Nawawi M. Noer
Nawawi M. Noer Pembelajar

Saya Moh Nur Nawawi silahkan kunjungi Blog pribadi saya catatanawi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Energi

Kesiapan Sektor Perikanan Memasuki Era Revolusi Industri 4.0

5 Maret 2018   19:29 Diperbarui: 5 Maret 2018   19:40 5439 0 0

Berita terkini mengabarkan kita tentang sebuah fenomena yang membuat heboh yaitu berita kesiapan dan kesigapan pemerintah menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang sebenarnya sudah masuk dan kita praktekkan dengan maraknya ekspansi dunia digital dan internet ke kehidupan masyarakat. 

Hal ini patut digaris bawahi karena Revolusi industri 4.0 banyak yang menekankan kepada kemampuan Artificial Inteligence(Kecerdasan Buatan) yang mampu menggerakkan robot-robot yang "lebih pintar" dan "tidak pernah mengeluh" sehingga banyak pekerjaan yang dikerjakan tenaga manusia digantikan dengan yang lebih murah, efisien dan berkualitas lebih tinggi.

Revolusi industri sudah sering kita kenal dimulai dengan gencarnya revolusi industri bagian pertama yang dimulai pada abad 17-19 dimana banyak terjadi penemuan-penemuan teknologi yang menggantikan fungsi manusia seperti penemuan mesin uap oleh James Watt,lokomotifoleh Richard Trevethiek, kereta api penumpang oleh George Stepenson, kapal perang dengan mesin uap oleh Robert Fulton,telpon oleh Alexander Graham Bell

Selanjutnya kita mengenal revolusi industri tahap kedua dengan ditemukannya listrik, mobil, pesawat terbang, komputer hingga kita hidup di era revolusi industri tahap ketiga dengan semakin pesatnya teknologi informasi dan menggaungnya internet sehingga kita mampu menerima informasi dengan begitu cepat.

Saat ini kita sedang menghadapi era revolusi industri generasi selanjutnya yaitu revolusi industri generasi ke empat atau kita kenal dengan revolusi industri 4.0. Revolusi Industri 4.0 berciri kreativitas, leadership (kepemimpinan) dan entrepreneurship (kewirausahaan) yang mendobrak "mindset" cara bekerja revolusi industri sebelumnya. 

Dengan berciri efisiensi dalam komunikasi dan transportasi serta mengarahkan masyarakat untuk memecahkan masalah dengan sistem "one stop shopping"atau "one stop solution" diperlukan atmosfir dunia usaha yang lepas dari lilitan dan hambatan birokrasi dan itu tidak hanya soal cara bekerja tapi juga mentalitas pegawai dan tenaga kerjanya.

Menengok pada sektor industri perikanan Indonesia yang secara data telah menunjukkan angka perkembangan yang positif walau belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional, padahal dengan potensi sumberdaya perikanan yang melimpah seharusnya sektor ini mampu menjadi sektor andalan. Berdasarkan laporan Kementerian kelautan dan perikanan terkait pertumbuhan industri sektor perikanan, produksi perikanan nasional mengalami kenaikan pada angka diatas 23 juta ton dimana tahun 2015 pada angka 20 juta ton. 

Kenaikan produksi tersebut diklaim bisa meningkatkan pertumbuhan ekspor produk perikanan Indonesia. Nilai ekspor produk perikanan Indonesia sebesar US$ 3,94 miliar pada tahun 2015 dan mengalami kenaikan signifikan ditahun 2017 yaitu sebesar US$ 5 Miliar.  Untuk dua tahun kedepan ada beberapa target untuk sektor perikanan. Diantaranya adalah produksi ikan tahun 2019 bisa mencapai 41.79 juta ton. Selain itu, KKP juga mentargetkan peningkatan nilai ekspor sebesar US$ 9.54 miliar ditahun 2019.

Prestasi dalam angka tersebut setidaknya bisa jadi semangat dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0, tapi berbagai permasalahan dibidang perikanan juga tidak bisa kita remehkan. Dalam roadmap pembangunan kelautan dan perikanan 2015-2019, Kadin Bidang Kedaulatan dan Perikanan membuat peta permasalahan dalam bidang kelautan dan perikanan, dengan poin-poin penting seperti belum optimalnya produksi perikanan budi daya nasional (ikan dan rumput laut) dan produksi perikanan tangkap di ZEEI dan laut lepas sebagai sumber pangan perikanan, belum optimalnya industri pengolahan perikanan, khususnya di kawasan Indonesia Bagian Timur, ketersediaan BBM untuk nelayan dan pembudidayaan ikan, permasalahan  kapasitas SDM kelautan dan perikanan baik kualitas maupun kuantitas, peningkatan iptek kelautan dan perikanan serta diseminasi teknologi, dan permasalahan prasarana pengembangan industri perikanan.

Sejak gencarnya pemerintah memberantas praktek IUU fishing selain berdampak pada melimpahnya ikan, secara jujur juga harus kita akui kita kekurangan armada penangkap ikan yang menggunakan teknologi penangkapan yang modern dengan kapal-kapal besar yang mampu meningkatkan produksi perikanan tangkap beberapa permasalahan itu dikarenakan nelayan kita masih banyak nelayan tradisional dengan kapal-kapal yang relatif kecil dengan menggunakan alat tangkap yang masih tradisonal, armada penangkap ikan yang mampu beroperasi di perairan laut lepas seperti Zona ekonomi eksklusif (ZEE)  masih sedikit. Belum lagi masalah sumberdaya manusia kita yang masih tradisional dan belum banyak yang mengadaptasi teknologi yang semakin berkembang.

Disektor budidaya masih banyak para pembudidaya ikan, udang, hingga rumput laut yang belum mampu menerapkan sistem budidaya dengan teknologi terbaru karena para pelaku usaha di sektor ini masih banyak dilakukan oleh pembudidaya dengan skala menengah kebawah sehingga mengalami banyak kesulitan dan kendala untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, masalah sumberdaya manusia juga jadi faktor utama di sektor budidaya.

Untuk sektor industri pengolahan perikanan akan berjalan linier dengan industri penangkapan dan budidaya karena bahan baku industri pengolahan adalah kedua industri tersebut. Banyak unit pengolahan ikan yang kekurangan bahan baku. Belum lagi hambatan regulasi terkait ekspor produk perikanan baik dari dalam negeri maupun Negara tujuan ekspor.

Dengan kondisi industri perikanan seperti diatas kita harus bekerja ekstra untuk mampu survive dalam rangka menyongsong era revolusi industri 4.0. Dari perjalanan era revolusi industri baik dari era pertama hingga ketiga  sepertinya refleksinya dengan peran bangsa ini adalah sebagian besar negeri ini hanya mampu memproduksi barang setengah jadi dan ada beberapa fakta beberapa komoditas produknya dari luar sehingga kita tergantung produk luar dalam memproduksinya. 

Belum lagi hingga hari ini ekonomi negeri ini masih juga tergantung dengan ekspor komoditas asli tanpa diolah dulu, produk asli di Indonesia diekspor ke negeri lain, lalu kita melakukan impor bahan baku dari negeri lain  dengan nilai jual berkali lipat dan anehnya terkadang produk bahan baku tersebut yang kita gunakan adalah bahan yang telah kita ekspor sebelumnya. Fenomena ini juga berlaku bagi industri perikanan, kita masih melihat ekspor ikan segar dilakukan tapi disisi lain kita malah impor ikan dari luar untuk bahan banku produksi.

Pemerintah telah mendorong masyarakat dan dunia industri untuk siap dan gegap gempita menyongsong era tersebut dengan melakukan langkah-langkah strategis sebagia berikut :

Pertama, Mendorong agar angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri. Pemerintah menginisiasi pelaksanaan pendidikan vokasi yang link and match antara lembaga pendidikan  dengan industri. Pengembangan program ini sekaligus menyiapkan tenaga kerja terampil yang siap pakai di dunia industri dengan target mencapai satu juta orang pada 2019.

Kedua, Mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM. Program ini merupakan upaya juga memperluas pasar dalam rantai nilai dunia dan menghadapi era Industry 4.0.

Ketiga, Mendorong industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud,dan Augmented Reality. Menurut pemerintah sistem ini akan memberikan keuntungan bagi industri, misalnya menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15 persen. Fakta dilapangan sejumlah sektor industri nasional telah memasuki era Industry 4.0, di antaranya industri semen, petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman.

Keempat, Mendorong  inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Upaya ini telah dilakukan Kementerian Perindustrian dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa technopark yang dibangun di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandung (Bandung Techno Park), Denpasar (TohpaTI Center), Semarang (Incubator Business Center Semarang), Makassar (Makassar Techno Park- Rumah Software Indonesia, dan Batam (Pusat Desain Ponsel).

Gagasan tersebut diatas diharapkan juga bisa jadi Roadmap pegembangan industri perikanan, kerja ektra memang perlu dilakukan dengan kondisi sumberdaya dan perkembangan teknologi di sektor perikanan tapi tak mungkin kita tinggal diam mengingat potensi perikanan yang begitu besar. Semangat positif selain prestasi-prestasi pemerintah dalam mendongkrak industri perikanan juga bisa kita lihat dari mulainya bermunculan startup dibidang perikanan yang mulai mengandalkan kemajuan teknologi informasi, kesiapan para pelaku usaha baru tersebut barang tentu harus mampu menjadi semangat baru untuk bersama-sama meningkatkan sektor perikanan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2