Mohon tunggu...
Nataya  Khuria
Nataya Khuria Mohon Tunggu... Mahasiswa Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (Universitas Airlangga)

Pisces Woman

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama Pilihan

Pembangunan dan Pengembangan Kota Jakarta Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

6 April 2021   10:32 Diperbarui: 6 April 2021   10:37 185 5 0 Mohon Tunggu...

Mungkin jika kita mendengar kota Jakarta, yang mucul dibenak kita ialah kota megah dengan gedung-gedung pecakar langkitnya. Namun siapa sangka bahwasanya Jakarta memiliki sejarah kota yang amat  panjang. Mulai jaman pra kolonial sampai pasca proklamasi, Jakarta adalah salah satu kota di Indoensia yang mengalami banyak perubahan tata ruang yang sangat menonjol. 

Hal itu dikarenakan Jakarta mendapat banyak pengaruh dari berbagai elemen, terutama pada jaman kolonial. Perkembangan kota Jakarta  sebelum kemerdekaan masih kuat dipengaruhi oleh unsur kolonial Belanda. Namun, pada momen awal kemerdekaan Indonesia, karakter pasca kolonial atau antitesis dari kota kolonial sedikit diminimalisir dengan dibangunnya monumen-monumen,

Pasca proklamasi kemerdekaan, Jakarta ditunjuk sebagai Ibu Kota Republik Indonesia. Jakarta sebagai ibukota Republik Indonesia yang baru berlokasi  di Jalan Medan Merdeka Selatan dengan Walikota Bapak Soewirjo (23 September 1945-November 1947) atau dulu bernama Balaikota Praja. Namun tak berselang lama, situasi keamanan di Jakarta menjadi mengkhawatirkan. 

Hal itu disebabkan akibat adanya Perang Revolusi tahun 1946-1949.  Kemudian akhirnya Ibukota Republik Indonesia dihijrahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Namun, setelah adanya penyerahan kedaulatan Republik Indonesia dari Pemerintah Belanda secara resmi, mulailah era baru bagi Jakarta. Pada tanggal 15 Januari 1950, Presiden Soekarno menetapkan Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia (Serikat) lagi.

Bisa dikatakan bahwa perkembangan kota Jakarta pasca proklamasi menjadi sangat penting karena Jakarta dianggap sebagai kota yang bercitra internasional dan pusat kekuatan non-blok (non-block movement) misalnya, penyelenggaraan acara-acara politik,olahraga, dan budaya yang bertaraf internasional. Dilihat dari segi penyediaan sarana fisik telah dibangun atas pengarahan Presiden Soekarno sendiri. 

Berbagai bangunan gedung dan sarana/prasarana dikenal sebagai proyek-proyek mercusuar. Kemudian di bawah kepemimpinan presiden Soeharto yaitu pada masa orde baru (1965-1998) Jakarta tumbuh dan berkembang dengan berbagai macam pembangunan yang hampir merata di semua bidang.

Keinginan presiden, masyarakat, serta pemerintah Jakarta saat pasca proklamasi kemerdekaan bisa bilang sama yaitu membumihanguskan bangunan serta peninggalan kolonial Belanda. Pada saat itu memang nampak banyak sekali simbolik kolonial Belanda yang terdapat di berbagai sudut kota. Simbolik tersebut sengaja dibuat oleh Belanda sebagai bentuk hegemoni atas kota Jakarta. Kemudian akhirnya semua simbolik kolonial belanda yang ada di Jakarta dihancurkan dan diganti dengan berbagai bangunan yang mencerminkan nasionalisme. 

Berbagai elemen turut serta dalam merancang kembali tatanan kota Jakarta. Hal itu bertujuan untuk terciptanya tatanan kota Jakarta yang lebih baik lagi dengan mendirikan berbagai bangunan yang berciri khas nasionalisme atau anti kolonial seperti berbagai monumen maupun cagar budaya yang tersebar di kawasan Jakarta terutama Jakarta Pusat. Jakarta Pusat bisa dikatakan daerah yang mendominasi pendirian bangunan-bangunan pasca proklamasi misalnya, Lapangan Merdeka/ Monas, Jembatan dan Patung Harmoni, Kompleks Halaman Gedung Proklamasi (Monumen Proklamasi), dan Menara Kemayoran.

Pada awal kemerdekaan Indonesia, Presiden Sukarno ikut merancang kota Jakarta sebagai kekuasaan pusat kota dan pusat dari negara yang merdeka. Beliau dan berbagai elemen  merencanakan untuk membangun tugu Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, dan Hotel Indonesia. Kemudian pada masa Orde Lama (antara tahun 1945-1965), hubungan yang terbangun antara pra dan pasca prokalmasi menjadi dasar dalam pembentukan sebuah bangsa dan negara sebagai tahap perkembangan pertama. Berlanjut pada masa Orde Baru dibawah Presiden Soeharto pembangunan seperti Monumen Lubang Buaya untuk mengenang pembunuhan para Jendral dan pengkhianatan PKI tahun 1965, lalu kemudian pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai miniatur suku dan budaya Indonesia.

Dalam konteks pelestarian dan revitalisasi, banyak bangunan-bangunan kolonial di Kota Jakarta yang masih digunakan baik untuk perkantoran atau ekonomi. Marsely L. membagi  revitalisasi Jakarta menjadi 2 identitas yaitu, pertama identitas Kolonial Belanda, yang direpresentasikan dengan revitalisasi Gedung Arsip Nasional di Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat. Kedua identitas nasionalisme dan kultur Indonesia yang direpresentasikan oleh pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tahun 1971 oleh Presiden Soeharto. Hingga kini elemen-elemen  kolonial tersebut masih menjadi bagian dari identitas pasca-kolonial Indonesia pada bangunan-bangunan kolonial yang direvitalisasi.

Berikut tabel perkembangan Kota Jakarta dari Masa Prasejarah hingga Sekarang (pengaruh budaya, peralihan budaya, dan proses kebudayaan yang membentuk identitas kota)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
VIDEO PILIHAN