Mohon tunggu...
Nur Tjahjadi
Nur Tjahjadi Mohon Tunggu...

Bebas Berekspresi, Kebebasan Akademik, Bebas yang bertanggung jawab...

Selanjutnya

Tutup

Humor

Wanita Malaysia Jablay...

11 Mei 2011   17:28 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:49 3186 5 17 Mohon Tunggu...

Kalau mau membandingkan pendidikan wanita di Malaysia, Indonesia kalah jauh.  Sebabnya, mereka mendominasi hampir semua perguruan tinggi yang ada di Malaysia.  Lelakinya pada kemana, tanya saya pada mereka, suatu hari.  Lelaki di sini banyak yang masuk penjara, kerana kes dadah...Owh sebegitu parahkah ?  Selain itu, selepas diploma mereka lebih memilih bekerja, mengumpulkan uang untuk memenuhi permintaan hantaran pihak wanita.  Memangnya seberapa mahal  ?  Yach minimal RM 8,000 (sekitar 24 juta rupiah), itu kalau di kampung.  Kalau di bandar mungkin dapat mencapai RM 10,000 sampai RM 30,000 (30 juta rupiah - 90 juta rupiah) atau bahkan lebih .  Semakin tinggi pendidikan si wanita maka orang tua akan minta hantaran yang lebih pula, kata mereka.  Jadi kalau lulusan S1 (jumlah hantaran yang diminta RM 10,000), lulusan S2 (jumlah hantaran yang diminta RM 20,000) dan lulusan S3 (jumlah hantarannya RM 30,000).  Wah kok kayak barang dagangan saja.  Itu peraturan tidak tertulis.  Cuma si lelaki saja yang tahu diri.  Kalau si wanita sudah berpendidikan, maka hantaran yang harus disediakan ya berkisar angka itu.   Begitu ya ?! Wanita Malaysia, setelah lulus S1 dapat pekerjaan dengan gaji RM 1500 - RM 3,000.  Setelah setahun atau dua tahun bekerja mereka sudah punya mobil baru, nyicil selama 9 tahun dengan cicilan perbulan hanya RM 700 - RM 900.  Dua tahun kemudian si wanita karir ini sudah mulai nyicil rumah, dengan jumlah cicilan RM 1000.  Setelah punya pekerjaan tetap, punya kereta (mobil), punya rumah (walau masih nyicil), maka wanita Malaysia semakin tidak butuh lelaki.  Sebetulnya, mereka bukan tak butuh lelaki.  Mereka butuh juga kasih sayang, mereka butuh juga teman ngobrol.  Selain kebutuhan biologis tentunya, serta kebutuhan mempunyai anak keturunan. Owh, jadi mereka "jablay"  ya ?  Apa itu jablay  tanya teman saya ?  Jarang dibelai, kata saya.  Terus teman saya itu ngakak abis2an.  Jangan lebay deh, kata saya...  Apa lebay tu ?  Berlebihan, melampau laa...  kata saya.  Dia tambah ngakak (tergelak2 sampai keluar air mata). Pihak lelaki pula  tak berani mendekati perempuan yang sudah sukses tetapi jablay itu.  Lelaki yang sukses, bingung kemana harus mencari jodoh/ pasangan hidup.  Orang tua lelaki juga bingung, kemana mencarikan jodoh bagi anak lelaki kesayangannya itu.   Sampai2 ada seorang ibu yang buat iklan seperti di bawah ini :

Gambar 1.  Kesulitan Mencari Menantu,  Seorang Ibu dari Lelaki Malaysia Pasang Iklan Di Dinding

Jadi, sebetulnya pendidikan wanita yang berhasil, seperti cita2 Kartini, ada efek sampingnya juga.  Yakni wanita semakin tak butuh lelaki, walaupun ianya jablay.   Celakanya lagi, ada yang menganggap wanita jadi sombong, setelah punya gelar S1, punya pekerjaan, kendaraan dan rumah sendiri.  Orang tua si wanita di kampung, sebetulnya juga sangat berharap agar anak gadisnya segera mendapat jodoh.  Tapi apa mau dikata, tak ada lelaki yang berani mendekat.

Kebanyakan Wanita di sini menikah setelah usia 28 tahun atau bahkan setalah 30 tahun.  Walau ada juga yang menikah muda,  selagi masih kuliah, baik karena MBA (Married by Accident) ataupun karena dijodohkan orangtua.  Tetapi banyak wanita yang tidak mau kawin di usia muda, mereka mau kaya dulu.  Tetapi setelah kaya dan bertambah usia, bukannya tambah mudah mencari jodoh, malahan tambah susah.

Akhirnya, ada wanita memilih menjadi "yang kedua"  mencari lelaki yang sudah MBA, bukannya gelaran Master of Business Administration, tetapi lelaki MBA = Married but Available.   Maksudnya jadi istri kedua nih.  Memangnya sanggup berbagi ?  Ya lebih senang begini.  Suami tak banyak menuntut, karena ia juga sudah mapan.  Istri tak payah memasak di rumah karena sibuk bekerja dengan urusan kantor, kadang pekerjaan kantor juga dibawa ke rumah.  Kalau suami yang masih muda, tentu mereka akan menuntut lebih banyak, minta dilayani bak raja.  Tetapi, kawin dengan lelaki yang MBA (Married but Available) lebih senang melayaninya, selain sudah berpengalaman, ia juga tak banyak menuntut istri harus begini atau begitu...

Karena jablay, tak mengherankan kalau ada lelaki dari negara lain (Indonesia, Bangladesh, India) jadi pilihan wanita Malaysia.  Lelaki dari negara lain biasanya lebih care dengan istri dibanding lelaki Malaysia, apa betul begitu, ada juga lah  yang brengsek, yang hanya pandai merayu.  Setelah kejadian, lelaki Lombok yang melarikan wanita Malaysia, maka media massa di sini banyak yang buat berita sensasi, menjelek2kan lelaki dari negara lain, suka pakai sihir, padahal cuma merayu saja.  Karena jablay, maka si wanita mudah saja terkena rayuan gombal lelaki yang kurang kerjaan itu.

Jadi bagaimana, mau jadi jablay sepanjang hidup, mau cari suami yang sudah mapan, mau kawin muda sambil kuliah, atau...

The Choice is yours...

Ini saya kasih bonus lagu jenaka :

Pria :  Jablay owh jablay, nape awak tak kawin...

Wanita :  Bukan saye tak nak kawin, tapi takde yang nak kan saye...

Pria :  Jablay owh jablay, bukan takde yang nak kan awak, tapi target awak terlampau tinggi...

Wanita :  Bukannya saye pasang target terlalu tinggi, tapi awak yang penakut...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x