Ninoy N Karundeng
Ninoy N Karundeng karyawan swasta

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya Induk Kata-kata". Membantu memahami kehidupan dengan sederhana untuk kebahagian manusia ...

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

3 Alasan Ahok-Djarot Unggul Atas Anies-Sandi

19 April 2017   08:18 Diperbarui: 19 April 2017   08:59 2923 25 114
3 Alasan Ahok-Djarot Unggul Atas Anies-Sandi
Ahok I Dok Ninoy N Karundeng

Hari ini warga DKI Jakarta memilih DKI 1. Hasil kalkulasai secara psikologi politik kampanye parallel dengan hasil yang muncul sore hari. Publik pasti penasaran melihat hasil kemenangan Ahok-Djarot. Untuk mengobati rasa penasaran itu, maka kini saatnya buka-bukaan tentang sedikit saja strategi kampanye politik Ahok. Strategi kampanye politik yang dilakukan oleh Ahok dimulai sejak pengumpulan sejuta KTP Kawan Ahok, yang pencalonannya berhasil mengecoh salah satunya Anies dijadikan calon gubernur DKI Jakarta.

Mari kita telaah 3 alasan kemenangan Ahok dengan hati gembira ria riang senang bahagia suka-cita senang menari menyanyi pesta-pora berjingkrak koprol merayakan kemenangan warga DKI Jakarta sambil menertawai FPI senantiasa selamanya.

Gambaran kampanye yang sedemikian liar sesungguhnya menjadi gambaran hasil dalam pilkada hari ini. Strategi dan trik kampanye yang sedemikian liar menyerupai pilpres 2014. Pun strategi yang dijalankan menjadi identik dengan pemain yang relative sama. Hal ini juga tentu menghasilkan hasil yang parallel. Maka sesungguhnya hasil hari ini adalah gambaran rancangan yang sudah lama berlangsung, jauh dari hari ini. Mari kita bedah 3 alasan kemenangan Ahok-Djarot hari ini.

Pertama, kasus Ahok menjadi kasus yang membuka mata warga DKI Jakarta tentang kepentingan politik. Persidangan kasus Ahok membuka mata bahwa kasus Ahok adalah pelintiran politik ala FPI yang digunakan untuk mengganjal Ahok. Itu yang menjadi kesan mereka.

Maka secara nyata dalam Pilkada putaran I, meskipun belum didukung oleh PPP, PKB, PBNU, dan GP Anshor, tetap memenangi Pilkada putaran I dengan 42%, pencapaian yang di luar dugaan banyak orang. Perkiraan survei menempatkan Ahok akan kalah telak oleh Agus dan Anies. Kemenangan Ahok pada putaran I ini terjadi lebih sebagai akibat dari polarisasi dan militansi pendukung Ahok yang berbasis partai dan berbasis etnis – yang merupakan akibat kampanye Anies yang menggunakan isu SARA.

Secara nyata kasus Ahok dan sikap FPI dan partai agama PKS gagal menjadi  terkait kasus Ahok yang menyetir sentimen keagamaan membuat masyarakat sadar akan politisasi agama. Kasus Ahok terjadi akibat kepentingan Pilkada 2017. Dan, Ahok pun selalu dijadikan musuh politik dan pribadi oleh FPI. Bahkan FPI pun pernah mengangkat Gubernur FPI tandingan untuk melawan Ahok – namun lagi-lagi tak laku. Masyarakat DKI Jakarta tidak menggubris ajakan memboikot Ahok sebagai Gubernur.

Pun ketika kalangan DPRD DKI Jakarta dengan dipimpin oleh Lulung, Muhammad Taufik, dan koruptor Muhammad Sanusi hendak menjungkalkan Ahok, FPI berdiri di garis depan dengan memimpin demonstrasi yang Muhammad Taufik dan lain-lain datang mendukung.

Kini, gerakan FPI yang anti Ahok mendapatkan momentum dengan menggandeng secara resmi parpol partai agama PKS dan partai nasionalis Gerindra. Pun kasus Ahok dipelintir dengan menggalang kesatuan bersama HTI dan FUI untuk kepentingan agenda mereka. FPI mendapatkan momentum untuk memenangi tunggangan kuda Troya-nya dengan agenda Jakarta Bersyariah.

Situasi politik seperti ini ternyata sepenuhnya disadari oleh masyarakat Jakarta dan kini kesadaran itu berbalik menjadi dukungan untuk Ahok.  Momentum paling menentukan kini berpihak pada Ahok yang disebabkan oleh kenyataan bahwa Ahok hanyalah korban kriminalisasi dan tekanan FPI – yang ternyata memiliki agenda sendiri untuk gerakan Islam radikal di Indonesia.

Nah, itulah ketiga strategi Timses Ahok. Tiga strategi kampanye tersebut adalah salah satu dari banyak aspek strategi kampanye yang dipengaruhi dan dijalankan oleh Timses Ahok untuk mengarahkan kampanye.

Kini, strategi kampanye Ahok telah menelan diri kampanye Anies. Kenyataan kesan warga pemilih di DKI Jakarta sadar akan bahaya Anies ditunggangi dan didukung FPI. Maka FPI pun menjadi identik dengan Anies. Anies adalah FPI yang memanfaatkan kalangan umat Islam untuk dipolitisasi. Pun kasus Ahok dipahami oleh warga DKI Jakarta sebagai kasus kriminalisasi dengan tujuan menyingkirkan Ahok-Djarot.

Akhirnya, stratemengendalikan kampanye secara cerdas Timses Ahok berhasil membelokkan momentum dan menyadarkan warga DKI Jakarta untuk memilih Ahok yang dibenci oleh FPI sejak lama.

Kesadaran warga DKI semakin dipicu oleh kenyataan bahwa PBNU, GP Anshor, PKB, PPP, dan ormas Jakarta saingan  FPI yakni FBR mendukung Ahok-Djarot. Dukungan yang menguatkan Ahok-Djarot sekaligus mematikan kesempatan Anies dan FPI, FUI dan HTI menguasai Jakarta yang pluralis dan beragam.

Kedua, pencalonan Ahok tidak dikendalikan oleh kekuatan besar perancang Jakarta Bersyariah yakni FPI, FUI, HTI, dan partai agama PKS, yang memengaruhi keputusan Prabowo. Pendanaan yang besar digunakan untuk penggalangan dana masyarakat dengan mengacaukan kasus Ahok yang dipelintir oleh Buni Yani dan pendomplengan pemanfaatan fatwa MUI yang kontroversial.

Pencalonan Anies dan dukungan FPI dan partai agama PKS ini menjadi titik kekuatan Ahok-Djarot yang sebelum kasus Al Maidah sangat dikehendaki oleh warga Jakarta. Ini dimanfaatkan untuk menyadarkan akan betapa bahayanya FPI berkuasa yang menjadi musuh Ahok. Ahok akan sulit disetir oleh FPI untuk membuat berbagai kebijakan yang hanya menguntungkan FPI semata.

Pencalonan Anies sesungguhnya hanya upaya untuk mencari calon yang berbeda dengan Ahok-Djarot. Sandiaga Uno yang disokong oleh Gerindra dianggap kurang mampu dan tidak memiliki nilai jual. Dibutuhkan orang sebagai antithesis Ahok, yang dianggap santun: Anies Baswedan.

Kebetulan Anies Baswedan baru dipecat oleh Presiden Jokowi karena zaman Anies Baswedan duit untuk sertifikasi guru kelebihan Rp 23 triliun tanpa diketahui oleh Anies – di samping tidak becus bekerja. Berbeda dengan Susi Pudjiastuti yang tidak lulus SMA namun memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni.

Nah, pilihan jatuh ke tangan Anies menguntungkan Ahok – yang dengan teori dasar didzolimi karena dipecat diharapkan mampu mengeruk suara belas kasihan warga DKI. Terlebih lagi sentimen senasib sepenanggungan Prabowo kalah pilpres 2014, dan Anies dipecat menyatukan Prabowo dengan Anies. Klop. Jadi bukan dasar kemampuan namun dasarnya mengeduk emosi.

Pemilihan Anies menjadi calon gubernur dengan memaksa Sandi yang bermodal uang, hanya menjadi calon wakil gubernur ini, pada Pilkada Putaran I berhasil menyingkirkan Agus-Sylvi. Semakin ke depan didukung oleh strategi balas dendam terhadap Presiden Jokowi, FPI digandeng untuk memerkuat dukungan.

Kebetulan Buni Yani memberi durian runtuh yang melanggengkan dan menguatkan aliansi Anies-FPI dan partai agama PKS. Dari awalnya Gerindra sebagai inisiator dan pemimpin, berikutnya Gerindra dan Prabowo justru menjadi pelengkap dukungan. Inti pendukung Anies adalah gerakan 411, 212, dengan FPI, FUI dan HTI serta partai agama PKS.

Dengan kasus Ahok masih bergulir, Pilkada Putaran I berlangsung. Masih hangat dan belum mereda kesadaran akan kepentingan politik Pilkada DKI Jakarta. Kasus Ahok adalah kasus pelintiran dan kriminalisasi akibat komporan SBY yang berteriak-teriak nggak karuan untuk menjegal Ahok.

Setelah Agus kalah, maka SBY kehilangan muka dan bersikap netral. Akibatnya, PPP dan PKB berpihak ke Ahok-Djarot sementara partai tak laku di DKI Jakarta PAN ke Anies sesuai dengan sifat pentolannya Amien Rais si tukang mencla-mencle persis Anies.

Dalam kondisi pengadilan yang berlarut, Gubernur DKI non-aktif Ahok-Djarot masih memenangi suara 42% lebih. Publik terkejut.Lebih terkejut lagi FPI yang mengira suara dukungan terhadap Ahok akan habis. Namun yang terjadi adalah kesadaran bagi sebagian besar rakyat DKI Jakarta yang tidak sudi Jakarta di bawah pengaruh FPI.

Awalnya dukungan mengalir. Bahkan FBR awalnya mendukung Anies-Sandi, namun di Putaran II, FBR mendukung Ahok karena disadari bahwa mendukung Anies sama dengan memberi kesempatan FPI merajalela di Jakarta.

Maka pencalonan dan dukungan FPI dan partai agama PKS ini menjadi titik lemah Anies-Sandi yang tidak dikehendaki oleh warga Jakarta – termasuk pendukung Gerindra dan Prabowo. Ini dimanfaatkan untuk menyadarkan akan betapa bahayanya FPI berkuasa atas Anies yang lemah kepemimpinannya. Anies akan disetir oleh FPI untuk membuat berbagai kebijakan yang hanya menguntungkan FPI semata.

Nah, strategi Ahok yang menciptan stigma untuk dimusuhi oleh FPI sesungguhnya membuat warga DKI Jakarta selain pendukung FPI, selain pendukung partai agama PKS, selain pendukung HTI dan FUI serta sedikit pendukung Gerindra dan PAN menjauhi Anies di hari-hari terakhir kampanye menjelang pencoblosan.

Agar menjadi lebih efektif dampak destruktifnya, gerakan FPI, didorong dan dijadikan sebagai alat politik dan kampanye, dengan demo-demo yang keras dan garang untuk menggambarkan kepada rakyat DKI tentang gambaran dan wajah Anies dan FPI jika mereka menang.

Timses Anies mengatur kampanye hanya menyerang kepribadian Ahok namun tidak membahas program. Lalu isu SARA menjadi jualan kampanye Anies-Sandi yang tampak efektif di permukaan, namun dengan strategi memelintir, di akhir-akhir kampanye sepekan terakhir sebelum pencoblosan saat ini, membuat warga DKI berbalik menolak Anies yang berafiliasi dengan FPI.

Ketiga, kampanye penuh isu Al Maidah seperti Tamasya Al Maidah yang akan dialihkan ke TPS. Tingkah laku kekanak-kanakan yang digemborkan oleh pendukung FPI ini menjadi pisau yang merusak jantung demokrasi. Upaya mendatangkan para relawan yang diserukan oleh Rizieq FPI ketika menjadi provokator di Surabaya menjadi bahan tertawaan warga DKI Jakarta.

Sukses melakukan demo-demo FPI dianggap sebagai indikator keberhasilan kampanye Anies. Untuk memerkuat aliansi antara Anies dan FPI, Eep Saefullah terjerumus menjadikan masjid dan khutbah sebagai alat kampanye. Masjid dianggap sebagai alat efektif kampanye.

Untuk semakin menyakinkan, JK yang tengah galau akibat gagal menjadi matahari kembar dan nafsu ingin menjadi Presiden RI atau maju lagi namun dengan calon lain – menyeberang ke kubu Prabowo. Kebetulan JK adalah pentolan DMI yang dengan senang hati mengizinkan masjid sebagai tempat kampanye. Gayung bersambut.

Namun, sebagai akibatnya, warga DKI Jakarta terusik dan resah dan melihat Timses Anies yang menggunakan isu Al Maidah bahkan Tamsya Al Maidah merupakan bentuk tekanan dan intimidasi di TPS. Selain itu dorongan pengerahan massa juga menjadi boomerang yang menghantam Timses Anies karena menunjukkan bahwa Anies dipastikan kalah.

Maka untuk itu, tekanan, intimidasi dalam bentuk pengerahan massa diserukan dan dilakukan dengan dukungan FPI lewat corong mulut provokatif Rizieq FPI yang diserukan dari Surabaya. Gerakan kedatangan warga non-Jakarta di TPS hanya akan membuat keresahan dan warga terusik. Lucu dan menggelikan.

Tindakan untuk mengerahkan peserta Tamasya Al Maidah dari luar kota hanya akan menjadi tontonan warga dan menjadi bahan tertawaan bagi warga DKI Jakarta. Muka culun dan khas luar kota dan kampung akan tampak seperti peristiwa 212 dan 411 yang tidak laku di mata warga DKI. Mayoritas warga DKI Jakarta tidur dan menonton demo para orang dari luar Jakarta.

Kampanye menjurus SARA itu semakin menjauhkan swing voters, yang jumlahnya hanya sekitar 12%, yang tidak memilih Ahok maupun Anies untuk mendukung Ahok-Djarot yang berkampanye lebih manusiawi. Pun strategi didzolimi saat kampanye justru melekat ke pasangan Ahok-Djarot yang menyebabkan mereka mendapatkan simpati. Bahkan usai sholat Jumat pun Djarot diusir oleh jamaah – yang menunjukkan intoleransi dan masjid dijadikan komoditas politik.

Akibatnya, rakyat DKI Jakarta lebih memilih pasangan yang menunjukkan cara kampanye beradab dan bukan pamer kekuatan. Intimidasi kedatangan FPI dan antek-anteknya pendukung Anies akan membuat warga yang antipati pada FPI mengalihkan dukungan ke Ahok-Djarot. Sisi psikologis warga yang terusik membuat mereka berbalik melakukan perlawanan secara psikologis dan tidak sudi ditekan oleh FPI dan para pengikutnya.

Selamat memilih bagi warga Jakarta.

Salam bahagia ala saya.