer Palembang (Kompal) yang juga diundang oleh APP Sinar Mas untuk mengunjungi bowling center dan area konsesinya di Sungai Baung, Sumatera Selatan.

Puluhan jurnalis dari berbagai media nasional dan lokal juga turut ambil bagian dalam rangkaian acara ini. 

Sebagai perusahaan yang beroperasi di kawasan Provinsi Sumatera Selatan, selain memberikan dana sponsorship, APP Sinar Mas menginisiasi beberapa program dukungannya dalam menyukseskan perhelatan besar olahraga se-Asia ini. Salah satunya melalui program fire management dalam penanggulanan kebakaran hutan dan lahan (Kahutla).

Program tersebut memiliki slogan "No fire, no haze".

Ya, tidak ada api dan asap sepanjang penyelenggaraan Asian Games 2018. Bagaimana caranya agar Sumatera Selatan yang kerap dilanda kebakaran hutan dan lahan ini berbenah diri? Sudah saya ceritakan di "53 Miliar Hanya untuk Menggaransi Tidak Ada Api dan Asap".