Mohon tunggu...
Nurul Aliyah
Nurul Aliyah Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Aktif Ilmu komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Hobi Membaca

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Efektivitas Pendidikan di Era Pandemi

1 Juli 2022   16:52 Diperbarui: 1 Juli 2022   16:53 48 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Sektor pendidikan sangat terdampak dimasa pandemi saat itu, dikarenakan sektor pendidikan merupakan salah satu tempat untuk terjadi kerumunan. 

Kerumunan adalah salah satu hal yang harus dihindari pada masa pandemi. Karena dengan hal tersebut dapat meminimalisir menyebarnya virus Covid-19. 

Salah satu kebijakan yang diambil oleh pemerintah, dalam hal ini kementrian pendidikan menetapkan proses pembelajaran dilakukan secara online atau daring. Kebijakan ini mau tidak mau harus dipatuhi oleh masyarakat untuk meminimalisir penularan virus corona di lingkungan pendidikan. Pemerintah tentu sudah melakukan banyak pertimbangan untuk mengambil keputusan ini. 

Langkah ini tentu saja mendapatkan respon yang beragam dari masyarakat. Ada yang beranggapan bahwa pendidikan secara daring dapat mengurangi penularan virus. Ada juga yang beranggapan pembelajaran secara daring tidak efektif, menghabiskan kuota dan kebanyakan anak-anak tidak dapat menangkap materi yang disampaikan, karena sulit dipahami. Selain itu pembelajaran secara daring juga terganggu dengan masalah jaringan internet di seluruh Indonesia. 

Hal ini dikarenakan bahwa masih banyak wilayah yang belum tercapai jaringan internet. Padahal internet memegang peranan penting dalam keberlangsungan proses belajar mengajar secara daring. Pemerintah harus segera melakukan tindakan untuk mengatasi masalah jaringan di beberapa wilayah guna pembelajaran secara daring dapat berjalan efektif. 

Pembenahan jaringan juga bukanlah hal yang mudah karena melibatkan beberapa pihak, dan juga kementrian yang bersangkutan. Selain masalah ketersediaan jaringan internet, hal yang paling berpengaruh secara signifikan terhadap berlangsungnya pembelajaran daring adalah ketersediaan kuota internet. 

Pelajar berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Untuk pelajar yang ekonominya di kelas menengah ke atas mungkin tidak keberatan dan tidak terlalu menjadi masalah. 

Namun, bagi siswa yang ekonominya kelas menengah kebawah tentu hal ini menjadi permasalahan.Pemerintah setidaknya dapat memberikan sumbangan atau subsidi kuota internet bagi pelajar yang berasal dari ekonomi menengah kebawah karena dengan hal ini dapat membantu pelajar agar tidak tertinggal.

Pemberian subsidi kuota internet menjadi kebutuhan pokok bagi siswa dalam melaksanakan pembelajaran daring. Kebutuhan pokok tersebut harus menjadi perhatian penting bagi pemerintah dalam rangka mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang sesuai dengan standar -- standar yang sudah ditetapkan. Beberapa pemberitaan di media cetak maupun elektronik banyak yang mengangkat permasalahan ketersediaan kuota internet. Bahkan ada beberapa siswa yang harus memanjat pohon, harus naik keatas genteng, harus naik ke dataran tinggi agar mendapatkan sinyal yang bagus. Mereka melakukan hal tersebut karena keinginan belajar mereka sangat tinggi. Namun keadaan yang tidak mendukung. Hal inilah yang hraus menjadi perhatian pemerintah. Kegiatan belajar secara daring sebenarnya kurang diminati oleh pelajar, dikarenakan penjelasan yang disampaikan oleh guru kurang dapat dipahami oleh siswa. Terkadang terjadi miss komunikasi. Para siswa sebenarnya sangat menginginkan proses belajar mengajar secara tatap muka, karena dengan tatap muka mereka dapat berinteraksi langsung dengan guru, teman dst. Interaksi inilah yang dapat membangun kedekatan secara personal antara guru dengan siswa. Kedekatan personal ini menjadi penting untuk siswa dalam rangka memahami materi yang diberikan oleh guru. Kedekatan tersebut hanya dapat dibangun jika pembelajaran atau kegiatan belajar mengajar dilakukan secara regular. Namun, hal tersebut sulit terjadi teruntuk siswa yang berada di wilayah zona merah, karena sampai saat ini masih diberlakukan Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Tentu program ini tidaklah menyenangkan semua pihak. Namun, sekolah harus menaati program ini agar angka penyebaran virus corona menurun. Daerah yang masuk kategori kuning atau hijau setidaknya dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka secara terbatas. Dengan hal ini dapat mengobati rasa bosan para siswa karena belajar daring. Para pelajar tidak dapat dipungkiri bahwa mereka juga termasuk makhluk sosial yang membutuhkan interaksi dengan makhluk sosial yang lain. Jika jiwa sosial pelajar terus -- menerus dikekang dikhawatirkan akan menjadi pribadi yang individualis. Perilaku individualis sangatlah tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi kebersamaan dan jiwa gotong royong. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka ini hendaknya tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, cuci tangan dengan sabun, dan selalu pakai masker serta menghindari kerumunan. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan ini menjadi penting untuk dilaksanakan secara ketat guna mendapat izin dari pihak -- pihak terkait untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tatap muka secara terbatas. Pengawasan yang berkelanjutan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan menjadi penting untuk dilaksanakan. Hal ini untuk mencegah klaster -- klaster baru penyebaran virus Covid --19 di lingkungan sekolah. Pengawasan sebaiknya juga diikuti dengan penambahan --penambahan fasilitas penunjang protokol kesehatan, seperti hand sanitizer, termoscanner, masker dan ketersediaan tempat cuci tangan. Ada hal lain yang juga harus diperhatikan adalah pengaturan tempat duduk pelajar di dalam kelas. Pengaturan tempat duduk harus memperhatikan jarak satu sampai dua meter. Pengaturan jarak ini merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir terjadinya kerumunan di dalam kelas. Pencegahan kerumunan juga dapat dilakukan dengan cara mengatur jadwal masuk siswa atau pembelajaran dilaksanakan secara hybrid. Para siswa harus masuk secara bergantian. Pengaturan jadwal masuk dinilai cukup efektif guna menekan penularan virus Covid -- 19 di lingkungan sekolah. Pencegahan melalui cara ini berdampak pada berkurangnya jam belajar, karena harus dipulangkan lebih awal. Namun, pengurangan jam ini membuat para pelajar kurang maksimal dalam menerima ilmu yang diperoleh. Ilmu pengetahuan yang mereka peroleh pun seadanya. Pembelajaran secara daring juga dinilai kurang inovatif oleh pelajar. Guru belum dapat membuat siswa bersemangat untuk belajar via online. Para siswa menilai guru hanya menyampaikan materi tanpa ada inovasi yang menarik bagi siswa untuk mengikuti pembelajran secara daring. Mayoritas pelajar merasa bahwa pembelajaran secara daring tidak efektif karena dalam kenyataanya pengajar lebih banyak memberikan tugas. Suasana belajar dianggap sangat penting dan berpengaruh bagi para pelajar. Bagi siswa yang menyukai suasana belajar yang tenang dan mandiri, belajar daring cocok bagi mereka. Ada yang beranggapan bahwa belajar secara daring dirasa lebih nyaman karena dapat dilakukan dimana saja bisa sambil makan,minum, bersantai dan sebagainya. Tetapi bagi mereka yang terbiasa belajar dengan teman mereka akan merasa bosan karena hanya sendiri tanpa ada lawan bicara untuk berdiskusi. Kini pembelajaran secara daring biasanya dilakukan dengan menggunakan platform tatap muka seperti Zoom, Google meet, atau video rekaman. Dengan hal ini pelajar dapat lebih menerima dan memahami materi dibanding hanya materi berbentuk tulisan. Efektivitas belajar secara daring adalah kembali ke diri masing -- masing, bagaimana pelajar itu dapat memposisikan dan menciptakan suasana belajar yang membuat mereka nyaman dengan belajar daring. Kemajuan teknologi berdampak besar terhadap perkembangan pendidikan, para pendidik harus bisa memanfaatkannya untuk mempermudah proses belajar mengajar guna meningkatkan kualitas pendidikan.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan