Mohon tunggu...
Suprihati
Suprihati Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar alam

Penyuka kajian lingkungan dan budaya. Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Hari Angklung Sedunia - Nyai Pohaci Menyapa

17 November 2022   12:14 Diperbarui: 17 November 2022   12:21 210
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Angklung Simbol Komunikasi Masyarakat Agraris dengan Nyai Pohaci (Foto: KOMPAS/RIZA FATHONI (RZF) 09-09-2018)

Angklung berakar dari budaya lokal masyarakat Sunda. Mendapat penetapan menjadi warisan budaya dari United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Awal penetapan tanggal 16 November sebagai Hari Angklung Sedunia.

Hari Angklung Sedunia

Google mengangkat Hari Angklung Sedunia sebagai doodle pada tanggal 16 November 2022. Ilustrasi bergerak yang menggambarkan 6 anak Nusantara memainkan alat musik angklung dengan suka ria. Alat musik angklung berupa serangkaian tabung buluh bambu yang dimainkan dengan cara menggoyangkannya dengan tangan.

Doodle google Hari Angklung Sedunia 16 November 2022 (Tangyar google.com)
Doodle google Hari Angklung Sedunia 16 November 2022 (Tangyar google.com)

Perjalanan panjang dari angklung alat musik tradisional lokal. Merambah menjadi bagian komunikasi nasional. Hingga mendapat penetapan Warisan Dunia dari UNESCO pada tanggal 16 November 2010. Berkat yang menuntut upaya pelestarian berkelanjutan.

Nyai Pohaci Menyapa

Merunut sejarah, alat musik angklung berakar dari budaya lokal masyarakat Sunda, Jawa Barat. Masyarakat agraris yang sangat akrab dengan lingkungannya. Nyai Pohaci dikenal sebagai Dewi Sri, Dewi penjaga kesuburan tanah sahabat para petani.

Tindakan budidaya khususnya tanaman padi yang selaras dengan alam. Masyarakat petani berkomunikasi dengan alam sepanjang masa budidaya. Mulai dari kegiatan tanam bibit hingga panen malai padi.

Masyarakat lokal Sunda mengenal ritual ngaseuk, melak pare (menanam padi), ngubaran pare (mengobati padi) mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun) (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/). Tentunya kini bertransformasi seiring dengan efisiensi produksi padi.

Mempergunakan media sarana untuk berkomunikasi dengan alam. Salah satunya alunan nada dari alat musik tradisional angklung. Bahan terpilih umumnya dari buluh bambu hitam alias bambu wulung.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun