Mohon tunggu...
Nur Hidayati
Nur Hidayati Mohon Tunggu... guru

Menulis untuk berbagi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sebaris Doa di Hari Sumpah Pemuda

28 Oktober 2020   06:04 Diperbarui: 28 Oktober 2020   06:22 97 6 0 Mohon Tunggu...

Hari ini, setahun yang lalu...

Ada yang berbeda pada kegiatan upacara bendera Senin ini, dibandingkan hari Senin biasanya. Semua petugas upacara berpakaian tradisional. Mulai dari pemimpin pasukan, pemimpin upacara, pengibar bendera, perwira upacara, sampai pembina upacara, semua mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Nusantara, layaknya gambar-gambar pada buku sejarah tentang Bhineka Tunggal Ika. 

Ya, upacara bendera kali ini memang berbeda, karena selain upacara rutin hari Senin, hari ini juga diperingati Hari Sumpah Pemuda. Meskipun tanggal 28 Oktober sudah lewat sehari, karena bertepatan hari Minggu. Jadi upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda dilaksanakan hari Senin.

Semua petugas upacara kali ini berasal dari unsur siswa, murni. Bahkan pembina upacara juga siswa. Memang, di sekolah kami, ada pembelajaran secara bergiliran bahwa pada saat-saat tertentu, yang menjadi pembina upacara adalah siswa. Hal ini dimaksudkan untuk melatih keberanian siswa untuk berbicara di depan umum. 

Selain itu, peserta upacara diharapkan lebih bisa menerima persuasi yang disampaikan oleh teman sebaya mereka. Dengan demikian, isi amanat pembina upacara akan lebih mengena, lebih tepat sasaran.

Ada perasaan haru yang menyeruak, ketika seluruh petugas upacara membentuk formasi tertentu di depan seluruh peserta upacara untuk membacakan teks sumpah pemuda. Dengan tegas mereka mengulang ikrar pemuda Indonesia sembilan puluh dua tahun silam.

Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami, putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami, putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Mendengarkan ikrar yang mereka ucapkan dengan tulus namun tegas, mampu membawa perasaan ke masa silam, ke masa sembilan puluh dua tahun yang lalu. 

Sekelompok pemuda berhasil merangkul seluruh pemuda dari berbagai daerah, dengan suku bangsa dan Bahasa yang berbeda. Sekelompok pemuda yang mampu mengubah Indonesia, bahkan mampu mengubah pandangan dunia terhadap Indonesia. Meskipun hanya terbaca melalui pelajaran sejarah, namun perinstiwa tersebut nyata adanya.

Tanpa terasa, ada tetes air mata yang mengalir karena perasaan bangga. Bangga karena masih banyak siswa yang memiliki dedikasi tinggi untuk membangun bangsa ini dengan berbagai kegiatan positif. 

Sementara di luar sana banyak sekali remaja yang dengan berbagai alasan, justru mengabiskan waktu mereka untuk hal-hal yang sama sekali jauh dari kata bermanfaat. Ada yang berdalih karena broken home, ada yang mengatakan terlanjur terjerumus, dan masih banyak lagi  alasan mereka, sehingga mereka harus hidup di jalanan yang rawan akan perilaku negatif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x