Mohon tunggu...
Nofail Hanf
Nofail Hanf Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nofail Hanf_20107030095. Selamat Membaca dan Semoga bermanfaat.

Pemerhati Politik dan Sosial. Jangan pernah bermimpi jika takut gagal.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Humanisme Barat dan Politik Etis

13 Maret 2021   19:39 Diperbarui: 15 Maret 2021   13:50 116 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Humanisme Barat dan Politik Etis
nttprogresif.com

Ketika Festival Seni Multatuli September 2019 lalu, Eduard Douwes Dekker seolah hidup kembali dalam ingatan saya. Eduard, penulis roman Max Havelar dengan nama pena Multatuli sudah lama menjadi legenda bagi masyarakat Indonesia dan Belanda. 

Khususnya di daerah Rangkasbitung, Lebak, Banten. Awal tahun lalu sudah diresmikan Museum Multatuli di Lebak sebagai bentuk penghargaan atas jasanya dalam "melawan" kolonialisme melalui Max Havelar. 

Di Indonesia pengaruh dari roman Max Havelar sangatlah besar. Bagaimana Eduard membongkar kejahatan Belanda di Hindia Belanda dengan retorika romantisme. 

Sementara di Belanda Eduard dianggap sebagai orang frustasi yang hanya mencari jabatan dan mencari penghidupan yang lebih baik. Meskipun begitu, aspek sastra dan politisinya berpengaruh pada pribumi.

Sebelum kehadiran Eduard di Hindia Belanda. Negara jajahan itu pada tahun 1830-1849 terjadi penurunan ekonomi di Jawa Tengah dan Jawa Timur karena telah habis untuk biaya militer dan administrasi, menyebarnya wabah penyakit yang mengakibatkan banyak warga meninggal, dan kelaparan meluas di Jawa Tengah hingga akhir 1850. Sementara itu pemerintah menaikkan pajak secara drastis.

Jejak humanisme Eduard bermula di Batavia, bekerja di Algemene Regenkamer, Dewan Pengawas Keuangan dengan gaji 80 gulden. Di Batavia dia jatuh cinta pada seorang gadis, Caroline Versteegh yang beragama katolik. 

Demi cintanya, Eduard beralih agama menjadi Katolik, dan dibaptis Agustus 1839. Namun Ayah Caroline tak mengizin anaknya menikah dengan Eduard. Kejadian itu membuat Eduard depresi dan dia pun meninggalkan Batavia.

Tidak berhenti di situ. Laki-laki kelahiran Amsterdam 2 Maret 1820, segera melamar pekerjaan di Sumatera. Eduard diterima bekerja  di Natal---sebuah kota kecil di Pantai Barat Sumatra. 

Dia ditugaskan sebagai kontrolir di kota kecil itu. Karena kecerobohan administrasi yang dilakukannya---kekurangan uang 2.000 gulden di kas kantor kontrolir---Eduard dipanggil menghadap Gubernur Michiels di Padang. Dia mendapat sanksi: gajinya ditahan dan dipecat sementara.

Seperti seorang yang tidak berhenti berjuang, dia berlayar ke Batavia dan berkat bantuan Ruloffs, bekas atasannya dia kembali bekerja di Dinas Keuangan Hindia Belanda. Saat itu pula dia bertunangan dan kemudian menikah di Cianjur, April 1846, dengan Everdine van Wijnbergen.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN