Mohon tunggu...
Niko Simamora
Niko Simamora Mohon Tunggu... Pengajar - Menulis

@nikomamora~\r\nnikosimamora.wordpress.com~\r\nniko_smora@live.com\r\n

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Jokowi, Apakah Happy Ending?

1 November 2023   12:10 Diperbarui: 1 November 2023   12:10 246
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Analisis Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Pertanyaan di atas mengemuka dalam beberapa hari belakangan ini. Dengan segala dinamika yang terjadi, gerak-gerik Jokowi menjadi sebuah perhatian dari kebanyakan masyarakat Indonesia. Tidak berlebihan, bisa jadi hampir seluruh masyarakat yang berhak menjadi pemilih dalam Pemilihan Umum mendatang bertanya-tanya, ada apa?

Sekitar empat bulan lalu, melalui kanal ini, saya masih turut menuliskan kekaguman terhadap langkah-langkah Jokowi ke depan. Dengan segenap riwayat kepemimpinan yang ditorehkan, Jokowi dapat disimpulkan sebagai seorang pemimpin yang bernyali. Selengkapnya di sini.

Pernyataan-pernyataan Jokowi sebelumnya sering sekali di luar dugaan, mengundang decak kagum, banyak yang standing applause. Namun, semakin ke sini, terasa ada perubahan sikap yang drastis. Berbalik 180 derajat. Perubahan sikap tersebut sangat nyata, tanpa tedeng aling-aling.

Sejenak kita coba refleksi bagaimana Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ketika akan mengakhiri masa jabatannya di periode kedua. Dengan kemunculan yang fenomenal di periode pertama, periode kedua, SBY didukung oleh mayoritas pemilih dalam satu kali putaran Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2009.

Menjelang habis masa jabatan, SBY sontak kehilangan kekuasaan. Ada banyak kasus korupsi yang mencuat ke publik, bahkan menyeret anggota kabinet yang berasal dari Partai Demokrat, partai pemenang kala itu. Belum lagi kita bisa merasakan munculnya gerakan-gerakan kekerasan terhadap kaum minoritas. Dan paling menarik adalah bagaimana dinamika di partainya sendiri akhirnya menimbulkan sentimen negatif terhadap kepemimpinan SBY.

Dinamika yang terjadi menjelang akhir masa kepemimpinan SBY tersebut, pada akhirnya dapat dikesampingkan. SBY dengan legowo turun tahta, bisa dianggap tanpa menyisakan jejak-jejak untuk melanggengkan kekuasaan.

Para calon suksesor kala itu memasuki arena kompetisi yang sempurna, tanpa petahana dan persepsi masyarakat yang menginginkan perubahan. Tahun 2014, Jokowi muncul dengan fenomenal, diendorse oleh PDI Perjuangan. Dan melesat menjadi simbol perubahan dan dipercaya sebagai pemimpin yang berasal dari rakyat.

Dengan dukungan dari partai dan relawan, Jokowi duduk di singgasana Istana Negara sejak tahun 2014. Dalam sembilan tahun kepemimpinan, Jokowi berhasil menunjukkan kinerja yang nyata di masyarakat, terutama untuk pembangunan infrastruktur. Meski demikian, perlu kita tanyakan lagi bagaimana gaung Revolusi Mental yang sempat dimunculkan kembali oleh Presiden Jokowi.

Hal ini bisa menjadi perenungan bersama. Machiavelli pernah berpendapat bahwa kekuasaan ketika sudah dalam genggaman, harus dipertahankan dengan segala kekuatan. Setiap perlawanan yang muncul untuk melanggengkan kekuasaan dianggap sebagai virus yang wajib dimatikan. Ibarat penyakit yang menyebar bila sudah terinfeksi virus, lebih baik bagian tubuh tersebut dipotong.

Dan dalam hal melanggengkan kekuasaan yang sudah berhasil direbut, penguasa bisa bertindak seperti orang suci  layaknya anak domba hingga mengganas seperti serigala. Plautus menyebutnya 'homo homini lupus'. Namun, seganas apapun serigala, dia tidak akan mengkhianati kawannya. Seganas apapun serigala, dia akan luluh oleh cinta.

Inilah sedikit titipan kesan untuk Presiden Jokowi menjelang akhir masa jabatannya. Siapa kawan? Siapa yang harus dicintai, tentu ada dalam pilihan Presiden Jokowi sendiri. Apakah happy ending? Mari kita saksikan bersama-sama, tentu dengan hati riang gembira, penuh sukacita, tanpa membawa-bawa perasaan yang menggila.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun