Mohon tunggu...
Nurul Furqon
Nurul Furqon Mohon Tunggu... Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Nama saya Nurul Furqon, saya berasal dari kabupaten Sumedang, riwayat pendidikan saya SDN Babakandesa, SMPN 1 Cibugel, SMAN Situraja. Dan sekarang saya menjadi Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Dari Manakah Kebenaran Berasal dan Apa Itu Kebenaran?

17 Oktober 2020   17:00 Diperbarui: 17 Oktober 2020   16:58 159 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dari Manakah Kebenaran Berasal dan Apa Itu Kebenaran?
Gambar dok. pribadi

Ketika kita berbicara mengenai kebenaran pasti kita bingung benar menurut siapa, di dunia ini tidak ada kebenaran yang mutlak, karena kebenaran yang mutlak hanya dari tuhan sang pemilik semesta alam, kita manusia hanya menerka-nerka kebenaran yang mana yang bisa kita pakai, mengingat kebenaran dari tuhan itu turun melalui agama, sedangkan kita saja tidak tahu agama mana yang benar, karena kita belim pernah membuktikannya, atau dengan kata lain kita belum pernah mati, kita belum pernah menyaksikan keberadaan tuhan, tapi satu hal yang bisa kita yakini tuhan itu ada.

Terlepas dari agama mana yang benar, semua agama pada ujung-ujungnya adalah kebaikan, akhir dari agama adalah humanisme, agama ada untuk mengatur seluruh mahluk tuhan agar bisa hidup berdampingan secara damai, maka dari itu kita tidak perlu memperdebatkan agama dan membeda-bedakannya, semua ada tempatnya, kita mahluk tuhan hidup sebagai penghuni bumi dengan membawa kebaikan tuhan kepada seluruh mahluknya, dan kita hidup di bumi sebagai hamba yang berbakti pada tuhan. Cara kita menyembah tuhan kita memang berbeda karena kita menganut ajaran agama yang berbeda tapi kita mahluk tuhan yang membawa kebaikan tuhan memiliki cara hidup yang sama, yaitu menyebar luaskan kasih sayang tuhan di muka bumi ini tanpa pandang bulu.

Lantas dari manakah sumber kebenaran yang kita pakai agar dunia ini bisa damai, sedangkan kita saja tidak punya tolak ukur kebenaran yang mutlak, seperti contohnya bagi orang muslim pakaian yang benar adalah tertutup tapi bagi orang non muslim pakaian tidak selamanya harus tertutup, selama tidak mengganggu orang lain dan dirinya itu tidak masalah, memang cara berpakaian kedua hal tersebut berbeda tapi ada satu hal yang sama yaitu pakaian yang sopan, yaitu pakaian yang tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Begitupun dengan hal lainnya, tolak ukurnya adalah tidak mengganggu kenyamanan orang lain, dari sanalah kita memiliki tolak ukur yaitu terciptanya etika dan moral.

Setiap manusia memiliki hati, dan sifat dari hati manusia akan selalu mendorong pemiliknya untuk berbuat kebaikan, disaat seperti apapun hati manusia akan lebih condong pada kebaikan dan menolak pada keburukan, misalnya ketika ada orang kelaparan pasti kita akan simpati dan ingin menolongnya, kita juga pasti akan menolak diri kita untuk membunuh orang lain apapun alasannya. Setiap orang yang memiliki kecondongan untuk berbuat dan perbuatan itu dilakukan secara masif maka akan menjadi sebuah kebudayaan, setiap manusia akan sepakat bahwa membunuh orang adalah salah dan menolong orang yang membutuhkan adalah harus, maka kontruksi itu di terapkan oleh akal pikiran manusia.

Namun bagaimana dengan perang ? Bukankah dalam perang membunuh orang adalah harus karena jika kita tidak membuhnya maka dia akan membunuh kita. Jawabannya adalah keyakinan yang kita pegang, apa yang sedang kita perjuangkan ? Jika sebuah kaum saling berperang dan tidak ada yang mau berdamai maka satu satunya jalan untuk mencapai perdamaian adalah salah satu harus musnah, itulah manusia untuk bisa memenuhi hasratnya mereka akan lupa akan hal lain.

Penjajahan dilakukan, pertempuran di kobarkan, perang besarpun terjadi, kematian dimana-mana, pertumpahan darah akan menjadi sebuah tontonan. Itu terjadi karena adanya kesalahan dalam diri manusia itu sendiri, mereka lebih mementingkan ego mereka dibandingkan nurani mereka, manusia yang rakus pasti akan merampas milik orang lain meski cara yang dilakukan kotor. Maka jika kita yang sedang di serang tidaklah salah jika kita memperjuangkan apa yang menjadi milik kita, kita tidak mungkin mau memberikan negara kita pada penjajah bukan ? Negara kita adalah milik kita dan ada banyak nyawa di negara kita yang harus dilindungi dan yang pasti agar anak cucu kita tidak mengalami masa masa sulit.

Balik lagi tolak ukur dari kebenaran adalah etika dan moral manusia yang tercipta dari hati manusia kemudia di kontraksikan melalui akal pikiran manusia yang menjadi sebuah perbuatan, sehingga menjadi sebuah kebudayaan yang melakat, itulah yang membuat kebudayaan di setiap daerah berbeda beda, tolak ukur kebenaran berbeda beda, mulai dari berpakaian sampai cara berinteraksi. Bagi kita orang indonesia senyum adalah hal yang baik karena menandakan keramah tamahan kita, tapi tidak bagi negara lain, tersenyum di negara lain bisa berarti ajakan berhubungan seksual.

Etika dan moral yang tercipta kini telah menjadi sebuah norma norma yang patut kita jalankan, berbuat baik tanpa pandang bulu, cara berbuat baik di setiap tempat memang berbeda tapi ingatlah semuanya sama yaitu tidak menganggu kenyamanan orang lain, setiap orang memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga hak orang lain. Kita tidak bisa memaksakan kebenaran menurut kita kepada orang lain, begitupun sebaliknya, semua orang memiliki caranya masing-masing, baik menurut agama atau kebudayaannya.

Yang perlu kita lakukan hanyakah saling menghargai perbedaan satu sama lain dan tidak saling memaksakan, apalagi menghakimi orang lain dengan cara kita, itu adalah hal yang sangat salah. Bukankah mengenakan kemeja lengan panjang dan celana katun layaknya pakaian kantor adalah bagus ? Tapi bagaimana jika kita menggunakannya ke sekolah atau tempat olahraga ? Bukankah itu akan membuat kita terkesan konyol.

Terima Kasih

Salam dari Penulis

Nurul Furqon

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x