Mohon tunggu...
Naura PutriEditi
Naura PutriEditi Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Mahasiswa Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Komunikasi Terapeutik dalam Konseling Kebidanan

27 November 2022   19:28 Diperbarui: 27 November 2022   19:58 443
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dunia kebidanan tidak hanya terkait pemberian penanganan medis berupa pertolongan dalam persalinan. Seorang bidan harus mampu untuk memberikan konseling atau pengarahan yang baik terkait kondisi dari pasien atau ibu hamil yang sedang ditanganinya. 

Dalam beberapa kasus cara bidan dalam mengkomunikasikan atau memberikan konseling pada ibu hamil, mempengaruhi tingkat kepercayaan ibu hamil tersebut untuk merealisasikan saran atau anjuran yang diberikan. 

Terkadang pengarahan bidan terhadap ibu hamil yang terkesan menuntut atau pun malah memberikan rasa takut ibu hamil terhadap konsisinya dapat memperburuk kondisi ibu hamil tersebut. Dengan komunikasi yang baik, bidan juga terbantu untuk membuat ibu hamil lebih terbuka dalam kondisinya sehingga bidan dapat menangani permasalahan ibu hamil tersebut dengan cara dan penyelesaian yang tepat serta efektif.

Tenaga kesehatan seperti bidan disarankan untuk menggunakan teknik komunikasi terapeutik dalam memberikan konseling  pada ibu hamil. Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi intrapersonal yang direncanakan secara sadar yang dilakukan oleh bidan dengan pasiennya yang mengalami gangguan atau permasalahan, baik secara fisk maupun psikologis dengan tujuan, dan kegiatannya berpusat pada kesembuhan dari pasien. 

Komunikasi terapeutik dalam pelaksanaannya mencangkup pemberian kenyamanan, keamanan, kepercayaan, serta kesejahteraan bagi pasien. Fungsi dari penggunaan komunikasi terapeutik adalah mendorong terlaksananya kerjasama antara bidan dengan pasien dalam menyelesaikan masalahnya. 

Dilansir dari buku Principles and Practice of Psychiatric Nursing (1998) karya Stuart dan Sundeen, komunikasi terapeutik memiliki tujuan sebagai berikut :

  • Membantu pasien untuk menjelaskan masalah yang dialaminya dan dapat mengurangi beban pikiran atau permasalahan serta dapat memberikan saran atau arahan yang dapat mengubah situasi dari pasien apabila pasien percaya.
  • Mengurangi keraguan dari pasien dan membantu mengambil tindakan yang efektif dalam permasalahannya serta masih mempertahankan egonya.
  • Komunikasi terapeutik  bertujuan untuk mempengaruhi orang lain, lingkungan dan dirinya sendiri untuk melakukan anjuran atau saran yang diberikan.

Terdapat beberapa karakteristik seorang bidan yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik antara lain:

  • Kejujuran (trustworthy)
  • Kejujuran merupakan modal utama dalam membina hubungan saling percaya. Sehingga klien akan terbuka dan jujur dalam memberikan informasi.
  • Tidak membingungkan dan cukup ekspresif
  • Dalam berkomunikasi verbal bidan diharapkan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan didukung dengan komunikasi non verbal yang sesuai.
  • Bersikap positif
  • Sikap positif dapat bidan tunjukkan dengan sikap yang hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien.
  • Empati bukan simpati
  • Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan kebidanan, karena dengan sikap ini bidan akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan oleh klien. Dengan empati, seorang bidan dapat memberikan alternatif pemecahan masalah bagi klien.  Meskipun dia turut merasakan permasalahan yang dirasakan kliennya, tetapi tidak larut dalam masalah tersebut sehingga dapat memikirkan masalah yang dihadapi klien secara objektif.
  • Mampu melihat permasalahan klien dari kacamata klien
  • Dalam memberikan asuhan kebidanan, bidan harus berorientasi pada klien. Untuk itu agar dapat membantu memecahkan masalah klien bidan harus memandang permasalahan tersebut dari sudut pandang klien. Bidan harus menggunakan teknik active listening dan kesabaran dalam mendengarkan ungkapan klien. Sehingga kesimpulan tidak dilakukan secara tergesa-gesa dengan menyimak secara keseluruhan ungkapan klien dan diagnosa yang dirumuskan sesuai dengan masalah klien.
  • Menerima klien apa adanya
  • Jika seseorang diterima dengan tulus, seseorang akan merasa nyaman dan aman dalam menjalin hubungan terapeutik.
  • Sensitif terhadap perasaan klien
  • Seorang bidan harus sensitif terhadap perasaan klien agar tidak melakukan pelanggaran batas privasi dan menyinggung perasaan klien.
  • Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien atau pun diri bidan sendiri.
  • Seseorang yang selalu menyesali tentang apa yang telah terjadi pada masa lalunya, tidak akan mampu berbuat yang terbaik hari ini. Sangat sulit bagi bidan untuk membantu klien, jika dirinya sendiri memiliki segudang masalah dan ketidakpuasan dalam hidupnya

Dilansir dari buku Principles and Practice of Psychiatric Nursing (1998) karya Stuart dan Sundeen, tahapan dari komunikai terapeutik terbagi menjadi 4 yaitu:

  • Tahap pre-interaksi
  • Tahap persiapan tenaga kesehatan sebelum bertemu dan berkomunikasi dengan pasien. Tenaga kesehatan perlu menilai dirinya dan seberapa kemampuan yang dimilikinya dalam menjalankan komunikasi terapeutik.
  • Tahap orientasi atau perkenalan
  • Tahap yang dimulai saat tenaga kesehatan dan pasien bertemu untuk pertama kalinya. Tahap ini ditujukan untuk membangun hubungan saling percaya dengan pasien.
  • Tahap kerja
  • Tahap inti dari proses komunikasi terapeutik yang dilakukan kepada pasien. Pada tahap ini tenaga kesehatan seperti perawat dan bidan dituntut mampu memberikan dukungan dan bantuan kepada pasien.
  • Tahap terminasi
  • Tahap terminasi merupakan tahap akhir dari proses komunikasi terapeutik. Tenaga kesehatan seperti perawat dan bidan dengan pasien diharapkan meninjau kembali proses yang telah dilalui dan dicapai.

Oleh karena itu, komunikasi yang baik serta mampu memeberikan kenyamanan untuk ibu hamil sangat diperlukan. Penerapan komunikasi terapeutik dalam kebidanaan sangat membantu bidan dalam melakukan konseling kepada ibu hamil/kliennya.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun