Andi Nur Fitri
Andi Nur Fitri

Ibu dua orang anak, bekerja di sekretariat Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia Komisariat Wilayah VI (APEKSI Komwil VI)

Selanjutnya

Tutup

Sosial

Transaksi

17 Mei 2018   08:38 Diperbarui: 17 Mei 2018   08:42 196 1 0

14 Mei 2018, tepat H plus 1 tragedi Bom 3 Gereja di Surabaya, saya pun berangkat menuju kota pahlawan tersebut. Paginya saya masih menyempatkan diri ke kantor, membereskan bengkalai pekerjaan yang dikejar tenggat waktu. T

iba di kantor, saya tetap memantau keadaan melalui televisi. Ternyata pukul 8.50 WIB, meledak lagi satu bom depan pintu Mapolrestabes Surabaya. Nyali ku cenat-cenut, kata SMASH...jiaaaaah...Siang setelah adzan dhuhur saya pun memesan taxi online yang akan membawa saya menuju Bandara Sultan Hasanuddin untuk segera bertolak ke Surabaya. 

Sebelum berangkat, perlahan kulafalkan doa, memohon kekuatan jiwa dan raga, kemudahan, serta yang penting mungkin adalah keselamatan perjalananku kali ini. Ada yang berbeda memang. Ramainya pemberitaan korban pemboman sejak semalam dan viral text pengutukan, analisis ataupun klarifikasi tentang tindakan terorisme membuat ku sedikit lebih waspada dibanding perjalanan lain yang tak disertai peristiwa mengerikan seperti kali ini. 

Pukul 16.15 WIB pesawat yang membawaku ke Surabaya mendarat sempurna di bandara Juanda. Keadaan nampak biasa dari luar gedung terminal. Namun begitu bertemu dengan Driver yang akan mengantarku ke hotel, pertanyaan pertama yang saya ajukan adalah: " aman kah situasi mas?" dan dengan rasa takut yang terlihat dari wajahnya ia menjawab: " saya juga takut mbak, karena ada beberapa titik yang menjadi target pemboman, tapi in syaa Allah kita aman" jawabnya dengan dialek Jawa Timur yang khas. 

Naik di mobil, sang Driver juga tampak ketakutan, tetapi meyakinkan bahwa jalur yang kami lalui semoga aman. Tiba di hotel Ciputra World Surabaya, mekanisme pengamanan semakin ketat. 

Setiap mobil yang akan masuk diperiksa dan digeledah bagasinya. Tak cukup dengan metal detector, semua kaca harus diturunkan. Setiap tas yang dicurigai dibuka dan diperiksa sebelum memasuki loby hotel.

Surabaya memang tak tampak terlalu mencekam, namun jalanan yang sepi cukup menjadi indikator kekhawatiran masyarakat. Tragedi pemboman sejak semalam memang mengerikan, namun tak kunjung menghentikan langkahku untuk membatalkan perjalanan, sebab keesokan paginya, 15 Mei 2018 saya bertugas memimpin FGD yg menyoal pencapaian SDGs dan Multistakeholder Partnership di Indonesia. 

Bertempat di hotel Ciputra World Surabaya, kegiatan ini terlaksana melalui kerjasama berbagai pihak yaitu United City and Local Government Asia Pacifik (UCLG ASPAC), Bappenas, APEKSI, GIZ yg didukung oleh Uni Eropa. Memasuki kamar yang telah disediakan dan sedikit beres-beres, kelelahan akhirnya terasa. 

Ngantuk tapi tak bisa langsung lelap. Terus terang di benak ku masih bergelayut tentang peristiwa pemboman yang katanya masih ada di beberapa titik. 

Salah satu titik dalam sebuah pesan media sosial yang viral adalah jalan Mayjen Sungkono...dan ah! Hotel ini berada di jalan Mayjen Sungkono dan berada dalam satu kawasan dengan Mall Ciputra...oh My God...mataku semakin tak bisa tertutup. 

Kutengok jam di samping tempat tidur yang menunjukkan pukul 1 malam..perasaanku masih kacau dan akhirnya....saya terbangun ketika alarm di HPku menunjukkan pukul 4 subuh. 

Saya segera bangkit dan mengucapkan doa bangun tidur. Segera kupakai mukena dan shalat lail meskipun tidak lagi sempurna karena keburu azan subuh.

Hari ini 15 Mei 2018, kegiatan berjalan sempurna meskipun pada saat ibu Tri Risma Harini menyampaikan sambutan, handy talkienya sempat memberikan sinyal. 

Saya sempat kaget, begitu pun dengan beberapa peserta yang berada dalam ruangan. Rupanya patroli keamanan masih terus update dengan ibu walikota hingga di hari ini. 

Pukul 15.30 WIB, sesi yang kupandu selesai. Sambil pamit kepada beberapa panitia dan teman-teman yang masih akan lanjut hingga esok. Akhirnya saya pun duduk di atas pesawat yang akan membawaku kembali ke Makassar. Pikiranku masih melayang pada beberapa orang yang tega melakukan pengeboman, yang mereka pikir akan mendapatkan mati Syahid. 

Entahlah....jujur saja, sebelum bertolak ke Surabaya pun saya sempat mikir, jika memang ajalku di kota Surabaya karena kasus pemboman, maka mungkin saja Allah akan memberiku predikat mati Syahid. Sederhana, karena sayapun sedang menjalan kan tugas negara...ciye ciye....Namun pikiran itu kubuang jauh. 

Mati syahid ataupun tidak biarlah menjadi prerogatif Tuhan. Karena saya tidak sedang dan tidak hendak berTRANSAKSI dengaMU ya Allah. Tuhan pemilik kehidupan dan kematian. Syukran Ya Rabbi.

 Catatan Hati di atas pesawat GA 367, 15 Mei 2018.