Mohon tunggu...
Nurulloh
Nurulloh Mohon Tunggu... Building Kompasiana

Ordinary Citizen

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Dari Gelombang Laut Banda sampai Mandi Katulistiwa

10 Juni 2015   21:41 Diperbarui: 17 Juni 2015   06:07 540 9 4 Mohon Tunggu...

Ini bukan kali pertama saya menumpang kapal laut untuk menyeberang dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia. Sebelumnya, saya pernah menumpang kapal ferry dari pelabuhan Merak menuju Bakaheuni, Lampung. Itupun saya merasa tidak begitu nyaman karena bermacam hal.

Sebagai negara kepulauan, Indonesia sudah selayaknya memperbaiki pelayanan transportasi laut yang kian ditinggalkan masyarakat bukan hanya karena alasan waktu tempuh yang lebih lama dibanding moda transportasi darat ataupun udara. Tetapi fasilitas di angkutan laut sangat terbatas—kalau tidak mau dibilang buruk.

Catatan ini bukan membahas seperti apa sistem transportasi yang baik atau layak. Saya ingin berbagi kesan berlayar dengan kapal perang milik TNI AL, KRI Banda Aceh. Sebelumnya saya sudah cerita bagaimana bisa berkesempatan menumpang dan bermalam beberapa hari di atas kapal perang KRI Banda Aceh dalam sebuah rangkaian kegiatan Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) 2015 yang diselenggrakan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman.

Bersama dengan 122 anak buah kapal dan 140-an peserta ENJ serta puluhan orang dari beberapa kementerian dan lembaga negara, saya bermalam dan tinggal di atas kapal KRI Banda Aceh selama 7 hari 8 malam dalam sebuah pelayaran menuju Sorong di sebelah Barat Papua. Berhubung berlayar bersama pasukan TNI AL, jangan harap bisa berbuat sesukanya. Ada aturan main yang harus dipatuhi oleh setiap orang di atas kapal ini, tak terkecuali. Mulai dari kedisiplinan sampai gaya komando khas tentara saya rasakan dan begitu juga yang lainnya.

Kami semua yang berada di atas kapal dibangunkan dengan suara azan pukul 05.00 yang terdengar dari area geladak helly. Waktu makan hanya diberikan satu jam, mulai pukul 06.00 sampai 07.00 untuk sarapan, 12.00-13.00 makan siang dan 18.00-19.00 untuk makan malam. Piring dan sendok pun dipakai bergantian dan harus kembali bersih usai menggunakannya. Dicuci sendiri agar yang lain dapat menggunakannya kembali dalam keadaan bersih. Apel pagi pun jadi rutinitas kami sebelum memulai segala kegiatan di atas kapal.

Demi menjaga kebugaran tubuh, kami juga disarankan berolahraga di area geladak helly yang cukup menampung tiga helikopter di bagian atas kapal.

Alas kaki di depan kamar harus tertata rapi/Nurulloh

Dalam hal kerapian pun begitu. Semua orang yang ada di kapal ini wajib menjaga kerapian diri dan kamar tidurnya serta seluruh area kapal. Alas kaki yang berada di depan kamar harus tertata rapi. Maklum saja, satu kamar bisa diisi lebih dari 30 orang. Sempit tapi begitu adanya.

Apalagi kamar yang saya tempati, penuh dengan barang dan perlengkapan peserta ENJ yang mengikuti pelayaran dari Tanjung Priok, Jakarta pada tanggal 1 Juni lalu. Kami diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan kapal seperti buang sampah pada tempat yang telah disediakan. Meski sangat disayangkan, saya masih menemukan sampah di kamar mandi maupun di toilet yang dibangun terpisah.

Mengusir Kejenuhan dan Mual

Sejak masuk ke perairan laut Banda yang memiliki kedalaman sekitar 3.000-4.000 kaki, pusing dan mual mulai terasa. Berbeda ketika kapal masih melintasi perairan Makassar yang masih terlihat pulau-pulau di sisi kanan atau kiri kapal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x