Mohon tunggu...
Ahmad Ainun Najib
Ahmad Ainun Najib Mohon Tunggu... International Relations Student

Rockabye

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Marvel vs DC: Kompetisi dalam Perfilman Superhero

24 Juli 2020   13:39 Diperbarui: 24 Juli 2020   17:56 823 6 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Marvel vs DC: Kompetisi dalam Perfilman Superhero
Sunber Foto : Majalah Hai Online

Marvel studios adalah studio film yang menaungi superhero-superhero Marvel Comics yang difilmkan dan disebut sebagai Marvel Cinematic Universe (MCU). Intinya Marvel mengangkat superhero komiknya menjadi film atau sering disebut Comic Book Movie (CBM). Film-film tersebut disetting dalam satu garis waktu dan satu semesta yang disebut MCU. Film pertama yang mengawali MCU adalah Film Iron man pada tahun 2008. Kemudian disusul The Incredible Hulk, Iron man 2, Captain America : First Avengers, Thor, dan seterusnya. Total sampai 2019, MCU sudah megeluarkan 23 Judul film. Para tokoh superhero tersebut bergabung dalam satu layar film yang disebut crossover dengan judul film Avengers. Satu per satu film menuai kesuksessan dan terus berlanjut.  Puncaknya film Avengers Endgame menjadi film tersukses sepanjang sejarah dengan pendapatan mencapai lebih dari 2,7 miliar US Dollar atau hampir 40 triliun Rupiah dan mengalahkan rekor sebelumnya yang dipegang film Avatar yang bertahan sejak 2009.

DCEU atau DC Extended Universe adalah studio film yang menaungi film yang diangkat dari tokoh komik DC. Sama halnya seperti MCU, film-film di DCEU juga disetting dalam satu garis waktu dan semesta yang sama. DCEU diawali dengan film Superman yang berjudul Man of Steel tahun 2013 kemudian Batman v Superman, Suicide Squad, Wonder Woman dan seterusnya. DCEU telah mengeluarkan sebanyak 7 film hingga 2019 dan mendapat keuntungan banyak dari hasil penjualan tiket. Namun banyak film DCEU yang mendapat kritik dari penonton maupun dari kritikus film. Bahkan film Justice League yang merupakan film crossover dari superhero-superhero DC dianggap belum dapat menyamai Avengers. Walaupun begitu film Wonder Woman dan Aquaman mendapat respon bagus dari kritikus film. Terlalu cepat mengangkat Justice League mungkin menjadi salah satu faktor penyebab dianggap gagalnya film Justice League. Pondasi karakter yang kurang kuat menjadikan delivery film kurang bagus. Diluar faktor substansi, film Justice League megalami polemik internal. Seperti ditinggal sang sutradara utama, Zack Snyder yang menyebabkan banyak adegan film di reshoot dan banyak adegan yang dipotong oleh Warner Bros (WB) selaku pemilik lisensi DC comics. Pemotongam adegan menjadi isu yang sering menjadi alasan problematika di DCEU, hingga muncul tagar #ReleaseTheSnyderCut dan #ReleaseTheAyersCut. Kabar baik bagi penggemar Justice League karena versi Snyder Cut akan dirilis di layanan streaming HBO pada 2021.

MCU sendiri tak lepas dari kritik, mendapat kritik karena dianggap hanya film penuh warna-warni yang kekanak-kanakan. Banyak fans DC yang mencaci MCU begitupun sebaliknya, banyak fans Marvel yang mencaci film DCEU. Perbedaan film Marvel dan DC terletak pada tone dalam film. Marvel menampilkan cukup banyak humor dan warna yang cerah, sementara DC lebih kelam dan dark. Walaupun keduanya sama-sama bertema superhero dan memiliki universe, keduanya memiliki fans sendiri-sendiri dan memberikan film dengan tone yang berbeda.

Haruskah kedua studio berkompetisi ? Iya, harus. Kompetisi menjadi pemicu untuk menciptakan karya yang lebih dan lebih lagi. Haruskah kedua penggemar saling caci maki dan membanding-bandingkan? Seharusnya tidak karena keduanya memiliki persona masing-masing. Namun sayangnya keduanya berindustri di tengah-tengah masyarakat yang selalu membanding-bandingkan, sehingga bagaimanapun juga keduanya akan selalu dibandingkan.

Tak sedikit yang mengharapkan keduanya untuk berkolaborasi dan melakukan crossover tokoh-tokoh superheronya. Karena jika hal itu menjadi kenyataan akan sangat epic dan menarik dalam dunia perfilman superhero.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x