Nursini Rais
Nursini Rais Pensiunan

Nenek 4 cucu, senang dipanggil Nenek. Menulis di usia senja sambil menunggu ajal tiba.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Begini Gilanya Sopir Zaman Dahulu

1 Desember 2018   23:02 Diperbarui: 7 Desember 2018   11:01 955 23 13
Begini Gilanya  Sopir Zaman Dahulu
Sumber Ilustrasi : Kiriman Uyun Koto

Sopir adalah profesi mulia yang berperan penting dalam dunia perhubungan. Terutama untuk kelancaran arus keluar masuknya barang kebutuhan hidup. Sehari saja semua sopir mogok, kegiatan ekonomi  suatu negara bisa  lumpuh.

Selintas terlihat pekerjaan ini enak dan seperti orang kaya. Terutama ketika nyetir mobil mewah berplat hitam. Orang lain tak pernah tahu apakah kendaraan itu milik pribadinya atau tidak.

Namun, siapa menyangka, ajal mereka berada di detik kekhilafan. Baik berasal dari dalam, maupun di luar   pribadinya sendiri.  Sang pengemudi bisa saja mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya setelah beberapa detik dia menginjak rem, menekan gas, atau diserang kantuk mendadak.

Sehingga dirinya hilang kendali lalu terjun bebas ke jurang.  Boleh jadi lagi enjoy bersiul-siul sembari menikmati musik, tiba-tiba ditumbur lawan dari depan atau belakang. Ini adalah risiko sebuah pekerjaan.

Apapun jenis pekerjaan yang dilakoni, tak pernah lepas dari risiko. Hanya setiap bidang punya kerentanan yang berbeda. 

Sebuah situs pencari kerja di wilayah Benua Amerika  bagian Utara, mengumumkan bahwa, pengemudi, adalah profesi berpotensi teratas yang paling berbahaya. Menyusul petani dan pekarja konstruksi.  Namun ketiganya memberikan dampak positif dalam kehidupan sosial ekonomi keluarganya. (m.mediaindonesia.com).

Berbicara masalah sosial ekonomi seorang sopir, tak terlepas dari kesejahteraan keluarga yang dinafkahinya. 

Di Negara Indonesia, rata-rata kesejahteraan semua sopir dalam kontek keuangan beda-beda tipis. Kondisi ini berlaku dari dahulu sampai sekarang. 

Kecuali, sopir truk  pengangkut pertambangan besar seperti  PT  Freeport, yang sanggup membayar pengemudi truk 20 juta perbulan. Belum termasuk tunjangan lainnya. Mulai kesehatan,sampai pangan dan sandang.  

Persyaratannya harus punya Surat Izin Mengemudi Perusahaan (Simper),  dan melalui  pendidikan di sana yang butuh duit tidak sedikit. Risikonya,  mungkin adanya malfungsi dari alat tambang,  kedaan jalan yang terjal, nyawa bisa melayang. 

Belum lagi bahaya polusi banyak penyakit yang menghampiri, dan berpisah dengan keluarga bagi yang melakukan kontrak lama (bombastis.com).

Saya pernah ngobrol dengan seorang mantan sopir truk yang berpengalaman puluhan tahun. Saya tanyakan bagaimana suka duka  seorang sopir ketika sedang beroperasi di jalanan.

Sukanya, sopir truk bisa agak santai. Tidak terikat kepada penumpang, mau istrahat lama, mandi, tiduran sejenak di warung atau di atas mobil, sampai ke pijit plus-plus di tempat khusus.  Makan mewah bayar sendiri,  tapi uang khusus jatah dari bos.

"Lain dengan sopir bus atau travel.  Terlambat berangkat  penumpang  gelisah. Soal selera, sama-sama spesial. Tetapi sopir bus dan travel dikasih gratis oleh pemilik rumah makan. Sebagai bonus karena  membawa penumpang belanja makan di warungnya. Tak salah, mereka terkesan memberikan pelayanan prima kepada sopir bus dan travel, dibandingkan kami sopir truk."

"Dukanya?"

"Tantangan paling berat adalah galau berpisah dengan keluarga. Terutama sopir antar provinsi antar pulau," pria berumur itu tersenyum. 

"Harus kuat menahan godaan. Meskipun dahulu malaikat penggoda tidak secanggih sekarang yang bisa janjian  via HP. Problem ini mungkin tidak dialami oleh pengemudi yang berangkat pagi pulang petang."

Malu pada pendengar sebelah, saya segera memotong pembicaraan, "Hal lain?"

"Berhadapan dengan preman terhormat dan preman nekad"

"Maksudnya?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2