Mohon tunggu...
Nor Pikriadi
Nor Pikriadi Mohon Tunggu... -

Seorang pembelajar sejarah yang coba menulis sejarah.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kenapa Pahlawan Harus Ditulis*

9 November 2011   15:10 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:52 542 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Oleh: Norpikriadi

Galibnya, 10 November ini kita peringati sebagai Hari Pahlawan. Secara faktual momentum ini digunakan untuk mengenang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Namun secara ideal, ia diekspektasi sebagai sarana apresiasi terhadap nilai kepahlawanan yang terkandung di dalam peristiwa tersebut untuk dicover dan diselaraskan dengan situasi kekinian.

Dari kajian historis, Pertempuran 10 November terkategori ke dalam sejarah perang sebagai sub bagian dari sejarah politik. Meski kepahlawanan tidak selalu harus lahir dari situasi perang, namun karena lebih memberi efek dramatik maka pahlawan peranglah yang biasanya paling diingat dan sering ditulis. Di sisi lain, menuliskan sejarah perang kerapkali harus terbentur pada masalah obyektivitas yang dipersyaratkan Ilmu sejarah itu sendiri. Dalam buku sejarah, Pertempuran 10 November memang berletak pada konteks Perang Kemerdekaan RI 1945-1949. Akibatnya, peristiwa ini sering tereduksi menjadi sekadar potret kepahlawanan bangsa pribumi versus penjajah asing yang jahat. Jika mengacu Helius Sjamsuddin (2001:100), tipe penulisan nasionalistik semacam ini dirasa terlalu simplistis dan akan merugikan suatu diskusi sejarah yang serius.

Kalangan annales yang pada abad ke-19 memotori munculnya kajian sejarah modern dengan sinis mengatakan, sejarah perang adalah sesuatu yang kadaluarsa (Subiyakto:2006). Sejarah perang, khususnya jika sekadar dipandang dari kacamata heroisme, memang potensial mengaburkan fakta untuk dapat tampil secara utuh. Sebab, dalam situasi perang yang hakikatnya merefleksikan perbenturan kepentingan, adalah lumrah sekiranya ada di antara “kita” yang karena alasan tertentu--mungkin dengan alasan yang sangat manusiawi--terpaksa harus berada di pihak lawan. Kepada mereka ini, kata Marko Mahin (2005:95), berlakulah kekerasan epistemic yaitu sebagai obyek sejarah, tokoh antagonis dalam rangka kultus seorang hero.

Jika dikembalikan kepada perannya selaku subyek sejarah, setiap manusia sesungguhnya mempunyai hak sama untuk ditulis secara adil, tanpa pendekatan normatif yang cenderung menghakimi. Mungkin inilah pangkal sebab, kenapa tema kepahlawanan terkesan “dinilai rendah” secara akademis. Lantas, apakah wacana ilmiah masih menyisakan ruang hidup bagi makhluk yang bernama pahlawan? Haruskah ia digusur saja atas nama obyektifitas (baca: angkuhnya) ilmu pengetahuan?

Pertempuran 10 November

Segala upaya perjuangan dalam rangka membela dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, bagi Bangsa Indonesia dimaknai sebagai bentuk kepahlawanan. Ini berlangsung pada masa revolusi fisik (1945-1449). Mungkin karena paling menonjol corak heroismenya di antara serentetan pertempuran pada masa itu, maka Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tidak tanggung-tanggung, lawan yang dihadapi pada pertempuran ini adalah salah satu negara pemenang Perang Dunia II, yaitu Inggris. Kedatangan mereka sebagai wakil sekutu di Indonesia sebetulnya hanya dalam rangka kapitulasi resmi Jepang. Namun berhubung NICA mendompleng proses kapitulasi itu untuk memulihkan kolonialisme Belanda di negeri ini, Inggris pun kemudian terjebak dalam situasi konflik dengan Indonesia.

Bermodal persenjataan yang seadanya (kebanyakan warisan dari tentara Jepang dan senjata-senjata tradisional), Arek Suroboyo tanpa ragu menghadang pasukan musuh yang dilengkapi persenjataan paling mutakhir pada masa itu. Dengan peta kekuatan kedua kubu yang begitu senjang, pertempuran itu gampang ditebak hasilnya. Kolonel Laurens van der Vost, seorang perwira intelijen Inggris, sebagaimana yang diungkapkan Rosihan Anwar (2002:199) menegaskan dalam laporannya: “Dari 28 Oktober hingga akhir November 1945 ketika kami merampungkan operasi pembersihan di Surabaya dengan menggunakan kekuatan angkatan laut, udara dan darat, kami mempunyai 600 orang korban tewas. Sedangkan pihak Indonesia kehilangan kurang lebih 6000 orang yang tewas.” Patut dicatat, di samping Arek Suroboyo yang menjadi “aktor utama” dalam pertempuran dahsyat tersebut, terjun pula para pejuang dari daerah lain--meski mungkin dengan jumlah yang tidak besar--untuk membantu. Bahkan dari yang diungkapkan Tim Peneliti Sejarah Banjar (2003:374) diketahui, tokoh revolusioner paling terkemuka di Kalimantan Selatan, Brigjend Hassan Basry, ternyata“alumnus” medan juang Surabaya.*

Jika dilihat dari perbandingan jumlah korban seperti yang dilaporkan van der Vost di atas, nyatalah Bangsa Indonesia berada di pihak yang kalah. Namun seperti yang kerap terjadi dalam sejarah dunia, kalah dalam pertempuran tidak selalu berarti kalah dalam peperangan. Tak ingin terlibat lebih jauh ke dalam konflik RI-Belanda, Inggris akhirnya hengkang dari Bumi Pertiwi, meninggalkan Belanda yang kerepotan sendiri menghadapi gerilyawan republik. Ketika mereka akhirnya bersedia menyerahkan kedaulatan pada akhir Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar, terbukti Bangsa Indonesia berhasil memenangkan Perang Kemerdekaannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan