Mohon tunggu...
dodo_sang
dodo_sang Mohon Tunggu... pekerjaanku mencintaiMu

ketika tahu semakin tidak tahu

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Dari Mantili hingga Kini, Perempuan Tetap Pendekar

7 April 2021   13:19 Diperbarui: 7 April 2021   13:39 129 17 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dari Mantili hingga Kini, Perempuan Tetap Pendekar
ilustrasi : kumparan.com

Pada setiap generasi peran perempuan akan mempunyai posisi yang tetap dan tak tergantikan yaitu sebagi ruh kehidupan keluarga. Kelihatannya bombastis dan berlebihan pendapat saya, mungkin ada yang berasumsi juga agar dibilang para kompasianer terutama para perempuan saya adalah orang yang mendukung feminisme. Kalaupun mendukung belum tentu mau ngasih saya parcel ramadhan ya kan hehehe...

Sependek pengalaman saya peran seorang perempuan baik ketika pertama kali mengenalnya dalam diri ibu yang melahirkan , kemudian nenek saya yang bersamanya aku tumbuh. Dialah yang megenalkan saya dengan hidup. Semuanya pasti setuju dengan itu. dengan cinta kasihnya memberikan seluruh hidupnya untuk anak-anaknya. 

Kompasianer yang baik hati, jikalau dari kecil kita sudah berkecukupun dengan materi dan kasih sayang maka muliakanlah sekarang, jikalau dari kecil kompasianer tidak dicukupi dengan materi tapi dibesarkan dengan kasih sayang. Lebih-lebihkanlah kebahagiaannya dengan kasih sayang dan materi selama mampu.  

Jikalau dari kecil tidak terpenuhi materi dan jauh dari kasih sayang, janganlah berdendam. Dalam hati  seorang ibu anak-anaknya adalah tetap harta yang tidak ternilai harganya.  

Ketiadaan materi hanya takdir yang harus dilalui sehingga tidak sedikit di antaranya harus berjuang hingga ke luar negeri mengais rezeki dengan maksud dapat mencukupi kebutuhan materi anak dan keluarganya.

Tentu saja ketika seorang ibu berada di luar negeri akan meninggalkan suami dan  anaknya. Dan jauh juga seorang anak dari sentuhan kasih sayang  langsung dari seorang ibu. Karena memang demikian fakta yang terjadi di sekitar lingkungan saya. 

Suami bekerja serabutan jika ada orang yang membutuhkan jasanya, anak tinggal bersama kakek dan neneknya yang juga bekerja di sawah. Di sinilah letak perjuangan seorang perempuan, bertahan di rumah dengan kondisi ekonomi yang tidak jelas. Atau  memilih menjadi TKI paling tidak ada pemasukan untuk keluarga.

Sosok Idealis
Dahulu kala saya  mengenal sosok perempuan selain ibu dan nenek saya adalah adalah Siti Khadijah istri Nabi Muhammad SAW,  Siti Mashitah, Siti Sarah dan Siti Hajar, Siti Maryam, R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Sembodro, Srikandi,  sampai sosok Mantili dalam cerita adalah tokoh-tokoh luar  biasa yang sangat membangun imajiner. Kekuatan tiap perempuan yang sampaikan di atas mempunyai keunggulan karakter dalam bidangnya masing-masing.

Saat sebelum mengenal sekolah dasar seorang Siti Masitoh sangat kuat dalam  memegang kepercayaan agamanya sangat mengilhami agar tidak mudah melepaskan kepercayaan meski harus melepaskan nyawa dirinya dan keluarganya pun harus diikut sertakan. Namun tidak sia-sia karena dalam Isra' Mi'raj Muhammad SAW bisa mencium harum manusia yang datang dari diri Siti Masitoh.

Kemudian silih berganti perempuan-perempuan dalam pelajaran sejarah dan buku-buku lainnya bisa dijadikan runtutan untuk menempatkan dirinya dalam perjuangan untuk bangsanya, masyarakatnya, keluarganya, bahkan untuk dirinya sendiri. Perjuangan mereka bukan hanya meminta untuk ditempatkan di depan. Tetapi sudah berinisiatif untuk mengambil peran. Sehingga jika sampai sekarang masih ada saja yang meminta untuk menempatkan di posisi yang sama dengan lelaki. Pertanyaannya adalah di posisi apa?

Kalau adik Brama Kumbara si Mantili dalam cerita Drama radio Saur sepuh adalah seorang pendekar perempuan akan tetap menjunjung tinggi kehendak suaminya. Begitu kira-kira dalam cerita itu eh iya ... kompasianer ada juga yang belum pernah menikmati drama radio yang pernah heboh itu, kalau begitu masih enak zamanku hehehehehe.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN