Mohon tunggu...
Nuris EkaWidi
Nuris EkaWidi Mohon Tunggu... Wiraswasta - Yakusa

Komunikasi Public Relation Humas Jr

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hitam Putih Kongres XXXI HMI, Optimisme Gerakan bersama LEPPAMI

25 Maret 2021   14:40 Diperbarui: 25 Maret 2021   14:47 150 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hitam Putih Kongres XXXI HMI, Optimisme Gerakan bersama LEPPAMI
Dok Leppami

      Surabaya, representasi pergulatan kekuatan "suro dan boyo" ( hiu dan buaya) menggambarkan bagaimana kekuatan gagasan dan ketajaman analisa dalam menyikapi berbagai fenomena baik kebangsaan maupun keumatan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang sedang melaksanakan kongres ke 31 di kota pahlawan Surabaya Jawa Timur. Aksen pengabdian di berbagai bidang lahan garapan menjadi hal yang nyata di buktikan oleh berbagai alumni HMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam KAHMI) sederet prestasi tersebut di maknai sebagai dukungan terhadap pembangunan bangsa yang harus berlanjut, kader HMI tidak boleh tertidurkan oleh kejayaan masa lalu, harus mengikuti relefansi jaman yang terus berkembang (Presiden Joko Widodo ) pada pembukaan kongres XXXI pertengahan bulan maret 2021.

Kongres yang di warnai oleh pergulatan dialektika dengan tidak jarang menggunakan kekerasan merupakan sebuah keniscayaan dan kekhasan di HMI, dengan mengilhami semangat bertukar gagasan, landasan demi kemaslahatan umat dan bangsa melalui jalan himpunan seolah terma'fu menjadi sebuah dokma menarik di organisasi intelektual ini. Hal ini juga terjadi di kongres XXXI, kongres yang di warnai oleh berbagai umpatan, teriakan, makian dan bahkan lemparan, yang di akibatkan oleh ketidak sepemahaman lintas peserta maupun pimpinan sidang seolah membuat kerancuan di forum, bangku, kaca bangunan, dinding, dan juga pintu menjadi sasaran penganiyayaan, Begitulah realitas kondisi himpuanan pada kongres kali ini.

Teori konspirasi menjadi sebuah pilihan kambing hitam utama dalam berbagai perselisihan di himpunan, mulai dari seting forum, aksi forum, pengkeosan forum, poros koalisi, barisan gerbong, serta berbagai hal yang menjadi sebuah takline narasi pasti ketika himpunan ini bermusyawarah mufakat, namun mereka semua banyak yang tidak mengetahui pasti dan bahkan kesukitan mengatakan dan membuktikan berbagai teori konspirasi tersebut, narasi yang terus di ungkit tidak jarang menjadi jual beli dalam berbagai forum konsolidasi, untuk mendapatkan perhatian, dan tidak jatang juga bernilai cuan, atau penghidupan. Tidak ada sebuah hal yang istimewa di antara aktifitas bersosial yang demikian, karena memang di antara manusia individu, yang bersosial pastilah memiliki gagasan yang berbeda dan mereka bersama berdinamika serta bersosial untuk menemukan titik temu perjuangan.

Mengungkit dari pada polarisasi gagasan serta dinamika yang terjadi, hal itu di maknai sebagai sebuah kedalaman dalam berfikir dan berdinamika untuk tetap merawat nalar, intelektual, serta kewaspadaan diri untuk memberikan supporting terbaik bagi umat dan bangsa. HMI merupakan sebuah organisasi yang besar dan juga tergolong tua bagi bangsa di era modern ini, dengan adanya eksistensi di berbagai lintas kepemimpinan dan zaman menjadi bukti problemarikan di HMI adalah sebuah jamu pahit yang insa allah akan menyehatkan, karena dalam setiap tantangan zaman membutuhkan racikan kepemipinanya sendiri untuk tetap berada pada sebuah rul roda perjuangan.

Mencoba menalar dan menakar dari pada pemahaman serta implementasi teori politik dan kekuasaan menurut filsuf Niccolo Machiavelli pada era renaisans dengan fenomena Keos konggres XXXI HMI. Kedewasaan, kematangan berfikir dan bersikap HMI sebenarnya cukup di perhitungkan dari berbagai kalangan, fenomenologi keos merupakan sebuah tafsir ganda dalam pemahaman sosial, di Indonesia cenderung bersifat destruktif, namun lebih dalam dari pada itu sebagai kader HMI saya melihat itu sebagai upaya yang cukup progresif sebagai sebuah proses untuk mempertahankan gagasan dan nalar kritis, dengan berorientasi pada tujuan akhir, proses yang di lalui mencoba untuk di telaah dalam berbagai fenomenologi persepsi sehingga mengungkit reorientasi tujuan menjadi sebuah kemutlakan, kekurangan dalam sebuah pencapaian tujuan adalah sebuah kegagalan sehingga berbagai cara menjadi suatu yang sah di laksanakan demi kesempurnaan tujuan, baik dari individu maupun kelompok.

Demikian kiranya Niccolo Machiavelli mengilhami dari beberapa pemerintahan di eropa pada masa itu untuk mendapatkan ataupun memepertahankan kekuasaan malalui seni berpolitik. Hal ini yang nampak dari pada kader HMI terlebih khusus pada saat berkongres untuk mengusung kandidat calon ketua umum serta untuk mengusung gagasan perjuanganya.

Dalam Ilmu Komunikasi politik juga di kenal dengan istilah teori dramaturgi, Dengan pembukaan Kongres HMI XXXI pada tanggal 17 Maret 2021 dengan di warnai stagnasi pleno yang baru di buka sidang pleno tanggal 22/23, serta berbagai aksi heroik sebagai pra acaranya mulai dari demonstrasi, kericuhan keributan, aksi ribuan rombongan liar, menjadi sebuah hal yang biasa dengan di buktikan tanggal 25 sudah terpilih kandidat yang cukup siknifikan, dengan selisih mencapai lebih dari 40% jumlah suara terbanyak. Hal ini menjadi bukti bahwasanya Kongres HMI berjalan dengan baik dan wajar, ada sebuah panggung depan dan panggung belakang yang di pertunjukkan sebagai bagian dari proses perkaderan di dalam berbagai kegiatan HMI termasuk Konggres. Inilah kolaborasi Maciavelis dengan dramaturgis sebagai sebuah gaya perkaderan ala HMI Conection

Lembaga Pengembangan Profesi (LPP) di HMI adalah sebuah lembaga yang bukan hanya mewadahi minat dan bakat kader HMI melainkan di sana juga di lahirkan pilar semangat dan penyangga himpunan, melalui poros alternatif LPP, kader HMI dapat memilih dan mengembangkan diri dengan konsentrasi yang sesuai keinginan, potensi, serta minat dari pada individu kader. Poros alternatif inilah yang menjadi pengurai dari pada  sebuah tensi destruptif pergulatan gagasan di struktural HMI, LPP menjadi sumber inspirask baru dalam berhimpun dan berkarya.

Lembaga Pariwisata dan Pecinta Alam  Mahasiswa Islam (LEPPAMI) yang merupakan salah satu lembaga alternatif bagi kader untuk mengembangkan potensinya, sekaligus untuk merelaksasi tensi birokrat di tubuh strukrural HMI yang terkesan tegas dan kaku pada idiologi serta gagasan kususnya di saat momentum kongres seperti ini. Dengan mengusung semangat kepecinta alaman, serta kepariwisataan LEPPAMI menawarkan  sebuah tensi santai tapi serius, dengan pemahaman terhadap alam yang susah di ajak negosiasi serta terhadap kepariwisataan yang menawarkan refres penyegaran fikiran di LEPPAMI menjadi poros alternatif pilihan kader HMI.

Di tengah tensi panasnya Kongres XXXI Surabaya, LEPPAMI melalui kader daerahnya terus memberikan kontribusi nyata bagi perkaderan, alam, dan kepariwisataan, kaderisasi ke 5 di cabang Ciputat, kaderisasi ke 4 cabang Malang, bersih gunung bismo oleh leppami cabang Semarang, konsolidasi kepariwisataan oleh leppami cabang Blitar menjadi bukti nyata pengabdian LEPPAMI untuk kader, himpunan, alam umat serta bangsa di tengah panasnya suasana kongres XXXI pada saat pandemi 2021.

Membangun kebersamaan keakrapan serta kekeluargaan yang lebih intim melalui jalur kaderisasi LEPPAMI (Pendidikan dan pelatihan khusus DIKLATSUS) dengan pembinaan etika, sikap, serta kebersamaan di alam, menjadikan poros alternatif kader HMI  untuk berhimpun. Gunung, laut, hutan, goa, menjadi bagian kenikmatan yang perlu di nikmati dan di ilhami keberadaanya, perlindungan terhadap budaya baik candi, adat, artefak menjadi hal yang perlu di perhatikan dan di lestariakan termasuk dengan penyadaran dan pengembangan sumberdaya manusia untuk menyeimbangkan kelestarian alam, sosial ekonomi serta budaya agar dapat berjalan beriringan dan tetap lestari. Inilah ruang lingkup LEPPAMI bagi kader HMI, umat dan bangsa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x