Nurcahyo AJ
Nurcahyo AJ

Pembaca setia kompas

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Anak Ingusan yang Akan Mengubah Dunia

27 September 2016   21:54 Diperbarui: 29 September 2016   12:13 41346 24 35
Anak Ingusan yang Akan Mengubah Dunia
Ilustrasi: Tribunnews.com

Beberapa hari yang lalu saya membaca berita bahwa pengamat politik dari LIPI, Ikrar Nusa Bhakti (selanjutnya disebut INB) mengatakan bahwa Agus Harimurti Yudhoyono (selanjutnya disebut AHY) belum pantas memimpin DKI karena dinilai masih minim pengalaman dan hanya berpangkat mayor. Di berita itu pula tercetus sebuah istilah AHY adalah “anak ingusan” yang tidak bisa dijadikan panutan. 

Karena saya tidak menemukan video, rekaman suara ketika wawancara atau rilis resmi dari media sosial beliau, saya tidak tau apakah kata-kata itu benar dikatakan INB atau hanya salah kutip. Kalaupun benar perkataan beliau seperti itu, sungguh sangat disesalkan keluar dari seorang peneliti senior di LIPI. Kata-katanya terlihat emosional dan kurang menghargai kapasitas, kapabilitas dan atau institusi dimana AHY dibesarkan.

Saya mencoba berpikir keras, apa yang dimaksud dengan kata kata INB dan berusaha melihat dengan jernih bagaimana sejarah ditulis, lalu saya mulai melakukan kontemplasi dan melakukan perjalanan waktu dari masa ke masa. Hal PERTAMA yang muncul dalam benak saya adalah ketika di masa sekolah dulu, setiap tanggal 28 Oktober- di Hari Sumpah Pemuda selalu saja kita di-cekoki kisah-kisah heroik tentang peran pemuda dalam kemerdekaan RI, tanggal tersebut menjadi sakral karena pada tanggal yang sama di tahun 1928 dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya Republik Indonesia.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana definisi pemuda itu sendiri. Secara kuantitatif, UU No.40/2009 tentang Kepemudaan menyebutkan secara tersurat batas usia pemuda itu 16-30 tahun. Jika merujuk kepada UNESCO malah jauh lebih muda lagi yakni berumur 15-24 tahun. Sedangkan jika secara kualitatif, antara kita dengan UNESCO bisa dikatakan sejalan karena keduanya memakai frase “periode penting pertumbuhan”. Bisa dipastikan disini bahwa AHY yang kelahiran tahun 1978, sudah tidak bisa dikategorikan lagi sebagai Pemuda, apalagi anak. Pun AHY sudah menikah dan bahkan mempunyai anak.

Saya berprasangka baik saja kepada INB, masakah beliau sebagai peneliti senior tidak mengerti definisi antara anak, remaja, dewasa, orang tua dan lanjut usia. “anak ingusan” disini pastilah sebuah gaya bahasa (majas), yang bisa diartikan sebagai kurangnya pengalaman. Tapi majas yang disampaikan karena lebih bernada negatif tidak bisa disebut sebagai sebuah metafora melainkan sarkasme. kata “anak ingusan” mungkin bisa diartikan sama dengan “anak kemarin sore” atau “anak bau kencur”. (karena saya pun bukan ahli bahasa, mohon dikoreksi bila saya salah).

Dari majas inilah saya berpikir tentang hal KEDUA, jika AHY tidak pantas menjadi Gubernur karena dianggap kurangnya pengalaman, lantas pengalaman seperti apa yang dimaksud oleh INB?

Apakah itu berarti kurang pengalaman dalam Pemerintahan? atau karena relatif berusia muda? kalau itu yang dimaksud, kebetulan sekali AHY menggandeng senior yang bernama Sylviana Murni yang sudah banyak makan asam garam di pemerintahan, utamanya DKI Jakarta. Tentunya dengan pasangan yang mumpuni seperti itu, AHY akan mendapat banyak masukan tentang bagaimana mengelola Jakarta dan sejuta permasalahannya.

Dan jangan lupakan pula, bahwa AHY adalah seorang fast learner, yang bisa diartikan pula seseorang dengan kemampuan adaptasi tinggi terhadap lingkungan dimana dia berada, ini dibuktikan dengan selalu diraihnya prestasi tertinggi di setiap bidang yang ia tekuni. Bukan tidak mungkin ketika takdir memutuskan AHY menjadi Gubernur, dibawah Komando AHY-lah DKI Jakarta yang dia pimpin menjelma menjadi Ibukota Negara dengan segudang prestasi dan sarat inovasi, gemilang di se-antero Indonesia bahkan mengkilap di dunia.

Kalau AHY dikritik karena dianggap muda dan kurang berpengalaman dalam Pemerintahan, berapa banyak Kepala Daerah yang menjabat saat ini, dahulunya pun tidak punya pengalaman dalam pemerintahan. Sebut saja nama-nama kesohor berikut, Gubernur Jawa Tengah- Ganjar Pranowo (PDI Perjuangan), Walikota Bandung- Ridwan Kamil, Walikota Bogor- Bima Arya (PAN), Walikota Surakarta- Joko Widodo (PDI Perjuangan-kemudian Gubernur DKI, sekarang Presiden RI).

Jika kita bicara muda, Partai Demokrat besutan SBY ini memang sepertinya banyak memberi ruang kepada generasi muda untuk memimpin daerah, contohnya Gubernur NTB- M. Zainul Majdi/Tuan Guru Bajang, seorang Hafiz (Penghafal) Al-Qur’an yang pernah dinobatkan oleh MURI sebagai Gubernur Termuda, dilantik menjadi Gubernur ketika berusia 36 Tahun. Rekornya di kalahkan oleh rekan satu partainya, Gubernur Lampung- M. Ridho Ficardo (33 Tahun).

Selain dari Partai Demokrat, Kepala daerah berusia relatif muda adalah Gubernur Jambi- Zumi Zola (PAN- 36 Tahun), Bupati Tanah Bumbu- Mardani Maming (PDI Perjuangan- 29 Tahun), Walikota Tanjung Balai M. Syahrial (26 Tahun), Wakil Bupati Trenggalek- M. Nur Arifin (PKB- 25 tahun), Bupati Lebak- Iti Octavia Jayabaya (Demokrat- 36 tahun), Walikota Tangerang Selatan- Airin Rachmi Diany (Golkar- 35 Tahun), dan lain lain dengan beragam latar belakang dan profesi.

Kembali lagi, jika memang muda dan tidak berpengalaman itu adalah arti dari “anak ingusan” dan dijadikan parameter kelayakan Kepala Daerah, maka yang saya sebut diatas boleh jadi nama-nama “anak ingusan” yang akan mengubah wajah Indonesia menjadi semakin baik.

Saya kemudian mencoba melihat “anak ingusan” dari luar Indonesia pada masa klasik (baca: lampau) yang mampu mengubah dunia. Luar biasa banyak figurnya, tapi saya ambil beberapa saja seperti contoh diatas, kalau anda mau menambahkan, silahkan tulis di kolom komentar daftar “anak ingusan” lainnya.

Aleksander Agung (Alexander the Great) melancarkan serangan ke Persia pada umur 22 tahun (riwayat lain mengatakan 25 tahun) di akhir hayatnya ia telah membangun imperium lebih besar dari yang pernah ada sebelumnya, 50 kali lipat lebih besar dari luas wilayah Kerajaan warisan ayahnya, Kekaisarannya menyertakan 3 benua (Afrika, Asia dan Eropa).

Hannibal Barca, beberapa orang menobatkannya sebagai “Bapak dari Strategi Perang”. Taktik pertempuran yang membuat pasukan negara adidaya Romawi, kocar kacir-disebutkan membawa pengaruh besar pada Napoleon Bonaparte dan Para Bangsawan Kerajaan Eropa pada abad Renaisans. Hannibal yang merupakan politisi ini diangkat menjadi pemimpin Militer Kerajaan Kartago Kuno pada usia 26 Tahun. Hannibal juga disebut-sebut sebagai salah satu ahli strategi perang terbesar sepanjang sejarah dunia kuno, namanya kerap kali disandingkan dengan Alexander Agung, Julius Caesar, Scipio dari Afrika dan Pyrhos dari Epiros.

Sultan Salahuddin Al Ayyubi, bertahta pada usia 37 tahun dan menaklukkan Yerussalem. Tanpanya mungkin umat islam sudah kehilangan salah satu tanah suci, negeri para nabi. Lawannya adalah Raja Richard I dari Inggris (Richard the Lionheart) bertempur dengan gagah berani pada usia 32 tahun. Meskipun pada akhirnya Richard kalah dari Salahuddin, tapi Richard dikisahkan pernah memukul mundur pasukan Salahuddin, ada rasa saling kagum dan saling menghargai di antara mereka. Hingga kini, keduanya tetap merupakan figur yang sangat dihormati baik dari dunia islam dan maupun kristen.

Sultan Muhammad Al Fatih (Mehmed II) dari Kekhalifahan Turki Usmani (Ottoman Turkish), tenar dengan sebutan Muhammad Sang Penakluk (Mehmed the Conqueror) menaklukan Konstantinopel ketika usianya baru menginjak 21 tahun. Kekhalifahannya termasuk 10 besar kerajaan terluas di dunia dan berdiri lebih dari 600 tahun.

Dari topik “anak ingusan” yang saya sebut diatas, maka saya beralih kepada pemikiran saya yang KETIGA. Saya akan kutip kalimat INB yang ada di berita tersebut, berikut ini kalimatnya,

“Apa warga Jakarta memercayai pengelolaan Jakarta dengan seorang yang masih berpangkat mayor?

“Selama ini gubernur DKI yang berlatar militer selalu berpangkat letnan jenderal. Misalnya, Ali Sadikin, Tjokropranolo, hingga Sutiyoso”

"Di Amerika tidak ada masih berpangkat rendah maju jadi pemimpin. Tidak ada yang berpangkat rendahan. Dalam militer senioritas itu penting”

Karena beliau menyebut Amerika, maka yang akan saya beri contoh atau hubungkan antara militer dan figurnya yang berasal dari Amerika Serikat (AS). Dalam Sistem Kepangkatan Militer pada level Perwira Pertama (Pama), Perwira Menengah (Pamen) sampai Perwira Tinggi (Pati), Indonesia berbagi istilah yang sama dengan AS.

Dan menurut INB, Mayor adalah merupakan “pangkat rendahan”. Saya sekali lagi tidak begitu paham kenapa kalimat seperti ini keluar dari INB, terlihat sekali sangat emosional, sampai INB melupakan beberapa fakta. Karena sepanjang pengetahuan saya, Pangkat Mayor sendiri merupakan golongan Pamen, yang mana jika melewati dua tingkat lagi maka sudah menjadi Pati. Manakah yang bermakna “pangkat rendahan”, Pamen-nya atau Mayor-nya?

Kemudian INB katakan lagi, “di Amerika tidak ada masih berpangkat rendah maju jadi pemimpin”.

Bagaimana mungkin Peneliti Senior kembali melewatkan beberapa fakta lagi?! Karena tentunya, sebagian dari kita langsung ingat dengan Presiden AS / President of the United States (selanjutnya disebut POTUS) yang sangat kita kenal karena kepandaian, kepiawaian dan karismanya dalam dunia perpolitikan AS, karena menjadi pahlawan perang dan orang tersebut masuk dunia politik dengan meninggalkan dinas Ketentaraan pada pangkat Letnan saja. Ya betul.. anda semua langsung ingat bukan?! JFK - John Fitzgerald Kennedy (POTUS ke 35).

Yang mungkin anda tidak tahu adalah selain JFK ada lagi POTUS yang keluar dari militer dan berpangkat “rendah”. Dari golongan Pamen berpangkat KOLONEL; Thomas Jefferson (POTUS ke 3), James Madison (POTUS ke 4), James Monroe (POTUS ke 5), James K. Polk (POTUS ke 11), Theodore Roosevelt (POTUS ke 26), Harry S Truman (POTUS ke 33).

Dari golongan Pamen berpangkat LETNAN KOLONEL; Lyndon B. Johnson (POTUS ke 36), Richard Nixon (POTUS ke 37). Dari golongan Pamen berpangkat MAYOR (pangkat yang sama dengan AHY); William McKinley (POTUS ke 25), Gerald Ford (POTUS ke 38), Milliard Fillmore (POTUS ke 13).

Dari golongan Pama berpangkat KAPTEN; John Tyler (POTUS ke 10), Abraham Lincoln (POTUS ke 16), Ronald Reagan (POTUS ke 40), Jimmy Carter (POTUS ke 39), JFK masuk kategori ini, karena sebutan Letnan di Angkatan Laut AS setara dengan sebutan Kapten di Angkatan Darat AS.

Dari golongan Pama berpangkat LETNAN SATU; George Bush, senior (POTUS ke 41) dan putranya George Bush, junior (POTUS ke 43). Yang terakhir dalam list saya ini, mungkin satu-satunya yang sesuai dengan definisi pangkat rendahan, Presiden dalam sejarah Amerika yang tidak pernah mencapai golongan Perwira dan pangkat tertingginya hanyalah seorang PRAJURIT ! James Buchanan (POTUS ke 15).

Pak INB, sampai hatikah anda mengubur dalam impian-impian kami, pemuda yang ingin golongannya maju ke depan? Saya yakin jawabannya tidak. Maka bergabunglah bersama dalam barisan kami, wahai senior..

Dan rasanya, setelah menulis tiga pemikiran sederhana ini cukup membuat saya sadar, kalimat pak INB menjadi tidak akurat. Namun saya tetap tidak yakin sama sekali kalau berita yang dikutip keluar dari pemikiran/lisan/tulisan INB. Sekali lagi- Kalaupun iya, saya mafhum bahwa kita sebagai manusia pastilah mempunyai banyak kesalahan, tidak ada masalah juga. Pak INB bisa salah, yang mengutip bisa salah, sayapun bisa salah.

Yang saya ingin katakan begini, bukan hanya buat pak INB, tapi buat saya dan yang membaca juga. Saya tidak pernah sama sekali bermasalah dengan Calon Gubernur - Calon Wakil Gubernur lainnya, saya menaruh hormat kepada Pak Ahok dan Pak Djarot. Bahkan sebelum Pak AHY ditetapkan sebagai pasangan Kepala Daerah dengan Bu Sylvi. Sudah lebih dulu saya berikan hati saya kepada pak Ahok. Saya pun memberi kekaguman yang kurang lebih sama kepada Pak Anis Baswedan dan Pak Sandiaga Uno. Saya ikuti betul proses pencalonan Gubernur-Wakil Gubernur oleh Partai Politik. Dan saya akui, Jakarta tempat saya tinggal ini, disuguhi pilihan yang luar biasa membingungkan sekaligus menggembirakan.

NAMUN, pencalonan AHY “merusak” segala apa yang ada di hati dan kepala saya. Dalam pikiran saya sebelumnya- AHY akan menjadi seseorang entah apa 15-20 tahun yang akan datang. Kehadiran AHY mau tidak mau, memaksa saya membongkar ulang dan menimbang kembali, kepada siapa saya jatuhkan pilihan, kepada siapa saya sandarkan nasib ibukota tercinta ini. Tidaklah menjadi malu saya berubah haluan kepada AHY.

Saya tidak akan membahas disini poin-poin yang menjadikan AHY lebih unggul di mata saya dibandingkan dengan pasangan calon yang lain. Saya khawatir analisa saya menyinggung perasaan para pendukung pasangan calon yang lain, karena saya pun pasti akan merasa sakit apabila ada yang menjelekkan pasangan calon yang saya unggulkan. Masalah hitungan, kembalilah kepada data yang anda punya masing-masing.

Tapi coba kita bayangkan..

Bagaimana jika- AHY menempatkan Jakarta sebagai prioritas dalam hidupnya, sama halnya dengan pendidikan dan pengalamannya yang selalu diperjuangkan untuk dijadikannya nomor satu?

Bagaimana jika- AHY menjadi sosok muda dari Indonesia yang dapat kita banggakan, mengalahkan semua tokoh klasik masa silam yang sudah saya tulis diatas?

Bagaimana jika- kita percayakan Jakarta untuk AHY, sebagaimana bangsa-bangsa besar mempercayakan negaranya kepada anak muda dan dikibarkannya tinggi-tinggi panji kehormatan kita?

Bagaimana jika- AHY yang ada saat ini, adalah peluang kita satu-satunya yang diberikan Tuhan sekarang, untuk kita melihat Indonesia (Jakarta pada khususnya) lebih hebat dari yang pernah ada? Menjadi Ibukota negara paling luar biasa di dunia?

Kalau jawaban semua pertanyaan saya diatas adalah IYA, maka selayaknya-lah AHY bukan hanya menjadi milik Partai-partai yang mendukungnya. Jadikanlah AHY menjadi bagian dari kebanggaan kita. Apapun partai anda, apapun suku anda, apapun agama anda, apapun komunitas anda, pada waktunya nanti, jadikanlah Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Gubernur Kebanggaan kita bersama. (NAJ).

Jakarta, 27 September 2016

==========

Ikrar Nusa Bhakti: Tentara Ingusan Kok Mau Memimpin DKI