Mohon tunggu...
NICKEN LARASATI
NICKEN LARASATI Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Surabaya

Kesehatan mental, sosial, diri sendiri.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Masuk BK, Murid Nakal?

27 November 2022   21:06 Diperbarui: 27 November 2022   21:47 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Seperti yang kita tahu, Bimbingan dan Konseling atau yang biasa kita sebut sebagai BK adalah salah satu layanan pendidikan yang ada di sekolah. pemerintah telah menetapkan BK sebagai kurikulum yang harus ada pada setiap sekolah. Upaya pemerintah ini bertujuan untuk membantu permasalahan peserta didik menangani permasalahannya. Namun, Bimbingan Konseling saat ini memiliki stigma yang kurang baik dikalangan masyarakat, atau bahkan warga sekolah itu sendiri.

Beberapa kondisi yang sudah terjadi mengenai kesalahan penerapan layanan Bimbingan dan Konseling membuat stigma itu muncul dan terus berkembang hingga saat ini. Ketidaksesuaian penerapan prinsip dan asas Bimbingan Konseling yang menciptakan kesalahan hingga muncul persepsi buruk tentang BK semakin memperburuk citra BK itu sendiri.

Kurangnya informasi yang diberikan mengenai tugas dan peran BK yang sesungguhnya membuat stigma buruk ini tetap bertahan di pikiran banyak orang. Pikiran-pikiran buruk mengenai BK membuat hilangnya kepercayaan peserta didik terhadap Bimbingan dan Konseling. 

Tak hanya pada peserta didik, stigma buruk yang melekat pada guru BK juga tertanam pada guru serta orang tua yang seharusnya memiliki hubungan yang baik dengan konselor sekolah untuk sama-sama berperan dalam membantu peserta didik. Mereka berpikiran bahwa guru BK merupakan guru pengganti tugas tata tertib yang seringkali memberi hukuman bagi siswa yang melanggar peraturan. padahal bukan itu tugas BK yang sebenarnya. Mindset seperti ini yang menyebabkan peran BK tak dapat dirasakan secara optimal.

Seringkali peserta didik, guru dan orang tua menganggap bahwa ketika ada peserta didik yang datang ke ruang BK berarti ia adalah seorang murid yang nakal atau tengah menerima hukuman. Hal ini membuat peserta didik enggan mendatangi ruang BK dan melaksanakan layanan Bimbingan Konseling karena takut di cap sebagai 'murid nakal'. Bahkan orang tua juga masih banyak yang memiliki pemikiran demikian. 

Tugas dan peran dari Bimbingan Konseling ini perlu kita luruskan dan menjadi tantangan yang cukup sulit bagi para guru BK mengingat saat ini masih banyak sekali stigma-stigma buruk dan sallah yang menyebar tentang guru BK.

Salah satu peran guru BK adalah melakukan layanan individu, layanan kelompok, serta layanan bimbingan konseling lainnya yang perlu melibatkan peserta didik secara langsung. Ruangan BK diciptakan dengan nyaman untuk menciptakan suasana konseling yang nyaman pula serta bersifat rahasia. Bukan sebagai tempat hukuman bagi para peserta didik.

Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dan kerja sama dari seluruh pelaku pendidikan untuk mengubah stigma buruk yang melekat pada layanan Bimbingan dan Konseling untuk menciptakan suasana belajar serta peserta didik dapat terbantu secara penuh dan utuh untuk menyelesaikan masalahnya tanpa harus diberi embel-embel yang akan melekat padanya sebagai 'anak nakal'.  

Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun