Lingkungan Artikel Utama

Bekerja dan Belajar dari Panen Cengkeh

3 Agustus 2018   22:19 Diperbarui: 4 Agustus 2018   05:10 762 5 4
Bekerja dan Belajar dari Panen Cengkeh
Biji cengkeh yang siap panen. Foto diambil dari atas tangga (dokumentasi pribadi)

Sudah beberapa minggu ini saya fokus ke kebun milik paman saya untuk memanen cengkeh. Bulan juli tahun 2018 ini, cengkehnya sudah banyak yang siap panen, sehingga sudah harus dipanen. Jika bunga cengkehnya sudah mekar dan rata berwarna merah, maka pada saat ditimbang beratnya akan berkurang dan aromanya juga berkurang.

Cengkeh yang saya petik, bijinya dalam kondisi yang bagus karena belum banyak yang mekar. Tentu hasilnya jika dikeringkan akan bagus. Dengan pertimbangan agar panen cengkeh musim ini di kebun paman saya bisa selesai dengan cepat, maka saya memutuskan untuk mengisi liburan saya di kebun cengkeh.

Panen kali ini bisa dikatakan baik, karena rata-rata pohon cengkeh di kebun tersebut mengeluarkan bunga. Berbeda dengan musim panen tahun sebelumnya yang memang hasilnya menurun drastis. Kondisi tahun lalu disebabkan oleh cuaca yang tidak menentu. Curah hujan yang tinggi sehingga tanaman cengkeh mengandung terlalu banyak kadar air.

Akan tetapi, pada musim ini, cengkeh kembali normal. Dari yang saya lihat di Bantaeng dan bertanya kepada kawan-kawan yang memiliki kebun cengkeh, katanya musim ini cengkehnya berbuah dengan baik. Dan puncak panen diperkirakan jatuh pada bulan Agustus 2018 mendatang. Namun dari bulan Juni sudah mulai ada yang panen.

Dalam memanen cengkeh, terkadang memerlukan waktu hingga berbulan bulan. Dalam satu kebun, terkadang dipanen hingga satu bulan, tergantung berapa banyak cengkeh yang ditanam dalam kebun tersebut. Selain itu, kondisi buah cengkeh yang setiap pohon berbeda beda, ada yang sudah siap panen, sementara di pohon yang lain belum siap panen. Kondisi buah yang tidak bersamaan dengan pohon yang lain membuat petani cengkeh terkadang harus menunggu. Hal inilah yang juga membuat jangka waktu memanen cengkeh menjadi begitu panjang.

Pada saat pertama kali saya memetik cengkeh, cuaca sangat tidak bersahabat. Hujan selalu melanda hingga siang hari. Kadang juga hujannya turun di sore hari. Kondisi yang demikian tentu saja menghambat saya dalam memetik cengkeh. Karena saya harus istirahat jika turun hujan.

Foto diambil di atas pohon cengkeh, pada saat mulai mendung. (dokumentasi pribadi)
Foto diambil di atas pohon cengkeh, pada saat mulai mendung. (dokumentasi pribadi)
akan tetapi, dalam beberapa hari selanjutnya, cuaca mulai membaik. Hujan tidak lagi mengguyur hingga berhari-hari. Dimulai sejak minggu pertama bulan Juli 2018, hujan sudah tidak lagi menjadi penghalang untuk memanen. Jadilah saya bisa menikmati suasana di atas pohon cengkeh.

Dengan cuaca yang baik, saya bisa memetik cengkeh dengan jumlah yang lumayan banyak, 40-50 liter dalam sehari. Ini ukuran "banyak" versi saya sendiri. Bisa jadi orang lain menganggapnya sedikit. Terutama bagi buruh petik yang sudah senior, yang mampu memetik hingga 100 liter bahkan lebih setiap harinya.

Lima puluh liter dalam sehari, bagi saya membutuhkan tenaga ekstra. Untuk mencapai target tersebut saya harus mengurangi istirahat. Terkadang hanya turun dari tangga untuk memasukkan ke dalam karung buah cengkeh yang saya petik, kemudian memanjat kembali. Paling tidak istirahat makan siang, istirahat sejenak, kemudian lanjut. Urusan merokok, saya lakukan di atas pohon.

Hasil petikan juga sangat dipengaruhi oleh kondisi cengkeh itu sendiri. Kalau dalam satu pohon berbuah penuh, maka cengkeh yang dipetik dalam sehari akan lebih banyak. Sedangkan jika buah cengkeh dalam satu pohon kurang, maka akan mempengaruhi banyaknya cengkeh yang dipetik dalam sehari.

Pohon cengkeh yang buahnya sedikit, jika dipetik, banyak membuang waktu saat memindahkan tangga. Apalagi pohon cengkeh yang usianya sudah tua, memerlukan tangga yang tinggi dan berat. Dengan demikian, tenaga banyak terkuras saat memindahkan tangga. Belum lagi jika banyak pohon yang menghalangi saat memindahkan tangga.

Sebenarnya memetik cengkeh terkadang membuat dilema. Ketika buah yang dipetik hanya sedikit, rasanya tidak puas. Akan tetapi jika yang dipetik jumlahnya banyak, maka akan berpengaruh pada saat proses memisahkan biji cengkeh dengan gagangnya. Bagaimana tidak, semakin banyak cengkeh yang dipetik, maka semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk memisahkan biji dengan gagangnya. Terkadang saya melakukan proses itu hingga jam 12 malam.

Tanrang adalah tangga khusus untuk memetik cengkeh, (dokumentasi pribadi).
Tanrang adalah tangga khusus untuk memetik cengkeh, (dokumentasi pribadi).
Kabupaten Bantaeng adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang letaknya sangat strategis secara geografis. Berbatasan dengan laut dan berada di kaki gunung Lompo Battang. Selain itu, puncak gunung Lompo Battang berada di wilayah kabupaten Bantaeng, sehingga wilayah Bantaeng terdiri daru dataran rendah hingga dataran tinggi.

Dengan kondisi geografis seperti itu, maka tanaman cengkeh bisa tumbuh di Bantaeng. Cengkeh ditanam di sekitaran ketingggian 500 sampai 1000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Akan tetapi bukan tidak mungkin cengkeh ditanam pada ketinggian 100 mdpl atau di atas 1000 mdpl. Namun, tentu saja akan berpengaruh pada pertumbuhan cengkeh yang ditanam.

Kecamatan Tompobulu merupakan kecamatan di kabupaten Bantaeng menjadi daerah yang paling banyak ditanami cengkeh. Tompobulu sudah masuk dalam daerah pegunungan sehingga sangat cocok untuk ditanami cengkeh. Oleh karena itu, masyarakat banyak menanam cengkeh di kebunnya.

Kampung saya misalnya, banyak ditemui tanaman cengkeh, bahkan di depan rumah warga. Pohon cengkeh yang ditanam di depan rumah, menurut masyarakat di kampung saya, katanya program dari Orde Baru yang membagi bagikan bibit cengkeh kepada masyarakat agar ditanam. Oleh karena itu, sekarang banyak ditemui pohon cengkeh yang sudah berumur puluhan tahun di depan rumah masyarakat. Bahkan sudah ada yang ditebang atau mati karena tidak produktif lagi.

Dari cerita yang saya dengarkan di masyarakat, masuknya cengkeh di Tompobulu,membuat petani banyak yang menebang pohon kakao miliknya dan diganti dengan cengkeh. Harga cengkeh pada saat itu tidak begitu mahal. Bahkan pernah cengkeh tidak dibeli sama sekali.

Pada saat harga cengkeh yang begitu murah dan bahkan tidak dibeli, banyak petani yang kemudian menebang pohon cengkehnya. Terkadang biji cengkeh hasil panen hanya digunakan untuk rempah-rempah saat ada acara keluarga. Akan tetapi, pada tahun berikutnya, cengkeh kembali dibeli dengan harga yang lumayan. Akhirnya banyak petani yang merasa menyesal karena menebang pohon cengkeh miliknya. Bahkan banyak petani yang kembali menanam cengkeh.

Harga cengkeh terus meningkat setiap musimnya. Musim lalu, di kampung saya harga cengkeh basah perkilonya adalah 40.000. Harga cengkeh yang lumayan mahal, mendorong petani semakin semangat menanam cengkeh. Bahkan di daerah dataran rendah misalnya Desa Tombolo, cengkeh mulai ditanam di kebun yang dulunya ditanami jagung atau sayuran.

Akan tetapi, pada musim ini, harga cengkeh yang masih basah, hanya dibeli 26.000 rupiah perkilo. Sementara untuk cengkeh kering dibeli dengan harga sekitar 80.000 rupiah perkilo. Harga menurun drastis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2