Mohon tunggu...
Natalie Sytner
Natalie Sytner Mohon Tunggu...
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Fakta di Balik Kenaikkan Harga BBM

26 Maret 2018   13:19 Diperbarui: 26 Maret 2018   13:22 1747 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Fakta di Balik Kenaikkan Harga BBM
satuharapan.com --edited

Masalah BBM menjadi masalah besar yang hingga kini menjadi topik utama dan dapat menjadi isu yang hangat terlebih lagi dalam tahun politik. Hal dikaitkan bahwa Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai sebgai salah satu komoditas primer yang harus diberikan subsidi agar daya beli masyarkat dapat ditingkatkan. Selain itu bahan bakar merupakan kebutuhan hajat hidup orang banyak yang dikuasai oleh negara sesuai dengan pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 sekaligus sebagai komoditas yang memegang peranan sangat vital dalam semua aktifitas ekonomi

Karena masalah BBM menjadi suatu yang vital untuk itu pemerintah menjalankan sebuah program yakni BBM bersubsidi untuk membantu rakyat kecil yang sudah berlangsung lama. Kebijakan subsidi BBM yang selama ini dijalankan menimbulkan kontroversi, karena selama ini kebijakan subsidi tidak berjalan efektif dan jauh dari tujuan semula serta tidak tepat sasaran. Hal ini terlihat data terlihat bahwa selama ini yang menikmati subsidi BBM orang yang berada sebesar 10 % atau Rp. 5,8 triliyun dari subsidi BBM. 

Sementara itu 10 % orang miskin menggunakan Rp. 500 Milyar subsidi BBM. Dari data tersebut tidak ada alasan bagi pemerintah dibawah Presiden Jokowi untuk terus mengurangi subsidi untuk BBM yang dikeluarkan dari APBN dimana Subsidi BBM yang besar akan terus menekan APBN yang dampaknya perekonomian Indonesia semakin menurun dan mengalihkan subsidi tersebut kepada hal-hal yang lebih produktif.

Kenaikkan harga BBM bukan selalu dipandang sebagai hal yang negatif tetapi juga dapat dipandang sebagai hal positif. Artinya ketika harga BBM naik, maka hal ini secara tidak langsung mereduksi sifat masyarakat yang boroskan penggunaaan BBM dan juga menjadi jalan untuk terciptanya sumber lain selain minyak bumi. Seperti kita ketahui dalam skala kehidupan manusia, BBM merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui artinya ada batas waktu dimana suatu saat nanti akan habis dan sebelum habis harganya terus meningkat. 

Gejolak harga minyak dunia sebenarnya sudah terlihat sejak tahun 2000, dimana harga terus naik seiring dengan menurunnya kapasitas cadangan. Ada sejumlah faktor penyebab terjadinya gejolak ini, salah satunya adalah rendahnya kapasitas cadangan harga minyak dan kedua adanya permintaan (demand). Hal demikian kemudian direspon oleh pemerintah di beberapa negara di dunia termasuk Indonesia dengan menaikkan harga BBM yang diakibatkan oleh kenaikkan harga minyak mentah dunia walaupun kebijakan tersebut tidak populer. 

Naiknya harga BBM diawali oleh naiknya harga minyak dunia dan harga tukar dolar yang menguat ke angka Rp. 13.000 yang membuat pemerintah tidak dapat menjual BBM kepada masyarakat dengan harga yang sama dengan harga sebelumnya, karena hal itu dapat menyebabkan pengeluaran APBN untuk subsidi minyak menjadi lebih tinggi. Untuk itu pemerintah mengambil langkah-langkah untuk menaikkan harga BBM dan mengikuti dinamika pasar dunia. 

Kenaikkan tersebut merupakan dilemma dan bagai buah simalakama bagi pemerintahan Jokowi, namun keputusan tersebut harus diambil walaupun menimbulkan pro dan kontra. Hal ini dikarenakan Presiden melihat permasalahan tersebut secara holistik dan bukan parsial serta sudah dipertimbangkan untuk menyelamatkan APBN dan agar pembangunan yang sudah berlangsung tidak berhenti yang dampaknya akan lebih besar lagi. 

Untuk itu kita sebagai anggota masyarakat harus yakinlah bahwa tindakan atau keputusan pemerintah yang diambil bukan menyengsarakan tetapi untuk hal yang lebih luas dan jangka panjang demi keberlangsungan Negara Republik Indonesia yang kita cintai.

VIDEO PILIHAN