Ekonomi Pilihan

Antara Harapan dan Kenyataan

15 Juli 2017   20:37 Diperbarui: 15 Juli 2017   20:43 332 0 0

Indonesia boleh berbangga bahwa S & P ( Standard & Poor ) telah menaikkan status Indonesia dari peringkat BB+ ( Positive Outlook ) menjadi  BBB- ( Stable Outlook ). Disamping itu presiden Jokowi juga dinyatakan sebagai pemimpin terbaik se Asia -- Australia pada tahun 2016 versi Bloomberg. Presiden Jokowi di nilai telah berhasil dalam menjaga tiga faktor yang menjadi kategori penilaian yaitu fluktuasi kurs, pertumbuhan ekonomi dan rating penerimaan publik.

Kedua berita positif ini memamg memberikan harapan besar terhadap perekonomian Indonesia secara menyeluruh bergerak kearah yang lebih baik.

Beberapa indikator positif terhadap perekonomian kita bisa dilihat dari pertumbuhan ekspor dari Januari -- Maret di tahun 2017 meningkat 20,84% dibandingkan tahun 2016 (40.607 juta US$ ditahun 2017, 33.602,70 juta US$ ditahun 2016 ). Sementara itu nilai import pada periode yang sama ditahun 2017 adalah sebesar 36.680,2 juta US$, tahun 2016 sebesar 31.944,3 juta US$.

Dengan demikian neraca perdagangan Indonesia selama periode Januari -- Maret 2017 mengalami surplus 3.926,8 juta US$. Surplus perdagangan ini tentunya akan memberikan dampak terhadap cadangan devisa yang meningkat. Di akhir April 2017 ini bahkan menjadi cadangan devisa tertinggi yang pernah dicapai yakni sebesar US$ 123,2 miliar. Kenaikan cadangan devisa ini memang tidak hanya diperoleh dari surplus perdagangan saja tetapi juga atas penerimaan pajak, hasil lelang  Surat Berharga Bank ( SBB ) Indonesia valuta asing yang melampaui kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBB valas yang jatuh tempo. Kenaikan cadangan devisa ini akhirnya membuat pergerakan fluktuasi kurs USD terhadap rupiah relatif stabil ( berkisar Rp 15.300 -- Rp 13.400 per 1 USD )

 

Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Indonesia memang cukup tumbuh dengan baik ditengah ekonomi global yang melemah, Indonesia masih tumbuh 5,02% ditahun 2016. Di kuartal I -- 2017 tercatat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,01 persen. Ada beberapa hal yang harus di waspadai agar tingkat pertumbuhan ekonomi dapat terjaga stabil yakni tingkat inflasi yang harus di jaga stabil disekitar 4%. Fluktuasi harga bahan pokok bisa dijaga apalagi menjelang saat puasa dan lebaran. Pemerintah harus mengambil alih tanggung jawab dalam menjaga supplai beberapa bahan pokok agar cukup tersedia dipasar sehingga tidak terjadi kenaikan harga yang tajam. Pertumbuhan konsumsi harus di dorong meningkat dengan menjaga nilai tukar rupiah yang stabil. Pertumbuhan konsumsi  juga dibantu oleh kenaikan harga komoditas yang sudah mulai bergerak tumbuh keatas sehingga daya beli masyarakat juga meningkat. Namun tingkat pertumbuhan ekonomi selama kuartal I 2017 kontribusi terbesar berasal dari komponen ekspor barang dan jasa.

Bagaimana dengan Pertumbuhan Retail ?

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi ternyata tidak membuat pertumbuhan bisnis industry retail lebih baik apabila kita perhatikan jika anda jalan -- jalan ke pusat pembelanjaan, sekarang ini banyak toko --toko yang telah ditutup. Pertumbuhan retail di kuartal I 2017 turun sekitar 20% dibandingkan tahun 2016. ( Tahun 2017 kuartal I nilai transaksi sebesar sekitar 30 triliun, sedangkan pada periode yang sama ditahun2016 adalah sebesar Rp 40 triliun ). Industri retail yang kurang bergairah di kuartal I karena faktor banyak demo selama pilkada yang membuat masyarakat khawatir dan tidak keluar untuk belanja khususnya di berbagai pusat pembelanjaan retail . Disamping itu program tax amnesty juga membuat uang yang di pakai untuk membayar tembusan harta yang dibayarkan kepada negara membuat alokasi untuk konsumsi menjadi berkurang banyak. Pemerintah dalam hal ini harus bisa menjaga keamanan yang lebih stabil dan suasana yang kondusif sehingga bisa memberikan rasa aman yang tinggi buat masyarakat. Tindak tegas semua pelaku anarkis dan radikalisme yang membuat suasana gaduh di masyarakat.

Indikator lain yang sangat penting adalah kemampuan pemerintah menjaga resiko fiskal yang semakin baik melalui kebijakan anggaran pemerintah yang produktif, menjaga tingkat defisit sebesar 2,41% atau sebesar 330 triliun, dan yang terakhir adalah penurunan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto.

"Beberapa hal yang harus dilakukan untuk menjaga momentum perkembangan ekonomi yang sudah terarah"

Pertama, menjaga stabilitas keamanan pasca pecahnya masyarakat akibat Pilkada Jakarta. Sudah saatnya pemerintah berani bertindak tegas untuk melakukan tindakan hukum terhadap siapapun juga yang mencoba melakukan politik adu domba dan membuat perpecahan serta keadaan gaduh di masyarakat. Presiden bersama penegak hukum harus bisa meyakinkan pihak investor tentang penegakan hukum yang adil, transparan dan tanpa tempang pilih untuk menjamin adanya kepastian hukum ada di Indonesia tanpa ada intervensi atau tekanan dari pihak manapun juga. Hukum diatas segalanya.

Kedua, Pengelolaan APBN harus di kawal dengan baik agar tidak dikorupsi serta fokus pada belanja prioritas yang produktif. Jangan lagi ada anggaran pembelian UPS, jangan lagi ada anggaran gaji guru yang menggelembung, jangan ada kasus E-KTP yang lain lagi. Semua kebijakan anggaran harus realitis.

Ketiga, Kemudahan berusaha terus dilaksanakan, pangkas ijin-ijin yang terlalu panjang dan lama, berantas pungli terus dilakukan agar tidak ada lagi pungutan liar yang membuat " High Cost Economy ". Presiden Jokowi telah menetapkan kemudahan berbisnis di Indonesia harus dibawah 40. Posisi sekarang ada di peringkat 91. Pangkas dan perbaiki semua Perda, Permen, bahkan Penpres yang menghambat kemudahan berbisnis ( Ease of Doing Business )

Keempat, yang menurut saya sangat penting adalah manusia atau masyarakatnya. Sikap mental, moralitas, rasa nasionalis harus diperbaiki, di samping  kualitas sumber daya manusianya. Kita tahu banyak orang pintar di negeri ini tapi apakah ada banyak yang mempunyai sikap mental, moralitas dan rasa nasionalis yang baik. Korupsi masih terjadi dimana -- mana, penguasa menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan demi kepentingan politik dan bisnisnya, sikap apatis terhadap kondisi negara, yang penting kantong saya aman. Kita masih saling menghujat dan memaki karna perbedaan pandangan atau sibuk mencari perbedaan. Alangkah indahnya kita bersatu fokus untuk mengerjakan hal yang produktif. Sebagai catatan akhir, saya ingin mengutip perkataan Peter Drucker yang dikenal sebagai bapak " Manajemen Modern" yang mengatakan " The ultimate resource in economic development is people. It is people, not capital or raw materials that develop an economy "



Dr. Ngadiman

Pengamat Ekonomi

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara