Mohon tunggu...
Tety Polmasari
Tety Polmasari Mohon Tunggu... Bunda tiga dara: Putik Cinta Khairunnisa, Annajmutsaqib, Fattaliyati Dhikra

Menulis cara saya meluapkan segala rasa: gelisah, marah, bahagia, cinta, rindu, harapan, kesal, dan lain-lain.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Meeting di Hotel, Begini Protokol Kesehatan Covid-19 (yang Saya Dapati)

1 Agustus 2020   18:05 Diperbarui: 1 Agustus 2020   18:28 27 5 0 Mohon Tunggu...




Perhotelan menjadi sektor yang paling terpukul akibat adanya pandemi Covid-19. Menurut data Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) pandemi ini telah menyebabkan lebih dari 2.000 hotel dan 8.000 restoran tutup. Jadi, dengan pemberlakuan new normal, perhotelan pun berbenah diri.

Pada Kamis (30/7/2020) pagi, saya ada agenda pertemuan dengan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) di Pomelotel, Tebet, Kuningan, Jakarta Selatan. Ini menjadi kali pertama saya ke hotel selama pandemi Covid-19. Jadi saya pun memenuhi undangan pertemuan ini. Saya penasaran saja bagaimana protokol kesehatannya?

Meski saya sering menghadiri agenda pertemuan di hotel, ini menjadi kali pertamanya pula saya ke hotel ini. Dari sekian banyak hotel yang saya singgahi, baru kali ini saya menjejakkan kaki ke hotel ini. Padahal posisi hotel ini berada di seberang gedung Smesco UKM, gedung yang sering saya singgahi.

Lantas kalau ada pertemuan di hotel, bagaimana protokol kesehatannya mengingat Covid-19 belum juga ada tanda-tanda berakhir? Ya protokol kesehatan memang menjadi bagian penting saat pandemi Covid-19. Jangan sampai memunculkan klaster baru kasus Covid-19. Setelah kemarin klaster perkantoran, masa harus ada klaster perhotelan? Ya mudah-mudahan ini tidak sampai terjadi, khususnya di wilayah DKI Jakarta.

***

dokpri
dokpri
Setelah melalui perjalanan selama 1,5 jam dengan menebeng mobil kawan saya, tibalah saya di hotel yang dimaksud. Sebelum memasuki lobby, saya diminta masuk ke ruang penyemprot disinfektan atau chamber disinfektan. Tubuh berputar, lalu disemprot. Oh begini ternyata. Terus terang, baru pertama kali saya disemprot begini. Norak ya? Hahaha...

Setelah itu, cuci tangan pakai hand sanitizer. Petugas yang mengenakan masker dan face sheild itu pun menyemprotkan cairan disinfektan ke telapak tangan saya. Kemudian petugas mengecek suhu tubuh saya dengan thermo gun. Karena suhu saya normal, saya pun dipersilakan masuk. Saya lalu ke ruang pertemuan yang lokasinya tidak begitu jauh dari lobby hotel.

Di meja registrasi, juga tersedia hand sanitizer, lalu saya masuk ke dalam ruang pertemuan. Ketika saya duduk, ternyata di meja sudah ada masker, face shield, dan hand sanitzer yang disiapkan pihak hotel. "Oh begini protokol kesehatannya," guman saya. Norak lagi kan saya?

Tapi semuanya tidak saya pakai karena saya sendiri sudah pakai masker, face shield, dan sarung tangan. Jadi masker dan face shield saya bawa pulang saja. Hitung-hitung tambah koleksi saya.

Dalam ruangan pertemuan ini hanya diisi sekitar 25 orang. Sebanyak 15 orang dari kawan-kawan sesama pekerja lapangan, dan 10 lagi dari pihak DJSN. Ini sesuai dengan batas maksimal yang hanya boleh 30 orang untuk berkumpul. Kan pertemuan hanya diijinkan jika tidak sampai 30 orang dalam satu ruangan. Kami duduk saling berjarak dengan jarak sekitar 1 meter.

Anggota DJSN dari unsur pekerja, Bapak Untung Riyadi menyampaikan, pihaknya boleh mengadakan pertemuan di hotel dengan catatan jika hotel tersebut berada di wilayah zona aman Covid-19. Itu sebabnya, pertemuan diadakan di hotel ini. 

"Kalau pertemuan diadakan di hotel yang berada di zona merah, yang ke sanaan lagi, pasti susah dapatnya. Dan, pasti juga tidak akan diijinkan," katanya memberikan alasan.

Pantas saja mengapa memilih hotel ini. Sejak saya mendapatkan undangan pertemuan saya bertanya-tanya, mengapa di sini? Biasanya agenda pertemuan yang saya hadiri lebih sering di sekitaran Kuningan, Thamrin, Sudirman, Bundaran HI. Bisa jadi ini wilayah-wilayah yang kurang aman untuk dijadikan lokasi pertemuan.

Karena ternyata lima kota administrasi DKI Jakarta -- Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara, telah menjadi zona merah. Artinya, lima wilayah di ibu kota itu kembali berisiko tinggi penyebaran Covid-19.

Mungkin tidak semua wilayah Jakarta Selatan berzona merah. Buktinya, Hotel Pomelotel yang menjadi tempat pertemuan berada di wilayah Jakarta Selatan. Berdasarkan data milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, ada dua RW di wilayah Jakarta Selatan yang berzona merah. Bisa jadi hotel ini berada di RW yang berzona hijau.

Meski berada di zona "aman" tak lantas jadi abai menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Kita semua tetap harus waspada. Selalu menggunakan masker ketika di luar rumah maupun beraktifitas di dalam ruangan, jaga jarak, sering cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau hand sanitizer.

Kalau perlu, kita juga harus bisa saling mengingatkan jika ada di antara kita yang mengabaikan protokol kesehatan ini. Hal ini, menurut saya "wajib" kita lakukan untuk saling mengingatkan pentingnya kesadaran para pihak akan bahaya penularan Covid-19. Menerapkan protokol kesehatan Covid-19 dengan sangat ketat tidak apalah. Kan demi kebaikan dan kesehatan bersama. Bukan begitu? Begitu bukan?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x