Mohon tunggu...
Novera Angellina
Novera Angellina Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi Ilmu Komunikasi UAJY

A step forward, is a step closer.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menguak Identitas Weverse: Social Networking Application Luncuran Big Hit Entertainment

5 Maret 2021   15:23 Diperbarui: 5 Maret 2021   16:36 1982
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Source: https://miro.medium.com/

Pada era ini, kebudayaan tidak lagi hadir hanya melalui aktivitas yang kita lakukan dengan menggunakan benda-benda yang secara fisik terlihat. Perkembangan zaman telah membawa kita pada zona di mana hampir semua kebudayaan baru yang ada, muncul dari hasil aktivitas kita di dunia digital. 

Setiap tren, ideologi, budaya yang baru, dapat kita temukan sebagai hasil konstruksi dan persebaran dalam dunia digital. Maka dari itu, pada kesempatan kali ini, kita akan menguak identitas dari salah satu artefak budaya digital, dengan menggunakan konsep Circuit of Culture dari Stuart Hall (1997). 

"Culture is about shared meanings.", pernyataan oleh Stuart Hall (2003, hal. 1) seorang ahli teori kebudayaan. 

Melalui pernyataan itu, Hall menjelaskan bagaimana budaya pada dasarnya adalah tentang berbagi makna, di mana melalui bahasa sebagai media yang kemudian membantu dalam memproduksi dan menukar makna. 

Hall juga menjelaskan kaitan antara bahasa dengan identitas dan budaya dengan kata "budaya" (dalam pengertian antropologis), yang memiliki arti membedakan sekelompok orang, misalnya pada orang-orang yang tergabung dalam suatu kelompok sosial, komunitas, atau bangsa, dengan nilai-nilai kebersamaan mereka tersendiri. Nilai-nilai tersebut dapat berupa wujud dalam sastra, seni, dan musik, atau pun filosofi budaya.

Dengan hadirnya nilai-nilai bersama yang terdapat dalam suatu kelompok itulah terbentuk adat istiadat dan tatanan kehidupan manusia, yang pada akhirnya memengaruhi semua yang dilakukan orang. 

Sebagaimana dikatakan Hall, bahwa ketika terdapat dua orang yang berasal dari budaya yang sama, berarti mereka "menafsirkan dunia" atau mengekspresikan diri, pikiran, dan perasaan mereka tentang dunia, dengan cara yang kira-kira sama dan akan dipahami satu sama lain (Hall, hal.2). 

Dengan itu, pembuatan makna melalui bahasa, membantu kita dalam membentuk identitas diri sebagai bagian dari anggota kelompok tertentu dan menyediakan struktur tempat bagi kita untuk menjalani hidup.

Source: https://miro.medium.com/
Source: https://miro.medium.com/

Elemen Identitas dalam Circuit of Culture

Circuit of Culture atau 'Sirkuit Budaya' merupakan suatu konsep yang dibahas oleh tokoh Stuart Hall (1997) yang menggambarkan sebuah proses kultural dengan aspek representasi, produksi, regulasi, konsumsi dan identitas. 

Dalam sirkuit budaya, identitas merupakan sesuatu yang terbentuk dari campur tangan proses produksi, konsumsi dan pengaturan yang dilakukan pada 'suatu itu' dan bagaimana "sesuatu itu" dapat menjadi seperti itu.

Du Gay et al. (1997, h. 25) menyatakan bahwa, suatu artefak budaya yang diproduksi harus terlibat dengan makna yang telah dikumulkan dan harus mencoba membangun identifikasi antara kita -- yang mengkonsumsi. 

Bisa juga kita pahami dengan, ideologi konsumsi yang dikonstuksikan oleh pengusaha suatu 'merek produk/jasa/sesuatu' memiliki tujuan guna merepresentasikan identitas dari konsumen (orang yang mengkonsumsi) sesuai yang diinginkan oleh merek tersebut. 

Penjelasan tersebut, secara tidak langsung menggambarkan bagaimana dalam kerangka circuit of culture, identitas konsumen tidak hanya dikonstruksikan secara sosial, tetapi lebih dari itu, terdapat usaha untuk menegosiasikannya melalui 'praktik konsumsi'.

Dengan itu, elemen identitas dan konsumsi terbukti tidak dapat dipisahkan. Begitu pula dengan elemen-elemen lainnya dalam circuit of culture yang pada dasarnya terhubung satu dengan yang lain. Akan tetapi, pada kesempatan kali ini, kita hanya akan membahas mengenai elemen identitas dalam circuit of culture dari aplikasi Weverse yang banyak digunakan oleh kalangan anak muda sekarang.

Nah, setelah mempelajari konsep Circuit of Culture, sekarang kita akan melihat bagaimana Identitas yang terbentuk dari aplikasi Weverse, salah satu contoh artefak budaya di era digital!

Mengenal Aplikasi Weverse

Source: Weverse App
Source: Weverse App

Mungkin ada beberapa di antara kalian yang sudah menggunakan aplikasi Weverse, atau setidaknya mendengarkan nama aplikasi ini? Terutama bagi kalian yang penggemar K-POP atau berkecimpungan di dunia 'Korean Wave'. 

Nah, jadi Weverse merupakan sebuah social networking application yang diluncurkan oleh Big Hit Entertainment dengan bantuan perusahaan Ben X (anak usaha Big Hit) pada Juni 2019, untuk mempertemukan artis dengan penggemarnya secara langsung melalui postingan mereka. 

Dalam aplikasi ini, penggemar atau 'fans' dapat dengan bebas mengunggah konten dan para artis dapat memberikan komentar secara langsung pada konten mereka. Tentunya, para artis atau idol juga akan memiliki akunnya sendiri yang kemudian digunakan untuk mengunggah apa yang mereka inginkan.

Biasanya di Korea Selatan, tersedia media fancafe yang dapat digunakan oleh fans dan idol untuk berinteraksi. Agar terlibat dalam fancafe, biasanya terdapat cara-cara atu syarat yang berbeda-beda, tergantung pada sistem fancafe masing-masing idol atau idol group. 

Selain itu, yang perlu kita ketahui adalah bahwa pengguna fancafe hanyalah kalangan orang-orang di Korea, alasannya karena fancafe hanya tersedia dalam bahasa Korea.

Selain itu, perlu kamu ketahui bahwa, pada awalnya Weverse dirancang dan diluncurkan hanya untuk Idol Group yang sekarang sangat terkenal yaitu BTS dan juga TXT (Tomorrow by Together). 

Nama BTS tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Walau bukan merupakan penggemar, saya yakin kamu pasti pernah mendengar nama Idol Group BTS setidaknya satu kali dalam hidupmu. 

Populartitas BTS yang semakin mendunia membuat agensi dari grup idol tersebut harus mencari jalan agar informasi-informasi mengenai BTS tidak eksklusif di negara Korea Selatan saja. Maka dari itu, diluncurkanlah aplikasi Weverse yang dapat mempertemukan international fans BTS atau kerap dikenal sebagai ARMY dengan idola mereka.

Seiring dengan perkembangannya, kini apliasi Weverse tidak hanya menyediakan platform bagi BTS dan TXT, tetapi juga terdapat G-Friend, Seventeen, Enhypen, CL, NU'EST, dan masih banyak lagi. Aplikasi ini juga perlahan-lahan mengembangkan fitur konten eksklusif, konten multimedia yang berbayar, fan memberships dan juga menjual merchandise resmi di Weverse Shop.

 Dengan mengenal aplikasi Weverse dan penjelasan di atas, kira-kira ada yang tahu apa dan bagaimana identitas yang terbentuk pada aplikasi Weverse, dan mengapa identitas tersebut bisa terbentuk?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun