Energi

Ilusi Kesejahteraan di Rezim Zaman "Now"

8 Desember 2017   16:04 Diperbarui: 8 Desember 2017   16:10 1150 2 0

Ilusi Kesejahteraan di Rezim Zaman Now

Bogor - Gas elpiji 3 kilogram di kota Bogor sejak sepekan terakhir mengalami kelangkaan.

Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram terjadi lantaran PT.Pertamina mengurangi jatah gas bersubsidi 3 kilogram atau gas melon. Akibatnya warga Bogor mengalami kesulitan mendapatkan gas bersubsidi 3 kilogram. Warga harus berkeliling mencari gas untuk kebutuhan memasak. Bahkan ratusan Ibu ibu menyerbu lokasi pasar yang di gelar Hismawa migas di Paledang kota Bogor dan rela mengntri panjang untuk mendapatkan gas elpiji 3 kilogram mengingat jatah yang di berikan dalam operasi pasar Hismawa migas hanya 500 tabung. Kelangkaan gas 3 kilogram tidak hanya terjadi di kota Bogor tetapi juga terjadi di ibukota, bahkan kelangkaan gas 3 kilogram di ibukota sudah terjadi selama satu bulan.

Negeri ini sedang di landa krisis multidimensi yang tak kunjung berakhir. Mulai dari krisis moneter, krisis pangan di berbagai wilayah di tanah air, krisis listrik yang berakibat pada pemadaman listrik bergilir, krisis moral hingga pada akhirnya sampai pada krisis energi yang saat ini sedang di rasakan oleh seluruh masyarakat. Krisis energi di tandai dengan kelangkaan dan melonjak nya harga migas yang merupakan kebutuhan primer masyarakat.

Namun ini merupakan suatu hal yang aneh, mengingat indonesia adalah negeri yang sangat kaya. Indonesia memiliki predikat 'Gemah Ripah Loh Jinawi' sebuah predikat yang menggambarkan sebuah negara yang kaya akan sumber daya alamnya. Kekayaan indonesia dapat dengan mudah di saksikan di berbagai pelosok tanah air. 

Menurut data indonesia minning asosiation, indonesia meraih peringkat ke 6 terbesar di dunia kategori negara yang kaya akan sumber daya tambang yakni emas, nikel, tembaga, dll. Potensi lainnya yakni sumber daya migas indonesia saat ini masih sangat besar. Menurut data kementerian ESDM sumber daya minyak bumi di indonesia saat ink masih tercatat sekitar 86,9 miliar barel dan gas bumi sekitar 384,7 trilyun standar kubik. Dengan kondisi cadangan migas yang besar rakyat di negeri ini seharusnya tidak mengalami krisis energi. Lalu kemana kekayaan alam negeri ini?

Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) di negeri ini sangat memprihatinkan. Sistem kapitalisme sekuler yang di terapkan di negeri ini menghalalkan privatisasi aset aset milik publik, tidak hanya itu penguasa di negeri ini lebih senang memberikan kontrak pertambangan kepada pihak asing yang rakus dan tamak di bandingkan di kelola sendiri oleh negara, bahkan kapitalisme telah berhasil melegalkan asing mengintervensi berbagai undang undang sehingga perusahaan asing dengan leluasa mengeruk harta kekayaan negeri ini.

Kita bisa melihat bagaimana tambang emas Grasberg papua di keruk oleh perusahaan raksasa Amerikatanpa memperdulikan aspek lingkungan dan lahan, juga keberadaan perusahaan asing seperti Freeport, Exxon Mobil, Chell, Chevron, Newmont menguasai pengelolaan sumber daya alam di indonesia. Bahkan di sektor migas dari 45 blok minyak dan gas (migas) yang saat ini beroperasi di indonesia 70 persen di antaranya di kuasai oleh asing. Akibatnya migas yang seharusnya milik rakyat dan rakyat bisa menikmati nya secara murah menjadi komoditi dagangan dan rakyat harus membeli nya dengan harga mahal.

Sungguh penguasa telah abai atas permasalahan di negeri ini yang mengakibatkan rakyat menjadi sengsara.

Berbeda dengan kapitalisme yang melegalkan swasta dan asing menguasai sumber daya alam, islam menetapkan bahwa migas bukanlah harta milik negara swasta apalagi asing melainkan harta milik rakyat  sebagaimana sabda Rasulullah SAW

" kaum muslimin berserikat dalam tiga hal yakni air, api, dan padang rumput" (HR. Ahmad).

Sehingga kekayaan alam ini pengelolaan nya tidak boleh di serahkan kepada swasta (corporate based management)  tetapi sepenuhnya harus di kelola oleh negara dan hasil nya harus di kembalikan kepada rakyat dalam berbagai bentuk. Salah satu nya dengan memberikan kemudahan kepada rakyat dalam memperoleh energi secara gratis atau murah.

Masihkah kita percaya kepada sistem kapitalisme sekuler yang telah gagal mengatasi krisis demi krisis di negeri ini? Krisis energi yang saat ini terjadi adalah salah satu contoh kegagalan sistem ini dalam mengurusi urusan rakyat.

Sudah saatnya kembali kepada aturan islam. Islam menjamin kesejahteraan rakyat. Tidak di terapkannya islam lengkap dengan aturannya dalam bingkai khilafah memastikan bahwa umat akan mengalami kesengsaraan di dunia.

Wallahualam

Nurlela - IRT