Mohon tunggu...
Yunita Kristanti N I
Yunita Kristanti N I Mohon Tunggu... Pendidik - belajar berbagi dan belajar memberi manfaat

-semua karena anugerah-Nya-

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Seni Merayakan Hidup

30 November 2022   04:54 Diperbarui: 30 November 2022   13:46 214
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Artikel (Sumber : Unsplash / Aziz Acharki)

You are what you think, or

think what you want to be..

“99,99% hidup kita tidak bisa kita kendalikan”, seorang teman mengatakan dengan lantang, “ tetapi kita bisa memilih bagaimana respon kita.” Mau ngeluh, mau marah, mau jengkel, mau ndagel, mau nangis, itu pilihan atas respon yang akan diberikan.

Kita bisa berserah tetapi bukan menyerah. Kita hanya bisa berupaya bukan memaksa.

Sesuatu yang ideal menjadi makanan pokok bagi sebagian masyarakat (termasuk saya), sehingga seringkali julid menjadi sebuah adab dan ciri khas. Mata, telinga, dan tangan sering menjadi media ampuh untuk menyalurkan kejulidan dan nyinyiran atas perilaku orang lain yang tidak ‘sesuai’ dengan kacamata kita.

Wajar saja bila hal ini terjadi, banyak kepala, banyak pandangan, beragam pemikiran. Toh, kita adalah pemegang kendali untuk memilih dan mengijinkan hal itu masuk ke kehidupan kita atau tidak, bukan? Pilihan tentu menjadi sebuah prerogatif kita. Ekspektasi tidak selalu menjadi sebuah realita hidup. Tangis dan tawa menjadi bumbu yang menyempurnakan hidup itu sendiri.

Berpikir dengan rasa, dan merasa dengan logika, sebuah adagium yang dikatakan seorang bernama almarhum Drs. ML. Oetomo, mantan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, rasanya pas. Equilibrium, keseimbangan, homestasis. Namun demikian, hal itu nampaknya perlu terus digumuli, gak mudah, tapi itu pun tergantung ini (tunjuk dahi).

Proses menjadi sebuah jawaban atas misteri hidup setiap orang. Setiap proses bagi tiap orang berbeda. Layaknya beberapa smartphone kita sambungkan pada charger, masing-masing tentu berbeda kondisi daya baterainya. Mungkin saja diawali dari 20%, atau ada yang 59%, atau bahkan 2%. Untuk menuju kondisi baterai 100% tentu berbeda-beda waktunya, lalu juga tergantung pada jenis chargernya. Banyak kondisi yang akan bisa memengaruhi. Layaknya hidup.

Jika mau menyadari hal ini, tentu respon kita akan sesuatu yang terjadi di luar diri tentu menjadi berbeda. Proses memahami dengan sudut pandang orang lain juga bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh perjuangan dan ini perlu disadari. Kita akan memaknai hidup ini indah jika kita menyimpan ‘kendali’ untuk mengatakan bahwa hidup ini indah namun sebaliknya, jika kita akan menyimpan ‘kendali’ bahwa hidup ini ‘sengsara’ ya itu juga yang akan memengaruhi kita.

Tulisan ini dibuat menjadi sebuah alarm diri sendiri, sukur-sukur bermanfaat untuk orang lain. Maturnuwun.

Selamat merayakan hidup hari ini dan selanjutnya.



Salatiga, 30 November 2022.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun