Novita Mandasari
Novita Mandasari Dosen

Seorang istri sekaligus pengajar

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Membangkitkan Spirit Sejarah Gelora Bung Karno di Asian Games 2018

12 Juli 2018   19:01 Diperbarui: 12 Juli 2018   20:23 2191 6 1
Membangkitkan Spirit Sejarah Gelora Bung Karno di Asian Games 2018
Ilustrasi (sumber: intisari.grid.id)

Indonesia  mendapat kehormatan menjadi  tuan rumah Asian Games ke XVIII tahun 2018. Asian Games ke XVIII berlangsung di Jakarta dan Palembang pada tanggal 18 Agustus hingga 2 September 2018. Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi pusat penyelenggaraan olahraga bergengsi negara-negara se Asia.

Ini berarti untuk kedua kalinya Stadion Utama Gelora Bung Karno akan menjadi saksi sejarah pelaksanaan perhelatan olahraga se-Asia setelah 56 tahun sejak Indonesia pertama sekali menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1962.

Stadion Utama Gelora Bung Karno dibangun atas keinginan bapak proklamator Indonesia, Sukarno. Keinginan dan semangat Sukarno semakin kuat dikarenakan pada Asian Games 1958 Indonesia yaitu Jakarta dipilih menjadi tuan rumah Asian Games tahun 1962 mengalahkan Karachi (Pakistan) dan Taipe (Taiwan).

Mendengar kabar baik tersebut Sukarno menginstruksikan agar dibangun stadion dan mengeluarkan Keppres No.113/1959 tanggal 11 Mei 1959 tentang pembentukan Dewan Asian Games Indonesia (DAGI) yang pada saat itu dipimpin oleh Menteri Olahraga Maladi. Dana pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno diperoleh dari bantuan kredit lunak pemerintah Uni Soviet sebesar 12,5 juta dollar AS.

Pada 8 Februari 1960 Stadion Utama Gelora Bung Karno mulai dibangun di kawasan Senayan seluas kurang lebih 300 hektar. Sebanyak 60.000 jiwa warga kampung Senayan dipindahkan ke Tebet, Slipi, dan Ciledug. Sukarno memancangkan tiang pertama proyek pertama pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kemudian secara simbolis Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Kruschev memancangkan tiang keseratus (Dari Gelora Bung Karno ke Gelora Bung Karno).

pembangunan stadion GBK (sumber: sejarahri.com)
pembangunan stadion GBK (sumber: sejarahri.com)
Selama kurang lebih dua tahun pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno dikerjakan. Pada 21 Juli 1962 Sukarno meresmikan Stadion Utama Gelora Bung Karno yang berdaya tampung 110.000 orang.

Pada masa itu disinyalir Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah yang terbesar se Asia. Hal ini dikarenakan daya tampungnya yang cukup besar. Selain itu bangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno memiliki keunikan tersendiri yang berbeda dari stadion negara lain yaitu pada desain atap temu gelang.

Sejak saat itu Indonesia memiliki stadion utama olahraga yang didalamnya juga terdapat lapangan untuk berbagai cabang olahraga, gedung serbaguna untuk kesenian dan fasilitas lainnya.

Setelah diresmikan, stadion utama Gelora Bung Karno menjadi saksi perhelatan olahraga terbesar se-Asia yaitu Asian Games. Kemudian di tahun berikutnya pentas olahraga bertaraf internasional yaitu GANEFO (Games of the New Emerging Forces) juga digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Setelah 56 tahun berselang, Stadion Utama Gelora Bung Karno akan digunakan untuk perhelatan Asian Games ke XVIII. Bila di tahun 1962, ketika pertama sekali menjadi tuan rumah Indonesia mampu menjadi runner up dengan perolehan 21 medali emas, 26 perak, dan 30 perunggu maka diharapkan tahun ini Indonesia dapat memperbaiki prestasi ditengah tren penurunan prestasi olahraga kita dalam beberapa periode belakangan.   

Untuk mendukung pelaksanaan Asian Games, pemerintah juga terus melakukan perbaikan Stadion Utama Gelora Bung Karno agar atlet peserta dapat dengan nyaman mengikuti pertandingan. Kondisi Stadion Utama Gelora Bung Karno juga jauh lebih baik dari 56 tahun silam menjadi sebuah kebanggaan bagi atlet-atlet Indonesia dan memberikan energi yang besar untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Presiden meninjau renovasi GBK (Sumber: tribunnews.com)
Presiden meninjau renovasi GBK (Sumber: tribunnews.com)
Stadion Utama Gelora Bung Karno akan menjadi saksi sejarah lahirnya prestasi-prestasi gemilang dari putra-putri bangsa Indonesia. Nilai historis yang terkandung dari pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno juga menjadi motivasi besar bagi seluruh atlet-atlet Indonesia untuk bekerja keras mengharumkan Indonesia di Asia dan internasional.

Dalam otobiografinya Sukarno mengatakan "ini semua bukanlah untuk kejayaanku, semua ini dibangun demi kejayaan bangsa, supaya bangsaku dihargai oleh seluruh dunia". Kobaran semangat Bung Karno inilah yang juga harus melekat dalam diri atlet peserta Indonesia bahkan dalam diri seluruh rakyat Indonesia. Seluruh atlet peserta Indonesia harus memiliki kepercayaan yang tinggi pada kemampuan diri maka prestasi akan diperoleh.

Melalui perhelatan olahraga terbesar se Asia ini seluruh rakyat Indonesia harus bersama-sama, bersatu mendukung atlet peserta Indonesia serta mari mensukseskan Asian Games ke XVIII. Melalui Asian Games ke XVIII kejayaan dan kebesaran bangsa Indonesia semakin dikenal, dipertontonkan di seluruh asia dan dunia (*)