Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Catatan di Hari Sumpah Pemuda, Masih Ada Balita yang Kelaparan

28 Oktober 2020   20:49 Diperbarui: 28 Oktober 2020   21:03 36 17 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Catatan di Hari Sumpah Pemuda, Masih Ada Balita yang Kelaparan
Dokumen pribadi



Tujuh bulan sudah pandemi Covid-19 menghantam Indonesia. Bagaimana nasib anak-anak Indonesia, terutama mereka yang berada dalam garis kemiskinan? Sudah bisa dibayangkan kehidupan mereka kian terpuruk. Jangankan mereka, anak-anak yang kehidupan sebelumnya lebih baik saja, juga merasakan dampaknya.

Dalam satu keluarga, dalam situasi seperti itu, balita adalah kelompok yang paling rentan. Mereka sangat tergantung pada orang tua dalam pemenuhan gizinya, dan kebutuhan ini seringkali tergeser oleh kebutuhan keluarga yang lain. Seringkali anak usia dini atau balita di Indonesia mengalami kelaparan pada saat pagi hingga siang hari.

Covid-19 yang tiba-tiba menghantam sendi-sendi kehidupan masyarakat membuat kemiskinan kian bertambah, juga meningkatnya angka pengangguran. Tingkat pendidikan yang rendah membuat keluarga tak mampu berbuat banyak. Keluarga dan anak-anak yang jatuh miskin dalam waktu singkat akan mengalami dampak berat akibat kondisi ini.

Rasanya miris, selama 92 tahun Sumpah Pemuda diperingati masih saja kelaparan mewarnai negeri ini. Lihat saja hasil survei Foodbank of Indonesia (FOI) pada Agustus 2020 di 14 kota, sebanyak 27% balita mengalami kelaparan karena tidak makan dari pagi hingga siang hari. Bahkan di daerah padat perkotaan, angkanya bisa mencapai 50%.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam diskusi virtual bertajuk "Catatan di Hari Sumpah Pemuda: Media Bisa Akhiri Kelaparan pada Balita" yang saya ikuti, Rabu (28/10/2020). Diskusi yang diinisiasi FOI ini dibuka oleh Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM).

Diskusi ini menghadirkan Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Lenny N Rosalin, Hendro Utomo selaku founder FOI, wartawan Kompas Andreas Maryoto, artis Shanaz Haque, dan Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia Wida Septarina.

Dalam diskusi tersebut disampaikan jika kelaparan ini terjadi dalam jangka panjang dan tidak teratasi, kemungkinan anak akan mengalami gizi buruk yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Dokumen pribadi
Dokumen pribadi
"Melihat kondisi ini, peluang generasi yang hilang dalam situasi pandemi Covid-19 semakin terbuka, seperti yang terjadi pada rentang 1997 dan 1998 saat terjadinya krisis ekonomi," kata Hendro Utomo.

Selaku founder FOI, kegiatan diskusi ini dikatakan sebagai upaya FOI agar terus bergerak memerangi kelaparan pada balita untuk mencapai impian Indonesia merdeka. 

Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap media mengedukasi masyarakat bahwa balita adalah masa depan Indonesia yang harus dipenuhi nutrisinya melalui pangan lokal.

Dikatakan, media bisa melakukan banyak hal untuk membantu anak-anak balita demi masa depan Indonesia dengan cara membangun kesadaran, mengangkat pentingnya narasi pangan yang baik untuk anak-anak dan mengubah perilaku yang menyebabkan 27% anak-anak balita kita masih menderita kelaparan.
 
Sementara itu, Lenny N Rosalin mengungkapkan, berdasarkan laporan sensus penduduk pada Maret 2020 yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), rokok kretek filter ternyata menjadi pengeluaran terbesar kedua di dalam keluarga jauh di atas pemenuhan protein seperti telur ayam dan daging ayam, baik di kota maupun di desa.

Lenny merinci sebagaimana yang dikutipnya dalam laporan BPS tersebut, pengeluaran rokok kretet filter untuk keluarga di perkotaan mencapai 12,2% sedangkan di desa sekitar 10,9%. Pengeluaran untuk beras di perkotaan sebesar 20,2%, sedangkan di desa sekitar 25,3%.

Pengeluaran untuk protein telur ayam di perkotaan sebesar 4,3% dan 3,7% untuk di desa, sedangkan protein daging ayam sekitar 4,1% untuk keluarga perkotaan dan 2,4% di keluarga desa. Untuk mie instan mengambil porsi pengeluaran sebesar 2,3% di masyarakat kota dan 2,1% untuk masyarakat desa.

Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA Lenny N Rosalin memaparkan kondisi status gizi anak Indonesia (Dokpri)
Deputi Tumbuh Kembang Anak KPPPA Lenny N Rosalin memaparkan kondisi status gizi anak Indonesia (Dokpri)
Berdasarkan data itu, berarti sebagian besar keluarga di Indonesia lebih mementingkan pengeluaran untuk rokok dibandingkan kebutuhan gizi yang seimbang.

Itu menunjukkan persoalan kecukupan gizi belum mendapatkan perhatian serius di masyarakat. Karenanya, media berperan penting mengedukasi orang tua dan mengangkat isu pemenuhan hak anak atas pangan.

"Bersinergi memerangi kelaparan balita begitu penting demi kepentingan terbaik bagi 80 juta anak Indonesia, mereka adalah masa depan kita, dan generasi penerus bangsa," ujarnya.

Wartawan Kompas, Andreas Maryoto, yang dimintai pandangannya berpendapat media mempunyai peran menjadi motor untuk mengajak masyarakat memerangi kelaparan pada balita. 

"Media mempunyai peran penting dalam masyarakat, sebagai fungsi pendidikan, media harus secara aktif melakukan edukasi untuk mewujudkan Indonesia Merdeka dari rasa lapar," katanya.

Sesuai dengan Pasal 72 ayat (5) Undang-undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, peran media dalam perlindungan anak dilakukan melalui penyebarluasan informasi dan materi edukasi yang bermanfaat dari aspek sosial, budaya, pendidikan, agama, kesehatan anak dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

Dalam pemaparannya Wida, yang juga dosen komunikasi Universitas Indonesia, menyampaikan, sebelum pandemi Covid-19 saja Indonesia memiliki 7 juta balita yang mengalami stunting. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara kelima di dunia dengan balita stunting terbanyak (Riskesdas 2018).

Kurangnya perhatian keluarga terhadap kecukupan gizi ini menjadi salah satu penyebabnya. FOI pun berkomitmen untuk bergerak bersama membantu masyarakat dalam mencari solusi untuk penanganan permasalahan pangan dan gizi, khususnya bagi balita Indonesia.

Saat ini, terdapat 5.800 bunda yang bergerak bersama FOI membuka akses pangan bagi 52 ribu anak bersama memerangi kelaparan pada balita dan mencapai cita-cita bangsa untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Perilaku para orang tua yang merasa sudah cukup dengan memberikan uang saku juga menjadi sorotan dalam diskusi ini. Karena ketika anak jajan dengan uang saku tersebut, belum tentu makanan yang dibeli memiliki nutrisi atau kandungan gizi baik. Asupan gizi paling baik tetap sarapan di rumah. Gizi adalah hak anak sehingga orang tua tidak cukup hanya memberikan uang saku saja.


VIDEO PILIHAN