Neno Anderias Salukh
Neno Anderias Salukh Petani

Anak petani dari desa yang sedang belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara Pilihan

Jokowi ke Kupang karena Rasa Cinta

10 April 2019   08:40 Diperbarui: 10 April 2019   09:20 232 11 2
Jokowi ke Kupang karena Rasa Cinta
Dokumenter: James Mage

Kampanye terbuka Jokowi di Kupang menjadi momen menarik bagi anak muda dan masyarakat Kota Kupang pada umumnya. Bahkan, beberapa orang rela pergi dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka.

Stadion Sitarda yang berada di kelurahan Lasiana Kupang seakan tidak terlihat. Jalan  Timor Raya pun susah untuk dilewati karena dipenuhi oleh kendaraan. Para Polisi Lalu Lintas kesulitan mengatur arus lalu lintas yang memusingkan.

Keadaan ini menunjukkan bahwa kehadiran Jokowi di Kupang benar2 dinantikan oleh masyarakat Nusa Tenggara Timur. Masyarakat sangat simpatik dan berharap Jokowi kembali memimpin Indonesia. Padatnya lapangan kampanye bukan hanya sekedar mencari sebungkus nasi atau sebatang rokok maupun selembar baju kaos tetapi kehadiran masyarakat ini sebagai rasa cinta masyarakat NTT kepada Jokowi yang terlebih dahulu mengajarkan rasa cinta itu.

"Saya kembali ke sini karena rasa cinta" kata Jokowi dalam kampanye terbuka tersebut.
Siapa yang bilang tidak, siapa yang membantah? Jokowi sudah membuktikan cintanya kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur.

Pembangunan 7 bendungan di Nusa Tenggara Timur lebih banyak dari provinsi-provinsi yang lain.
"NTT mendapatkan prioritas dalam penanganan masalah air minum, oleh karena itu, NTT mendapatkan 7 bendungan sedangkan daerah yang lain cukup satu" cerita Jokowi.
Bahkan dari semua program bendungan, Bendungan pertama yang telah diresmikan adalah bendungan Raknamo yang letaknya di Kabupaten Kupang-NTT.

Dalam kampanye terbuka ini, ada beberapa kalimat yang diteriaki oleh masa bukan karena Jokowi salah berbicara tetapi Jokowi mengucapkan sebuah kalimat berbahasa Kupang.
"Lu pung kabar dong karmana?
Bae-bae sa ko?" Tanya Jokowi kepada orang Kupang.
Pertanyaan ini diulangi sebanyak dua kali.
"Bae-bae sa" masa berteriak ramai-ramai.

Jokowi berbicara bahasa Kupang mengundang banyak reaksi dari masa yang hadir. Reaksi itu kemudian diexpresikan melalui media sosial, Facebook, Twitter, WhatsApp dan lain-lain.
Video pembicaraannya beredar dan ditayangkan. Ada yang memberi emoticon tertawa, ada yang memberi emoticon mata hati dan sebagainya.

Reaksi dengan emoticon tertawa karena Jokowi berbicara bahasa Kupang dengan logat Jawa. Bagi orang Kupang, lucu jika berbicara menggunakan sebuah bahasa, logatnya menggunakan bahasa lain. Akan tetapi, menarik untuk didengar.

Dalam masyarakat Dawan, ketika seseorang datang ke Timor dan berusaha berbahasa Dawan, akan di sambut positif dengan lelucon. Ini sebenarnya bukan salah atau tidak baik tetapi menarik untuk didengar.

Reaksi dengan emoticon hati merupakan reaksi senang dan rasa cinta karena Jokowi terasa sebagai orang Kupang. Bahkan, Jokowi terasa seperti seorang kawan mengingat pertanyaan seperti ini biasa terjadi di dalam pertemanan kalangan anak muda. Semua ini karena Jokowi berbicara bahasa Kupang dan lebih dari itu, Jokowi sudah sering kali berkunjung ke NTT. Bahkan, Pulau paling selatan Indonesia telah dikunjungi oleh Jokowi. Berdasarkan beberapa cerita dari beberapa teman di Pulau Rote, Jokowi menjadi presiden pertama yang berkunjung ke sana.

Jokowi tidak seperti presiden yang lain. Bahkan, ada presiden yang menjabat dua periode hanya datang satu kali. Lebih dari itu, NTT diabaikan.

Salah satu program yang menjadi kekaguman masyarakat di pedalaman Nusa Tenggara Timur adalah kesejahteraan sosial.
"Sampai Jokowi baru kami dapat uang seperti PNS, kami pikir hanya PNS saja yang dapat gaji padahal kami juga dapat. Bahkan anak yang masih dalam kandungan ibunya pun dapat uang" cerita seorang petani di kabupaten Timor Tengah Selatan.
Rupanya, Kesejahteraan sosial menjadi program yang sangat membantu masyarakat kecil.

"Dulu kami cas hp, harus jalan ke pusat kecamatan sejauh 10 km, sekarang kami sudah punya listrik sendiri. Dulu kami listrik, sekarang listrik cari kembali kami" cerita seorang pemuda desa dengan kagum karena ini belum pernah dilakukan oleh presiden manapun yang berani mengatakan "Listrik masuk desa dan desa harus terang".

Salah satu program yang sangat penting untuk terus ditingkatkan adalah Dana Desa yang berjumlah Miliaran Rupiah.
Dr. Rumadi Ahmad, ketua Lakpesdam PBNU mengatakan melalui kata pengantarnya dalam buku Panduan Pelaksanaan Undang-Undang Desa Berbasis Hak bahwa sepanjang sejarah Indonesia, cerita mengenai desa atau cerita tentang desa, merupakan sebuah cerita kekalahan. Bahkan, citra orang kalah, miskin, pinggiran, keterbelakangan, dan kebodohan identik dengan desa. Di Jawa, orang-orang desa sering dibilang Ndeso dalam bahasa Jawa dan biasanya di NTT dibilang UD (Utusan Daerah) dengan nada penuh hinaan. Kebanyakan di ucapkan sambil tertawa terbahak-bahak.

Untuk mengakhiri cerita ini, Jokowi memprioritaskan pembangunan di desa dengan anggaran dana desa yang meningkat dari dulu kurang lebih seratus juta, sekarang desa sudah bisa mengelola uang sampai dengan Miliaran rupiah. Tentunya ada perubahan signifikan setelah ada perubahan anggaran ini.

Sekarang desa-desa sudah mulai maju, jalan-jalan sudah diperbaiki, rumah-rumah masyarakat yang tidak layak huni sudah diganti, ada pengembangan literasi di desa dan masih banyak program-progam yang membantu pembangunan di desa.

Kehadiran Jokowi di Kupang bukan sekedar kampanye tetapi lebih dari itu adalah rasa cinta dan rasa memiliki NTT sebagai bagian dari Indonesia.  Rasa cinta itu telah terbukti dan melekat pada hati orang NTT.

Dalam sebuah percakapan dengan seorang petani di Desa Mauleum, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, saya sengaja bertanya siapa yang anda pilih pada Pilpres nanti?
"Pak, kami pilih yang sudah berbuat dan yang kami kenal" jawabnya.
Saya mencoba untuk mencerna jawabannya dan saya berikan kesempatan untuk anda sejenak mencerna kalimat itu.

Melalui tulisan ini, sebenarnya merupakan bentuk curahan hati atau yang dikenal dengan istilah curhat orang NTT bahwa sesungguhnya kami berubah dan merasa bahwa kami benar-benar bagian dari Indonesia serta mengalami salah satu bagian Pancasila yaitu Keadilan sosial ketika Jokowi memimpin republik ini.

Salam Indonesia.

Salam Jokowimaruf.