N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Freelance writer

Gelandangan virtual | Pecandu kata-kata | Perempuan hening dengan pikiran yang mengembara | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Demi Bangsa yang Damai, Mari Bicarakan "Kafir" Sambil Bersantai

12 Oktober 2018   15:55 Diperbarui: 12 Oktober 2018   16:38 712 9 5
Demi Bangsa yang Damai, Mari Bicarakan "Kafir" Sambil Bersantai
Sumber: Pixabay

Secara organik, manusia memiliki insting untuk menghindari atau melawan sesuatu yang terasa mengancam atau menimbulkan perasaan tidak nyaman. Ada kalanya, kita bahkan takut pada sesuatu yang asing dan belum kita kenali.

Beruntung, manusia dibekali akal sehat untuk mengalami proses berpikir dan mengendalikan diri. Kita punya kemampuan untuk meresapi, memahami, dan berupaya memaknai.

Katakanlah, kita cenderung diam dalam situasi yang aman dan homogen, seperti bersama teman dekat atau keluarga. Namun, di tengah-tengah lingkungan yang heterogen, kita membutuhkan kata-kata untuk menghindari timbulnya prasangka.

Hanya saja, kita tahu bahwa kata-kata juga dapat menjadi bahaya. Sementara dalam agama Islam, kami wajib menyelamatkan orang lain dari lisan dan tangan kami. 

Karena itulah, bukan hanya tentang kampanye, tapi demi bangsa dan bumi yang lebih damai, saya merasa bertanggung jawab untuk meluruskan satu istilah yang kata orang, telah mengusik ketentraman sosial.

Sebut saja, "kafir".

Berkat film dan sinetron, penyebutan "kafir" terasa begitu kasar dan tendensius. Sungguh muram dan membuatnya terasa kejam.

Tapi, benarkah seburuk itu? Bukankah kita sepakat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, serta Islam merupakan rahmat bagi semesta alam?

Maka, agar kedamaian bangsa dapat tercapai dan tidak ada lagi yang bertikai, mari kita sama-sama memasuki jeda, lalu bersantai.

Izinkanlah, saya menyampaikannya dengan lugas, tanpa candaan yang sering kali menambah runyam karena perbedaan selera humor dan salah paham.

Bismillah.

Dari mana asal kata "kafir"?

"Kafir" yang saat ini diperbincangkan, berasal dari kata Al-Kufru.

Kata kerjanya disebut kafar dengan bentuk jamak kafaruu. Dan, subjeknya disebut kaafir dengan bentuk jamak kaafiruun.

Nah, istilah "Al-Kufru" ini biasa terucap di jazirah Arab sebelum Rasulullah SAW dilahirkan. Al-Kufru berarti sesuatu yang terhalang atau tertutup hingga tidak bisa dilihat/terlihat. Dan, orang yang melakukan penghalangan atau penutupan itu disebut kaafir.

Kita ambil contoh, Popon menutup makanan dengan tudung saji agar aman dari tikus. Kata kerja "menutup"nya disebut kafar. Popon sebagai orang yang menutup, disebut kaafir.

Kata ini yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi cover.

Sampai di sini, kita bisa lihat bahwa kata kaafir memang netral dan biasa digunakan.

Kemudian ... tiba saatnya Rasulullah SAW menyampaikan ajaran Islam secara terang-terangan kepada penduduk Mekkah.

FYI, orang-orang Arab pada saat itu tidak mengingkari keberadaan Allah (Q.S. 29: 61-63), tetapi mereka menyekutukan Allah dengan menyembah berhala. Mereka menyembah benda-benda untuk diyakini sebagai penghubung antara mereka dan Allah (Q.S. 39:3).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3