Mohon tunggu...
Nur Seta Bramadi
Nur Seta Bramadi Mohon Tunggu... Guru - Penulis, Guru Bahasa Inggris, Wiraswasta, Suka Musik / Film / Game PC / Filateli / Meditasi, dan Hidup Simple.

Lahir di Jakarta. Ijazah SD dan SMP dari Sekolah Indonesia Kairo (Mesir) karena pernah tinggal di sana tahun 1981-1986 ikut orangtua. SMA di Jakarta Timur. Pernah kuliah 4 semester di IKJ jurusan Desain Grafis tapi keluar karena bosan. Dapat Diploma Desain Grafis dari Interstudi School Of Design Jakarta. Pernah ikut pelatihan guru bahasa Inggris di LPIA (Jakarta) dan mengajar bahasa Inggris di LPIA dan LCC. Kini, membuka kursus bahasa Inggris dan English Club di rumahnya sambil menulis buku dan berwiraswasta. Ia telah menulis 4 buku: Filateli Sebagai Hobi dan Investasi (Balai Pustaka, 2001), Kursus Singkat Bahasa Inggris (BIP, 2011), Kursus Singkat Percakapan Bahasa Inggris (BIP, 2013), dan Kursus Singkat Bahasa Inggris Bisnis (BIP, 2016). Facebook: Nurseta Bramadi.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Hobi Asyik yang Bisa Jadi Profesi

8 Agustus 2021   16:30 Diperbarui: 8 Agustus 2021   16:36 120 4 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Hobi Asyik yang Bisa Jadi Profesi
Hobi. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Rawpixel

Seperti kita tahu, punya hobi adalah sesuatu yang menyenangkan. Ketika kita sedang asyik menekuni hobi kita, ada kecenderungan kita akan lupa waktu. Memiliki hobi adalah sesuatu yang bagus karena kita punya cara untuk mengisi waktu kita... daripada bengong, melamun, atau melakukan sesuatu yang negatif atau mubazir. 

Ternyata ada beberapa hobi yang bisa kita jadikan profesi rumahan. Yes... betul banget, kita bisa menjadikan hobi kita itu sebagai profesi. Di bawah ini, saya akan tampilkan beberapa hobi seperti itu berdasarkan pengalaman pribadi saya. Ya, saya termasuk orang yang idealis sehingga tidak suka diatur oleh orang lain. Memilih profesi berdasarkan hobi jadi pilihan saya.

Pertama, hobi belajar bahasa asing, khususnya dalam hal ini: bahasa Inggris berdasar pengalaman saya. Dengan mahir bahasa Inggris, kita bisa membuka kursus bahasa Inggris di rumah. 

Ramai atau tidaknya tergantung pada lokasi rumah kita dan cara promosinya. Kita pun bisa menjadi penulis buku-buku berbahasa Inggris dan menawarkannya ke penerbit. 

Butuh ketekunan agar naskah kita bisa tembus penerbit. Jika nanti terbit, selain bisa menambah keuangan kita lewat royalti, buku-buku kita itu pun bisa menjadi nilai tambah bagi tempat kursus kita. Artinya, jumlah murid bisa jadi akan bertambah jika mereka tahu bahwa guru kursus mereka ternyata adalah juga penulis buku. 

Usahakan tempat kursus itu dikembangkan pula jadi klub percakapan atau diskusi bahasa asing. Tempat kursus saya misalnya, juga merupakan English Club, tempat di mana siapa saja yang ingin mengobrol/diskusi dalam bahasa Inggris. Tentu saja kita kenakan tarif untuk itu, entah berdasarkan jam atau waktu kunjungan. 

Di English Club ini, kita tidak lagi belajar tentang tata bahasa Inggris, tapi sudah lebih luas tentang tema-tema umum yang diperbincangkan dalam bahasa Inggris. 

Dengan membuka English Club pangsa pasar pun bertambah karena kita tidak hanya mengajar anak-anak sekolah, tapi juga kaum dewasa yang ingin mengasah keterampilan bahasa Inggris mereka lewat obrolan dengan tema-tema luas. 

Kedua, hobi membaca buku, komik, atau majalah. 

Selain bisa menambah wawasan kita, jumlah buku/komik/majalah kita yang banyak itu bisa kita jadikan lahan untuk membuka taman bacaan berbayar di garasi rumah kita. Jangan terlalu mahal dan pembaca hanya bisa membaca di tempat. Hal ini tentunya untuk menghindari buku-buku kita hilang atau rusak.

Konsekuensinya, kita harus menyediakan tempat duduk yang nyaman dan kita pun harus bersedia menunggu taman bacaan kita itu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobi Selengkapnya
Lihat Hobi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan