Humaniora

Generasi Mengganas, Salah Siapa?

26 Agustus 2017   18:06 Diperbarui: 26 Agustus 2017   18:17 1291 3 1

Di tahun ke 72 kemerdekaan Indonesia, berbagai kisah memilukan terekam nyata. Para ibu semakin was was, cemas, karena sekolah kini tidak lagi aman, kasus kekerasan semakin banyak terjadi di sekolah, anak-anak telah berubah menjadi monster menakutkan atau menjadi 'mainan' yang menyenangkan.

Masalah generasi ini kian hari kian memanas, hingga mengganas. Dilansir Merdeka.com (8/8/2017)  Seorang siswa kelas II SDN Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, meregang nyawa, Selasa (8/8). Mirisnya, si anak tewas diduga setelah berkelahi dengan temannya pagi tadi sekitar Pukul 07.00 WIB. Perkelahian anak-anak berujung maut.

Tak berbeda jauh dengan yang diberitakan dalam Lampung (pos kota), ejek-ejekan yang biasa dalam kehidupan anak pun menjadi pemicu anak melakukan kekerasan dan pembunuhan. Dendam seringkali diejek jelek dan miskin siswa SD kelas VI membunuh teman sekolahnya yang juga merupakan tetangganya. Tersangka MK (12) warga Kelurahan Kurungan Nyawa, Pesawaran, Lampung Sabtu (18/2/2917) sore ditangkap polisi. (8/2/2017)

Tentu saja ini hanya sebagian kecil dari fakta yang terjadi, dan hanya di Indonesia. Bagaimana dengan negara lainnya? Ternyata tak jauh berbeda. Kekerasan terhadap anak memang telah menjadi bayang-bayang hitam dalam kehidupan generasi hampir di seluruh belahan dunia. Dalam penelitian yang dilakukan oleh organisasi nonprofit Plan International dan ICRW (International Center for Research on Women) di Indonesia, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Vietnam ditemukan, 7 dari 10 anak pernah mengalami kekerasan di sekolah.

Hasil laporan ini juga menunjukkan, 84 persen pelajar di Indonesia pernah mengalami kekerasan, sedangkan Pakistan memiliki angka terendah, yakni 43 persen. Secara keseluruhan, 7 dari 10 anak mengalami kekerasan, di mana 43 persen di antaranya tak melakukan apa pun saat melihat tindak kekerasan di sekolah.

Siapa Yang Harus Bertanggungjawab?

Tentu semua elemen baik individu, keluarga, masyarakat dan negara memiliki tanggungjawab untuk menjaga generasi. Elemen ini harus bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak-anak.

Namun kita melihat kini, tak banyak individu yang sadar untuk memberikan contoh yang baik pada anak-anak. Keluarga sebagai benteng pertama pertahanan anak juga telah runtuh, kita bisa melihat betapa mudah anak-anak mendapatkan tontonan-tontonan yang tidak mendidik di rumahnya sendiri. Anak itu adalah peniru yang ulung, ia akan meniru apa yang dilihatkan tanpa mempertimbangkan resiko apa yang akan terjadi. Inilah yang terjadi saat anak-anak melakukan kekerasan, meniru apa yang dilihatnya! Bayangkan saja, ada beberapa sinetron yang tayang di beberapa stasiun TV swasta yang di setiap episodenya selalu menyuguhkan adegan perkelahian. Jika ini terus dilihat anak-anak maka sudah pasti mereka tak segan untuk melakukan hal yang sama.

Negara pun punya peran yang sangat penting dalam mengganasnya generasi ini, seharusnya Negara fokus dalam menyelesaikan masalah ini, generasi adalah aset bangsa, generasi hancur lalu bagaimana masa depan negara? Stop tontonan yang tidak mendidik, buat aturan yang tegas untuk melindungi generasi, ini salah satu langkah yang harus ditempuh negara. Namun mirisnya negara justru sibuk membubarkan ormas-ormas Islam yang terbukti mampu mendidik generasi rabbani, generasi sholih yang berhati lembut, jangankan untuk menyakiti temannya, binatang pun mereka tak berani menyakitinya.

Jika terus dibiarkan, maka kondisi generasi akan semakin tak tertolong. Generasi membutuhkan lingkungan yang aman bagi pertumbuhannya, baik di rumah maupun di luar rumah. Lingkungan yang aman ini hanya akan didapatkan di dalam kehidupan dengan aturan Islam, aturan yang berasal dari Rabb manusia. Negara lah yang seharusnya mewujudkannya, demi generasi yang gemilang. Jika negara masih abai, maka masyarakat memiliki peran penting untuk melakukan koreksi terhadap kelalaian ini.

Jika kehidupan Islam ini mampu diwujudkan, in sya Allah, anak-anak kita akan menjadi generasi yang dirindukan surga. Wallahu'alam bi shawab.

(Arini Fa - Ibu Rumah Tangga)