Nursini Rais
Nursini Rais Pensiunan

Nenek 4 cucu, senang dipanggil Nenek. Menulis di usia senja sambil menunggu ajal tiba.

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Uniknya Bercocok Tanam dan Gembala Ternak di Inggris

8 Februari 2019   22:05 Diperbarui: 11 Februari 2019   21:48 843 22 11
Uniknya Bercocok Tanam dan Gembala Ternak di Inggris
Perkebunan Canola Inggris. Dokumen Pribadi.

Weekend 23 Mei 2015, tuan dan nyonya rumah yang notabene adalah anak atau menantu saya, merencanakan pergi ke London. Malam sebelumnya mereka mulai berkemas. Tentu saja yang harus didahulukan adalah berkaitan dengan urusan perut. 

Kalau sekitar Birmingham, persiapannya paling-paling snack berupa roti atau apa saja yang bisa mengusir lapar. Tapi berhubung perjalanan agak jauh, kira-kira dua setengah jam naik kereta dari Stasiun New Street Birmingham, bekal nasi adalah menu yang terdaftar pada urut pertama. Namanya saja orang Indonesia. Belum makan namanya sebelum menyantap nasi. Mana membawa anak-anak pula.

Seperti biasanya, apabila nik kereta atau mobil, Arie sang mantu selalu menempatkan saya duduk di pinggir. Tujuannya agar si nenek dapat menikmati pemandangan berbeda daripada di tanah air.

Belum lama meninggalkan New Street Birmingham, di sepanjang pinggir jalur kereta terlihat tanah berpetak-petak kecil. Luasnya kurang lebih 5 x 2 meter, ditumbuhi sayuran, tomat dan entah apa lagi. Maklum, pemandangan sekilas, di tengah kereta yang melaju kencang. Setiap oktafnya terdapat sebuah pondok mungil dari kayu atau tenda parasut kecil. 

Saya tanyakan pada Arie, apakah di sana area pemakaman. Darinya saya tahu, bahwa di negeri Elizabeth tersebut yang memiliki tanah luas hanya orang-orang kaya. Lahan yang berpetak-petak kecil itu disewa oleh masyarakat sekadar melampiaskan hobi bercocok tanam.

Tanaman dalam kebun kecil di pekarangan rumah di Dudley Black Country Moseum Inggris. Dokumen Prbadi.
Tanaman dalam kebun kecil di pekarangan rumah di Dudley Black Country Moseum Inggris. Dokumen Prbadi.
Mengingat upah tenaga kerja di Inggris mahal, untuk kebutuhan buah dan sayur sebagian besar diimpor dari luar negeri. Kalkulasinya lebih irit impor dibandingkan menanam sendiri. Murah hitungan mereka amat mahal menurut saya. 

Contohnya, 250 gram kacang panjang seratusan ribu rupiah nilai uang Indonesia. Di desa saya cuma Rp 2.000 Rupiah. Produk lokalnya juga ada, seperti, kentang, bayam, kol, sawi dan sebagainya. Harganya selaras dengan sayuran impor.

Di lain tempat, sebelah kiri kanan rel kereta menghampar area perkebunan canola yang luas. Menurut Arie, tanaman ini digunakan untuk bahan baku membuat margarine dan minyak goreng bernilai gizi terbaik untuk dikonsumsi. 

Jauh lebih sehat dibandingkan minyak kelapa sawit. Belum lagi tudingan Eropa bahwa tanaman sawit adalah penyebab utama deforestation di negara tropis. Selain itu, akibat naiknya harga minyak bumi, minyak canola semakin penting untuk bahan baku biodiesel. Namun, kelapa sawit diyakini lebih bagus dan ramah lingkungan untuk dijadikan biodiesel.

Dokumen Pribadi
Dokumen Pribadi
Oh, ya. Kembali ke cerita perjalanan. Di sela-sela tanaman yang berbunga kuning itu tampak pula sapi, domba, dan  kambing bercengkrama dengan rerumput nan hijau. Tiada terlihat pengembala mendampingi. Dan tak mungkin pula hewan tersebut ditambat. Mengingat jumlahnya amat banyak. Tetapi, makhluk mamalia tersebut sangat konsisten dengan urusan rezeki masing-masing. 

Tiada seekor pun yang menerobos ke area perkebunan mencuri tumbuhan yang bukan haknya. Padahal, sebagian lahan peternakan dan perkebunan berbatasan langsung. Meski ada juga yang disekat pagar seadanya. Masih bisa dilompati. Apalagi sapi-sapi di sana sebesar gajah. Tiada pula hewan tersebut berkeliaran di jalan raya dan di rel kereta. Saya melabeli binatang ternak di sana taat asas.

Perihal hewan taat asas ini mengingatkan saya pada kambing di Mekah Arab Saudi. Ketika akan dipotong untuk keperluan membayar DAM, tidak sedikit pun pak tua jenggot itu mengembek. 

Digiring ke tempat penyembelihan, nurut. Tiada pula meronta-ronta saat lihernya digorok. Tanpa melalui penelitian, saya berpikir dan berhipotesa sendiri. Apakah kambing seperti ini terlahir dengan naluri tanggung jawab yang maha sempurna? Allhu alam bissawab.

Jauh beda dengan kambing-kambing di kampung saya. Kalau tidak ditambat, begitu keluar kandang pada pagi hari, ia bebas berkeliaran dan mencuri tanaman milik tetangga. Kembali ketika matahari hampir tenggelam setelah perutnya kenyang. Bahkan  tidak pulang-pulang siang dan malam. Bila disembelih, meronta-ronta dan ngembeknya nyaring minta ampun.

****