Mohon tunggu...
Nur FitriaOctaviani
Nur FitriaOctaviani Mohon Tunggu... Mahasiswa - Universitas Negeri Semarang

-

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Kurikulum Merdeka, Apanya yang Merdeka?

6 Oktober 2023   11:58 Diperbarui: 6 Oktober 2023   12:07 328
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Oleh Nur Fitria Octaviani, Dr. Eka Titi Andaryani, S.Pd., M.Pd.

Kurikulum 2013 berfokus pada pengembangan antara sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik serta dapat menerapkannya dalam berbagai situasi, seperti sekolah dan masyarakat. Pengembangan kurikulum 2013 dipusatkan pada pembentukan karakter dan kompetensi peserta didik, berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat dipresentasikan peserta didik sebagai bentuk pemahaman terhadap hal-hal yang dipelajari secara kontekstual. Karena berkaitan dengan arah dan tujuan pendidikan, pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik, serta penataan pengalaman, perubahan dan pengembangan kurikulum memerlukan perhatian baik dari pemerintah maupun tenaga kependidikan. Pemerintah dan tenaga pendidik perlu memperhatikan perubahan dan pengembangan kurikulum, karena menyangkut arah dan tujuan pendidikan, pengetahuan belajar yang didapatkan peserta didik dan pengorganisasian pengalaman.

Keputusan pemerintah untuk beralih dari kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka dilakukan dalam rangka pemulihan pendidikan dimasa wabah Covid-19 di Indonesia. Kurikulum merdeka menggunakan pembelajaran paradigma baru, karena didasarkan pada proses pembelajaran berdiferensiasi sehingga disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan siswa. Kurikulum merdeka memiliki karakteristik sesuai dengan profil pelajar Pancasila pembelajaran yang dirancang berbasis projek, untuk membangun soft skills dan karakter peserta didik. Kurikulum merdeka menekankan pada materi esensial sehingga tersedia waktu yang cukup untuk pembelajaran kompetensi dasar, seperti literasi dan numerasi. Fleksibiltas dalam melakukan pembelajaran bagi guru, sehingga menyesuaikan konteks dan muatan lokal dengan kemampuan peserta didik.

Adanya kurikulum merdeka yang terfokus pada kebutuhan peserta didik, memberikan harapan sehingga dapat meningkatkan kembali kompetensi-kompetensi belajar pada lembaga pendidikan. Implementasi kurikulum merdeka berfungsi menjadi landasan pembelajaran yang menumbuhkan pengembangan kompetensi pedagogik, sosial, dan sifat guru. Adanya kurikulum merdeka juga menjadi harapan untuk mengatasi permasalahan dalam kegiatan pembelajaran. Perombakan kurikulum diharapkan dapat menjadi harapan untuk sekolah yang aman, inklusif, dan menyenangkan. Selain itu, pelaksanaan kurikulum merdeka dalam kegiatan pembelajaran dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap pembelajaran. Konsep-konsep tersebut merupakan komitmen serta tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat sesuai dengan kebutuhan, minat, serta aspirasi.

Salah satu bagian yang tidak terlepaskan dari implementasi Kurikulum Merdeka yaitu adanya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Dimana P5 ini merupakan suatu upaya yang dapat dilakukan untuk menciptakan Pelajar Pancasila yang dapat bertindak sesuai dengan nilai-nilai dalam Pancasila, meliputi beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, keberagaman global, mandiri, gotong royong, berpikir kritis, dan inovatif. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila merupakan kegiatan belajar berbasis projek. Adanya kegiatan tersebut, sekolah dapat menyiapkan subjek tertentu yang dapat ditentukan oleh kemampuan sekolah sendiri. Proyek profil pelajar Pancasila dapat dilakukan melalui kegiatan pembiasaan maupun berbasis praktik menerapkan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Penerapan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila diharapkan dapat sesuai dengan rancangan pembelajaran kurikulum merdeka, yaitu untuk penguatan karakter siswa sesuai dengan profil pelajar Pancasila tersebut.

Selain itu juga, kurikulum merdeka dikembangkan menggunakan kerangka asesmen formatif awal. Implementasi asesmen formatif awal dilakukan guru diawal kegiatan belajar untuk mengukur kompetensi dan mengawasi perkembangan belajar siswa melalui aspek kognitif maupun non-kognitif. Hasil asesmen tersebut akan digunakan oleh guru untuk memetakan kebutuhan belajar siswa. Kemudian, guru dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dan kondisi siswa  Asesmen formatif awal terdiri dari asesmen formatif awal kognitif dan non-kognitif.

Asesmen formatif awal kognitif digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa dan ketercapaian pembelajaran siswa. Materi ini merupakan prasyarat dan pemahaman awal pada sebuah tujuan pembelajaran. Tahapan pelaksanaan asesmen kognitif ini berupa persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Asesmen formatif awal kognitif hendaknya dilaksanakan secara berkala, yaitu sebelum dan sesudah pembelajaran. Guru dapat melakukan asesmen formatif awal kognitif dalam bentuk ujian atau biasa disebut dengan asesmen sumatif dipertengahan atau akhir semester.

Asesmen formatif awal non-kognitif digunakan untuk menginput aspek psikologis siswa dan keadaan emosional siswa. Contoh dari asesmen ini bisa berupa latar belakang, minat, hobi, gaya belajar dan yang lainnya. Cara melaksanakann asesmen formatif awal non-kognitif dapat dilakukan melalui tes ujian, observasi, dan wawancara perseorangan. Asesmen formatif awal non-kognitif memiliki tujuan penting, yaitu guru dapat mengetahui bagaimana siswa di dalam kelasnya mengelola emosi dan interasi sosial, dimana hal itu biasanya berpengaruh pada kesejahteraan emosional dan sosial siswa di sekolah. Bagi siswa, asesmen formatif awal non-kognitif bisa untuk menunjang kemampuan sosial dan emosional sehingga siswa dapat mengendalikan masalah-masalah yang akan dihadapinya.

Implementasi kurikulum merdeka, terbuka bagi seluruh jenjang pendidikan, yaitu PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, Pendidikan Khusus dan Kesetaraan. Kurikulum ini diharapkan bisa memberi solusi atas permasalahan pembelajaran yang ada di Indonesia dan meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun