Mohon tunggu...
Nastiti Cahyono
Nastiti Cahyono Mohon Tunggu... karyawan swasta

suka menulis dan fotografi

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hati-hati Penyebaran Bibit Intoleransi di Sekolah

19 Januari 2020   06:28 Diperbarui: 19 Januari 2020   06:40 43 0 0 Mohon Tunggu...
Hati-hati Penyebaran Bibit Intoleransi di Sekolah
belajar di sekolah - www.konfrontasi.com

Upaya kelompok radikal untuk menyebarkan propaganda radikalisme, terus dilakukan kapan saja dan dimana saja. Segala aktifitas yang tak terduka, secara tidak langsung mulai diarahkan agar bibit kebencian mulai muncul. 

Maraknya ujaran kebencian, telah mempengaruhi alam bawah sadar kita semua. Begitu mudahnya kita mengucapkan kebencian kepada teman, saudara atau pihak lain. Bibit kebencian inilah yang kemudian melahirkan bibit intoleransi. Dan suka tidantukk suka, bibit intoleransi inilah yang terus mempengaruhi generasi muda kita saat ini.

Untuk bisa mempengaruhi, segala cara pun terus dilakukan. Termasuk mengotori lembaga pendidikan dengan bibit intoleransi dan radikalisme. berbagai penelitian telah menyebutkan, lembaga pendidikan di Indonesia mulai tersusupi bibit intoleransi dan radikalisme sejak beberapa tahun yang lalu.

Pada tahun 2015, menurut penelitian lembaga kajian Islam dan perdamaian, kepada para guru pendidikan agama Islam dan pelajar, ditemukan bahwa ada 24,5 persen guru dan 41,1 persen siswa yang mendukung tindakan perusakan atau penyegelan tempat ibadah. Tidak hanya itu, 22,7 persen guru dan 51,3 persen siswa menilai mendukung perusakan tempat ibadah yang dianggap sesat. Mereka juga mendukung perusakan tempat hiburan malam.

Sekitar peda tahun 2017, penelitian dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menyatakan, 51,1 persen mahasiswa yang beragama Islam memiliki sikap intoleran terhadap aliran Syiah dan Ahmadiah. Yang mengejutkan adalah, sebanyak 48,95 persen mahasiswa memilih untuk tidak bergaul dengan pemeluk agama lain. Alasannya, agama tidak menganjurkan hal tersebut. Puncaknya adalah 58,5 persen mahasiswa atau mahasiswa mempunyai pemahaman radikal.

Angka-angka di atas diperkirakan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Bibit intoleransi dan radikal muncul dimana-mana. Praktek intimidasi dan perskusi masih terus terjadi. Dan ironisnya, praktek ini mulai banyak dilakukan di kalangan anak dan remaja. Beberapa pekan lalu, salah seorang siswi di Sragen, mendapat intimidasi dari teman-teman sekolahnya karena dirinya tidak mengenakan jilbab. 

Bayangkan, jika sedari kecil sudah melakukan intimidasi, bagaimana pertumbuhan mereka nantinya? Jika tidak segera diluruskan, tentu saja mereka berpotensi menjadi generasi yang pemarah dan merasa dirinya paling benar.

Tidak hanya siswa, bibit intoleransi dan radikalisme itu juga kadang justru dibawa oleh para oknum pengajar. Di Yogyakarta, baru-baru ini juga ramai di perbincangkan karena ada pembina pramuka yang mengajarkan yel-yel "Islam Yes, Kafir No." Tanpa adanya pemahaman yang benar, yel-yel ini bisa berpotensi menjadi intimidatif kepada pihak lain. Apalagi saat ini banyak sekali informasi bohong yang tersebar, yang bisa mempengaruhi merubah kebenaran menjadi kebohongan atau sebaliknya.

Sekolah harus menjadi tempat yang netral. Sekolah harus mengajarkan kebenaran. Sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan, bukan tempat menakutkan bagi siswa siswi. Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi para siswa. 

Jika siswa tidak mendapatkan kenyamanan dalam sekolah, maka ilmu yang diajarkan pun tidak akan bisa diterima dengan mudah. Para tenaga pengajar juga harus ikut aktif untuk saling menjaga dan mengingatkan, karena bibit intoleransi telah menyusup dengan berbagai cara. Salam.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x