Mohon tunggu...
Natasya Aline Limarga
Natasya Aline Limarga Mohon Tunggu... Mahasiswa President University

What you believe as a truth does not mean it is true.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Telur atau Ayam Dulu, Komunikasi atau Politik Dulu?

25 Mei 2019   01:49 Diperbarui: 26 Mei 2019   18:50 0 1 1 Mohon Tunggu...
Telur atau Ayam Dulu, Komunikasi atau Politik Dulu?
Natasya Aline Saat Mewawancarai Raudy Gathmyr

Mungkin banyak orang masih bertanya-tanya sebenarnya apa esensi komunikasi di dunia politik atau sebaliknya bagaimana bisa politik menjadi topik yang penting untuk dibahas di ilmu komunikasi. Sebenarnya, ilmu komunikasi dan ilmu politik adalah ilmu yang saling berkesinambungan. Seorang dosen di jurusan Ilmu Komunikasi di President University,  Raudy Gathmyr atau yang akrab disapa Mr. Raudy, mengungkapkan fakta menarik mengenai salah satu kisah dibalik pertanyaan ini. Menurut beliau, kedua ilmu tersebut adalah dua disiplin ilmu sosial yang tidak bisa dipisahkan.

M. Raudy Gathmyr, S.Sos., M.Si. 
M. Raudy Gathmyr, S.Sos., M.Si. 

Beliau mengatakan bahwa melalui fenomena pemilu bisa dilihat secara konkrit kaitan kedua ilmu tersebut. Dosen yang pernah menjadi wartawan di TVONE dan pernah bertugas meliput isu politik di kantor DPR RI ini melanjutkan bahwa sebenarnya, quick count atau hitung cepat hasil pemilu muncul pertama kali di Filipina modern di jaman pemerintahan Presiden Marcos yang tidak demokratis dan otoriter. 

Rakyat Filipina di kala itu melahirkan apa yang Indonesia kenal dengan quick count untuk membuktikan kebenaran dari mutlaknya kemenangan Presiden Marcos. Dengan ini, rakyat bisa mengontrol jalannya pemilihan presiden agar jujur, adil, dan transparan. Fenomena ini sebenarnya bentuk sosialisasi dari alternatif penyampaian data yang melibatkan strategi komunikasi.

"Disinilah ada namanya titik iris antara ilmu komunikasi dan ilmu politik," ucapnya dengan tegas. Quick count adalah ilmu politik karena berhubungan dengan pergerakan masyarakat, sementara ilmu komunikasi berperan menjadi wadah, contohnya media massa.

Disisi lain, Sylvia Savitri, atau yang akrab disapa dengan Ma'am Sylvia, yang merupakan dosen pengajar Komunikasi Politik di President University memaparkan bahwa setiap orang pasti berkomunikasi dan berpolitik. Di dunia politik, semuanya berkaitan dengan permainan kata-kata atau kegiatan berbicara, lebih jelasnya komunikasi persuasif untuk mempengaruhi rakyat. "Sebaliknya, tidak melulu soal bagaimana komunikasi terhadap politik tetapi juga politik terhadap komunikasi," imbuhnya. Sebagai contoh adalah expert power, sebagai salah satu cara mengetahui seberapa expert seseorang, yaitu dengan melalui cara seseorang berkomunikasi.

Sylvia Savitri, S.IP., M.Si.
Sylvia Savitri, S.IP., M.Si.

"Timbal balik. Tidak bisa mana yang lebih dulu seperti ayam atau telur dulu, dua-duanya saling mempengaruhi. Politik tidak ada apa-apanya tanpa cara komunikasi yang baik dan komunikasi tidak bisa berjalan tanpa pengetahuan politik," tambah beliau. 

Politik berbicara dimana politikus "menjual" gagasan, ide, dan opini yang juga merupakan bagian dari komunikasi. "Bahasa politik, retorika politik, iklan politik, propaganda, debat politik, sosialisasi, dan kampanye politik itu unsur-unsur politik," jelasnya ketika ditanya tentang hubungan komunikasi dan politik.

Sejak terpilihnya Presiden Amerika Serikat periode 2009 - 2017 Barack Obama hingga kepemimpinan Donald Trump saat ini, pemakaian media sosial menjadi sangat digandrungi. Lewat media sosial, politikus juga bisa membangun citra diri dan sekali lagi hal ini menggunakan strategi komunikasi melalui pemilihan konten berupa caption, gambar, video untuk memperkuat visual pesan, atau bentuk lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2