Mohon tunggu...
BaksoLahar Nasrulloh
BaksoLahar Nasrulloh Mohon Tunggu...

Owner Bakso Lahar, Coach Retail, Penulis Bisnis dan Sejarah Islam

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Saat Jokowi Meremehkan Kampanye GBK Prabowo

8 April 2019   09:11 Diperbarui: 8 April 2019   09:13 0 10 2 Mohon Tunggu...

Gelora Bung Karno (GBK)  bergetar. Gelora Bung Karno menjadi ajang kampanye akbar terbesar  dalam sejarah politik Indonesia. Mereka hadir bukan karena Prabowo-Sandi, tetapi melawan kezaliman pemerintah. 

Melawan carut-marut pengelolaan negri. Itu yang harus dipahami. Niat mereka hanya satu yaitu ganti presiden. Gelora ini lebih besar dibanding antusiasme terhadap seorang Prabowo-Sandi.

Kedisiplinan, pengorbanan dan kesantunan telah dicontohkan. Arus baru perpolitikan telah hadir. Kesewenangan pemerintah kepada ulama dan masyarakat karena proyek pemerintah dan pemodal dilawan dengan kesantunan dan gerakan massa. Ini yang mulai tumbuh. Cap radikalisme dilawan dengan kelembutan. 

Cap anti NKRI dilawan dengan doa-doa bagi kebaikan ibu pertiwi. Apalagi yang akan dituduhkan pada mereka? Anti Pancasila? Membentuk khilafah? Tuduhan itulah yang menyakitkan. Tuduhan ini membuat gerakan semakin membesar dan berpengaruh untuk bergerak.

Perubahan cara bergerak, cermin ada arus baru yang mulai tampil. Generasi yang dahulunya menjadi penonton, mulai berperan dan berkiprah. Generasi yang dahulunya ditempa intelektualitas dan spiritualitas mulai memandang perlu mengambil bagian perbaikan bangsa. Mungkin sekarang baru gerakan massa, namun kelak generasi ini akan mengisi pucuk-pucuk kekuasaan. Mari baca hasil survei para pemilih Prabowo-Sandi, itulah generasi yang sebelumnya diam dan sekarang mulai berkiprah.

Tampilnya Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Shaibul Iman, AHY, Ulama dan Habaib yang berpadu, sebuah tanda lahirnya warna baru. Gaya politik lama sudah ditinggalkan. Paradigma politik lama sudah usang. Politik kejujuran yang akan diperjuangkan. Politik yang memberdayakan, membuat masyarakat aktif dalam bergerak. Politik berbasis akal sehat yang menghidupkan.

Namun Jokowi masih menggunakan cara berfikir lama. Menjatuhkan lawan dengan isu kasus HAM dan tragedi 98, mengapa selama berkuasa tidak diusut tuntas? Menekan lawan dengan undang-undang kejahatan teknologi informasi dan ujaran kebencian. Memenjarakan mereka yang tak sepaham dengannya. Ada yang mengatakan, era Jokowi lebih parah dari Orde Baru. Zaman telah melompat, namun cara terbelakang masih digunakan.

Cara menggerakkan massa oleh Jokowi adalah era Orde Baru. Digerakan oleh uang, mengerahkankan ASN dan BUMN, dan menaikan gaji PNS sebelum pemilihan. Apakah karena para pembisiknya jendral besar yang dididik di era Orde Baru? Jurus-jurus Jokowi pun telah usang. Pencitraan dan kartu-kartu tetap saja menjadi andalan. 

Bukan menyelesaikan dan perbaikan kondisi negri, tetapi larut membiarkan kondisi kehancuran dengan jurus kartu-kartunya saja. Bukan memperbaiki pertumbuhan ekonomi, tetapi fokus berkampanye dengan kartu-kartunya. Masa lalu selalu ditinggalkan. Masa lalu tak bisa memperbaiki masa kini dan masa depan.

Jokowi meremehkan massa yang berada dan bergerak ke GBK. Alasannya, kedatangan mereka tidak menarik carukkan baru pemilih Prabowo-Sandi. Padahal berbondongnya masyarakat ke kampanye akbar Prabowo-Sandi  karena melihat aksi 212 yang luar biasa. Buktinya, pemilih Jokowi terus melorot menurut survei. Menciptakan kecendrungan turun menjadi naik sangatlah sulit. Butuh gagasan dan kepercayaan besar. Namun keduanya tidak ada di Jokowi.

Jokowi meremehkan massa yang di GBK, dengan alasan bahwa yang hadir hanya kader dan simpatisan PKS yang digerakkan dari Jabotabek. Walaupun benar berdasarkan survei, pemilih PKS paling solid memilih Prabowo-Sandi. 

Padahal tak ada satu organisasi pun yang mampu menggerakkan jutaan orang. Jokowi dalam kampanyenya hanya membanggakan diri dan prestasinya. Padahal untuk menggerakkan rakyat membutuhkan moment of the truth. 

Mengaitkan jiwa dengan jiwa, perasaan dengan perasaan, emosi dengan emosi, pikiran dengan pikiran. Itu yang dirasakan oleh mereka yang tidak pergi ke GBK saat kampanye akbar Prabowo-Sandi. Sentuhan inilah yang bisa memperluas cerukan pemilih Prabowo-Sandi yang hanya melihat melalui media.

Janji Jokowi pun sering kali menghancurkan dirinya sendiri. Penerbitan beragam kartu sakti sebenarnya sebuah pembuktian bahwa dia gagal mengelola pemerintah. 

Gagal menyediakan sembako murah, gagal memberikan lapangan pekerjaan, gagal menciptakan ruang-ruang pendidikan. Jokowi gagal dalam menciptakan kebutuhan dasar masyarakat. 

Strategi kampanye akbar Jokowi pun lebih banyak menghadirkan artis-artis legendaris, tak ada gagasan tentang kita dan mereka. Yang ada hanya hiburan sesaat untuk melupakan penderitaan sejenak.

Pemilih Prabowo-Sandi, memiliki kekuatan menpengaruhi. Baik dari latarbelakang cara berfikir, ekonomi dan status sosialnya. Inilah yang membuat cerukan pemilih Prabowo-Sandi bisa terus membesar. Di saat Jokowi meremehkan, maka disitulah kelengahan timbul.