Mohon tunggu...
Niken Satyawati
Niken Satyawati Mohon Tunggu...

Ibu 4 anak, tinggal di Solo. Memimpikan SEMUA anak Indonesia mendapat pendidikan layak: bisa sekolah dan kuliah dengan murah. Berharap semua warga Indonesia mendapat penghidupan layak: jaminan sosial dan kesehatan. TANPA KECUALI. Karena begitulah amanat Undang Undang Dasar 1945.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Si Bapak Jamban, Pahlawan Sanitasi dari Probolinggo

29 Maret 2017   13:54 Diperbarui: 6 April 2017   09:51 1072 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Si Bapak Jamban, Pahlawan Sanitasi dari Probolinggo
dokumentasi pribadi

Namanya Sulistyo Triantono Putro. Tapi nama panggilannya Anton. Saya beruntung dipertemukan dengan mas Anton di forum diskusi yang diprakarsai Water.org di Wonosobo, Jawa Tengah, baru-baru ini. Pria kalem ini lahir 8 mei 1975. Dia diundang khusus dalam acara itu untuk menceritakan kisahnya yang luar biasa di bidang sanitasi, sehingga membuat dia dijuluki sebagai Bapak Jamban. 

Sehari-harinya Mas Anton  merupakan seorang abdi pemerintah. Dia berdinas sebagai sanitarian di Puskesmas Wonoasih, Probolonggo, Jawa Timur. Sebagian masyarakat Kecamatan Wonoasih, tempat dia bekerja tak mempunyai jamban. Mereka mempunyai kebiasaan buang air besar di kali. Kebiasaan buang air di kali dianggap lebih praktis oleh masyarakat setempat. Akhirnya mereka tak merasa perlu mambangun jamban. Mereka tinggal pergi ke kali setiap kali mau buang hajat. Kendati persoalan datang kalau ada yang sedang kena diare sehingga harus sering-sering buang hajat, belum lagi masalah keamanan. Namun persoalan ini tak terlalu dipikirkan.

Untuk diketahui, 4.000-an warga kecamatan Wonoasih belum memunyai jamban. Jumlah yang wow, bukan? Mereka merasa lebih nyaman buang air di kali. Padahal selain untuk buang air, kali di Wonoasih juga diakai untuk mencuci pakaian dan kebutuhan lainnya. Bermula dari keprihatinannya melihat masyarakat yang belum sadar akan pentingnya kebersihan, apalagi mengingat statusnya sebagai sanitarian di wilayah tersebut, Mas Anton pun terpanggil untuk melakukan sesuatu. Namun tidak mudah meyakinkan dan menyadarkan  masyarakat akan pentingnya keberadaan jamban di setiap keluarga. Masyarakat telanjur biasa buang air besar di kali. 

Maka dia kumpulkan masyarakat untuk diberi penyuluhan. Mas Anton membawa bekatul yang dibasahi dengan air di acara-acara penyuluhan itu. Bekatul kalau dibasahi air mirip dengan kotoran manusia. Dia mengumpamakan bekatul itu sebagai tinja. Bekatul menjadi media peraga untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan kebersihan. Salah satu peragaannya adalah masyarakat diminta minum air kemasan. Lalu air kemasan diberi sedikit bekatul yang diumpamakannya sebagai kotoran manusia. Kemudian dia menawarkan kepada masyarakat apakah masih mau minum atau menggunakan air yang sudh kotor itu? 

Dengan cara demikian, Mas Anton menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan. Ketika setiap pagi sekeluarga buang air di kali, bisa dibayangkan berapa jumlah kotoran manusia yang sudah mencemari kali di Wonoasih. Akhirnya masyarakat sedikit demi sedikit mulai sadar akan pentingnya mempunyai jamban sendiri. 

Namun persoalan belum selesai. Masyarakat mengeluh karena untuk membuat jamban, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. akhirnya mas anton menginisiasi arisan jamban yang dinamainya dengan rogram Sii Inol Aja, keanjangan dari Sistem Inovasi Layanan ArisanAangsuran Jamban,  yaitu pelayanan pemenuhan saranan hamban sehat untuk masyarakat. Bukan karena adanya hibah dana, melainkan kepemilikan dengan sistem arisan atau angsuran.

Mas Anton sendiri yang terjun ke masyarakat untuk berembuk soal pembuatan jamban hingga menarik dana setia bulan, memastikan mereka mambayar angsuran. Mas Anton jadi seperti tukang kredit. Sanitarian yang satu ini tak kenal lelah dan mengupayakan pembangunan jamban semurah mungkin untuk msayarakat Wonoasih. Inspirasi ini akhirnya didengar oleh media. Dan kisah Mas Anton mulai ditulis dan dia pun pernah diundang untuk membagikan kisahnya di program acara televisi nasional.

Hingga suatu ketika dia ditelepon seorang pejabat Mabes TNI, untuk sharing pengalaman karena TNI ingin mencontoh program yang sudah dijalankan di Kecamatan Wonoasih. 

Terlalu lama bila menunggu kehadiran negara dalam persoalan-persoalan seperti ini. Persoalan sanitasi, akhirnya memang menjadi tugas bersama. Untung saja di tengah carut marut bangsa karena masalah politik, selalu saja ada orang-orang kiriman Tuhan seperti Mas Anton, yang mendedikasikan diri untuk mengatasi masalah seperti ini. Mengatasi masalah penting yang terlupakan.

Terima kasih atas inspirasinya, Mas Anton... 

Solo, 29 Maret 2017

VIDEO PILIHAN