Mohon tunggu...
Negara KITA
Negara KITA Mohon Tunggu... Keterangan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Bio

Selanjutnya

Tutup

Politik

KNPI Jangan Dipecah Lagi

8 Juni 2019   17:54 Diperbarui: 8 Juni 2019   17:59 531 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
KNPI Jangan Dipecah Lagi
KNPI Kepengurusan Abdul Aziz, Noer Fajrieansyah, dan Ketua DPR Bambang Soesatyo [Foto: indepedensi.com]

Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) adalah wadah perhimpunan terbesar, majemuk, dan terluas yang dimiliki oleh kaum muda Indonesia. Organisasi yang berdiri sejak 23 Juli 1973 ini telah menjadi tempat berhimpunnya organisasi dari beragam haluan latar, keagamaan, maupun politik. Coba saja kita bayangkan, berdasarkan kongres XIV KNPI di Papua, ada sedikitnya 154 organisasi kemasyarakatan pemuda yang terhimpun di dalam KNPI.

Tetapi KNPI kini berbeda dengan KNPI yang dulu. Ada masalah yang terjadi di tubuh kepemimpinan KNPI yakni permasalahan dualisme kepengurusan KNPI yang telah terjadi semenjak 12 tahun yang lalu. 

Lucunya belum selesai permasalahan itu, muncul pula polemik sengketa Ketua Umum KNPI antara Haris Pertama dengan Noer Fajrieansyah semenjak Kongres XV KNPI di Aceh bulan Desember lalu. Tentu jadi pertanyaan, siapakah kedua sosok yang mengaku sebagai Ketua KNPI yang sah ini?

Sosok pertama adalah Noer Fajrieansyah. Pemuda kelahiran 1983 ini memiliki kapasitas, jaringan, dan pengalaman kepemimpinan yang mumpuni. Ia pernah menjadi mantan Ketua Umum PB HMI. Noer Fajrieansyah yang juga mantan politisi PDIP bahkan menjadi salah satu direksi di PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI). Di dunia internasional, PT PPI lebih terkenal dengan nama Indonesia Trading Company (ITC). Lantas saat menjabat menjadi direksi, pria yang dipanggil dengan nama Fajrie itu menjadi satu dari 2 direksi BUMN termuda pada usia 32 tahun. 

Sosok kedua adalah Haris Pertama. Ia adalah eks aktivis yang menjadi rival Fajrie di pemilihan ketua KNPI di Kongres KNPI XV. Saat pemilihan tersebut, Haris Pertama menang tipis dari Fajrie. Akan tetapi, berdasarkan aturan dari pemilihan, seharusnya pemilihan tersebut belum selesai dan harus dilakukan pemilihan ulang. Oleh karena itu, dilaksanakanlah kongres KNPI XV jilid kedua di Bogor yang dimenangkan secara mutlak oleh Fajrie dengan 105 suara. 

Sayang, Haris Pertama memilih menggunakan hasil kongres pertama sebagai hasil akhir. Bahkan saat terjadi persengketaan itupun ia telah menyiapkan jajaran pengurus KNPI yang ketumnya adalah dirinya sendiri. Apabila kita melihat gelagat ini, maka kita semua dapat melihat bahwa ada kesan terburu-buru dari Haris Pertama dalam menginginkan kemenangan sebagai ketua KNPI. Ia seakan lupa bahwa saat ini KNPI tidak butuhkan lagi perpecahan. Dualisme kepengurusan masih saja belum terselesaikan. 

Kita semua pun dapat menilai bahwa Noer Fajrieansyah dinilai lebih tepat menjadi Ketua Umum KNPI periode 2018-2021 berdasarkan pengalamannya dan karena pemilihannya telah sesuai prosedur. Ia memiliki kelebihan dalam mengagendakan penyatuan KNPI yang telah terpecah selama 12 tahun, penyatuan ini diapresiasi oleh ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) . Menurut Bamsoet, dualisme ini hanya akan merugikan kaum muda. Sebagai ketum KNPI, Noer Fajrieansyah mampu upayakan peleburan KNPI karena kedua ketua KNPI baik kepengurusan Abdul Aziz maupun kepengurusan Noer Fajriansyah bersedia untuk menyatukan kubu di organisasi tersebut. 

Maka, apabila Haris Pertama masih mengklaim diri menjadi Ketum KNPI yang sah, maka selain ia tak mau mematuhi hasil dari prosedur yang berlaku, upaya peleburan dan penyatuan organisasi pemuda di Indonesia yang telah terjadi dualisme sejak 12 tahun yang lalu tentu akan makin jauh dari harapan. 

Sumber:

1. Tribunnews [Berakhirnya Dualisme KNPI Diapresiasi Ketua DPR] 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN