nursaidr
nursaidr Blogger, Kompasiana, freelancer

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Siasat Hidup di Era Kebohongan Media dari Berita Hoaks

8 Oktober 2018   20:31 Diperbarui: 9 November 2018   15:15 1448 7 4
Siasat Hidup di Era Kebohongan Media dari Berita Hoaks
sumber: pixabay

Pagi itu, ditergesa-gesaan saya yang telat bangun di minggu pagi untuk mengikuti kelas Danone Blogger Academy 2018 membuat saya harus mandi ala kadarnya saja.  Ya, acara biasa dimulai pukul 08.30 pagi, dan saya baru bangun pukul 08.00. 

Secepatnya, saya bersiap-siap berangkat dengan memesan go jek dan sampai sebelum pukul 08.30 di gedung Cyber 2 lantai 9. Namun, saya harus pergi dengan melupakan map DBA yang berisikan booknote dan buku panduan selama mengikuti Academy Menulis ini.

Sama seperti sebelumnya, satu harian penuh ini saya dan juga 19 peserta blogger dan kompasianer terpilih dari 600an pendaftar akan menjalani serangkaian materi dari kegiatan Academy Menulis DBA Day 2.  

Singkatnya, di hari itu ada 1 materi yang akan diberikan kepada peserta DBA yang bertemakan "How to Handle Hoax in Digital" yang diisi oleh Ibu Rosarita Niken Widiastuti selaku Dirjen Kemenkominfo.

Pada tulisan ini saya belum ingin mencerirtakan pengalaman dan kesan terpilihnya menjadi peserta Danone Blogger Academy di tahun kedua. Mungkin, akan saya bahas nanti dikemudian hari. Ada hal yang lebih membuat jari jemari saya terasa gatal mau menuliskan hal ini sejak lama.

Ya, pastinya saya ingin memberikan ulasan mengenai materi Ibu Rosarita melalui tulisan ini. Tapi, saya tidak akan langsung to the point pada pembahasan beliau. Saya ingin mengajak pembaca jalan-jalan terlebih dahulu dengan istilah lain selain hoax.

Ya, bila mendengar kata hoax, saya selalu terbesit dengan yang namanya istilah Simulacra. Kata ini pertama kali saya dengar dan dapatkan saat mengikuti mata kuliah di kampus. Lalu, saya pun kembali membaca istilah ini pada sebuah novel karya Dee Lestari yang berjudul Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh. Dan lagi, saya diperjumpakan dengan untaian kata tersebut pada satu tulisan Bernando J. Sujibto yang berjudul Milenialay, Sebuah Tantangan Islam Hibrida.

Pada bacaan terakhir yang saya baca, dijelaskan bahwa simulacra ini merupakan proses menciptakan dari suatu tindakan yang dalam hal tersebut belum tentu orisinil bahkan seperti menciptakan kepalsuan. 

Di kehidupan kita, pada saat saya kuliah dijelaskan kalau simulacra ini biasa dipadankan dengan praktek pembuatan iklan produk. Di mana, pada sebuah iklan berusaha menampilkan barang yang "wah" sehingga menarik simpati penonton untuk membeli. Lalu, setelah membeli apakah akan ekspektasinya sama antara yang ditampilkan di iklan dengan kenyataanya? Tentu tidak sepenuhnya benar. Begitulah simulacra.

Dalam suatu artikel lain, saya menemukan adanya ulasan mengenai hoax dan simulacra yang ditulis oleh seorang kompasianer bernama Hanan Arasy. Hanya saja, pada ulasannya ia tidak hanya membahas simulacra saja. Tetapi, mengerucurtkannya dalam istilah baru bagi saya, yakni Hoax dan Simulacra Media.

Istilah Simulacra Media yang diulas oleh Hanan Arasy ia dapat dari seorang sosiolog ekstrem era 1980 yang bernama Jean Baudrillard. Ia, menggutip salah satu orasi Jean Baudrillard yang berbunyi, "Kita telah berada pada zaman simulasi!" yang mana dijelaskan bahwa saat ini masyarakat telah dikontrol oleh dominasi media.

Dijelaskan kembali, zaman simulai berarti masa di mana kita hidup dalam perkembangan teknologi informasi dan dunia digital yang di dalamnya akan membuat banyak orang harus meraba-raba suatu kebenaran yang nyata dan mungkin semuanya adalah kebohongan.

Pada penjelasan tersebut, bisa dikita bayangkan seksama. Betapa saat ini, akses informasi merajalela di dunia maya dengan mudah masuk atau bahkan dengan mudah ditemukan yang terkadang sulit dibedakan dengan mudah akan kebenarannya. Tak jarang, berita yang didapat tersebut kini diterima dengan mentah-mentah lantaran apa yang disajikan dalam media tersebut "dianggap" sudah terbukti benar.

Ya, bukankah ini menjadi suatu kebenaran kalau saat ini kita berada dalam kontrol media melalui informasi-informasi yang disajikan?! Maka, di sinilah pertualangan kita dimulai. Bagaimana bisa mensiasati hidup di era kebohongan media dari berita hoax ini?

Bertahan dari Gempuran Berita Palsu? Cari Bukti! 

"Berita palsu hanyalah gejala. Penyakit sesungguhnya adalah berkurangnya keinginan mencari bukti, mempertanyakan sesuatu, dan berpikir kritis."

Ya, kutipan di atas boleh saya dapati dari tulisan Farinia Fianto yang berjudul Empati Digital bagi Generasi Millenial. Pada kutipan ini kembali membawa ingatan saya pada materi yang disampaikan oleh Ibu Rosarita Niken yang menjelaskan ciri-ciri berita hoax.

Ibu Rosarita Niken, Dirjen Kemenkominfo
Ibu Rosarita Niken, Dirjen Kemenkominfo
Pada dasarnya, berita hoax bisa dikenali dengan mudah. Karena, beberapa pola yang dimainkan oleh si pembuat dilakukan dengan skema yang sama. Lantas, sudahkah kita jeli melihat ini semua? Rasa ingin mencari bukti, mempertanyakan sesuatu dan berpikir rasanya menjadi langkah yang tepat sekali untuk bisa bertahan dari gempuran berita palsu.

Dijelaskan, kalau ciri-ciri berita hoax memiliki 11 tanda yang bisa dikenali:

1. Menciptakan kecemasa, kebencian, permusuhan dan lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3