Mohon tunggu...
Niko L
Niko L Mohon Tunggu... Menulis untuk sembuh

Hidup di Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

PR Biden: Memulihkan Soft Power AS

21 November 2020   08:59 Diperbarui: 21 November 2020   09:03 99 10 2 Mohon Tunggu...

Joe Biden sudah pasti memenangkan pemilihan presiden AS. Di dalam negeri, kerja besar yang menuggu Biden adalah pandemi corona yang telah menyebabkan  253 ribu orang meninggal. Keluar negeri, selain masalah hubungan dengan Cina, Biden harus berupaya memulihkan citra dan peran global AS.

Sejak berkuasa, Trump membangun kebijakan politik luar negeri yang cenderung isolasionis. Slogan Make America Great again diterjemahkan ke dalam kebijkan anti-imigran, perang dagang dan penarikan diri dari peran global AS. Tindakan Trump selain merugikan AS juga mengancam stabilitas internasional.

Bagi AS, politik isolasionis Trump menyurutkan kekuatan soft power (kekuatan lunak) AS. Secara sederhana, soft power (Nye, 2008) adalah kemampuan mempengaruhi, bukan karena takut pada senjata (baca: kekuatan militer), tetapi karena ide-ide, gagasan,  budaya dan hadiah yang diberikan. 

Semua ini membuat sebuah negara mampu mempersuasi negara lain  untuk mengikuti kemauannya. Ide tentang demokrasi adalah satu kekuatan soft power. Hadiah, berupa bantuan pembangunan juga jadi alat untuk membujuk negara lain.

Amerika menjadi kiblat dunia, karena ide-ide dan praktek demokrasi yang ditiru negara lain. Ide-ide tentang kekuatan mekanisme pasar bebas, juga membuat model ekonomi AS dijiplak negara-negara lain. Kekuatan sof power Indonesia adalah pluralitas budaya dan toleransi. Meski yang terakhir mulai diragukan banyak pihak akhir-akhir ini.

Politik isolasionis Trump merusak pengaruh global AS. Padahal sejak perang dunia kedua, AS selalu terlibat dalam berbagai krisis global. Melalui USAID (United States AID), badan pembangunan internasional AS, AS selalu berada di garis depan dalam upaya memerangi kemiskinan, wabah penyakit dan masalah pembangunan di negara berkembang.

Dalam kasus pandemi Corona, Trump melakukan tindakan yang sangat fatal. Bukannya memimpin perang global melawan pandemi, ia malah membawa AS keluar dari WHO pada bulan Juli 2020. Tindakan Bush ini membuat pengaruh  Cina menguat dalam WHO dan dalam politik global.

AS juga tidak hadir membantu negara-negara lain. Trump sibuk dengan urusan wabah dalam negeri. Kevakuman ini diisi oleh Cina melalui bantuan peralatan kesehatan dan dokter. Bantuan cina membawa keuntungan politik. Pertama, masyarakat global lupa bahwa pandemik ini berasal dari keteledoran Cina mengisolasi kasus pertama, dan kedua meningkatkan soft power Cina.

Meski harus diakui bahwa AS dalam beberapa isu internasional, seperti terorisme, AS bertindak unilateral. Negara ini kadang-kadang tidak peduli pada suara masyarakat internasional. Dengan kata lain, AS adalah hegemon yang buruk. Namun tindakan Trump menarik diri dari percaturan global membahayakan keamanan internasional.

Kevakuman akan menggoda kekuatan dominan baru, dalam hal ini Cina, untuk menggantikan peran AS. Tanpa kekuatan penyeimbang, Cina akan menjadi bahaya baru bagi perdamaian internasional. Sebagai kekuatan dominan, dua negara ini mungkin sama-sama menyebalkan. 

Perbedaannya adalah AS memiliki tradisi demokrasi, perlindungan hak asasi, masyarakat sipil yang kuat. Pada tingkat tertentu, faktor-faktor itu meredam kebijakan buruk AS dalam politik internasional. Misalnya, tekanan kelompok pembela HAM dalam negeri, membuat AS harus memperhatikan prinsip-prinsip hak asasi dalam operasi militer global.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x