Mohon tunggu...
Narul Hasyim
Narul Hasyim Mohon Tunggu... -

"Hidup adalah serangkaian perubahan yang alami dan spontan. Jangan tolak mereka karena itu hanya membuat penyesalan dan duka. Biarkan realita menjadi realita. Biarkan sesuatu mengalir dengan alami kemanapun mereka suka." -Lao Tzu.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Resume "Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam"

7 Maret 2020   11:26 Diperbarui: 7 Maret 2020   11:33 14 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Resume "Filsafat Ilmu Perspektif Pemikiran Islam"
Dok. pribadi

Judul Buku: Filsafat Ilmu Perspektif  Pemikiran Islam
Penulis: Drs. M. Zainuddin, MA
Penerbit: Bayu Media Publishing
Tahun terbit: 2003

BAB I
PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk mukhllaf, yang dibebani kewajiban dan tanggung jawab. Dengan akal pikirannya ia mampu menciptakan kreasi spektakuler berupa sains dan teknologi. Manusia juga bagian dari realitas kosmos yang menurut para ahli pikir disebut sebagai al-kain al-natiq, "makhluk yang berbicara" dan "makhluk yang memiliki nilai luhur"

Menurut Al-'Aqad (1973:21), manusia lebih tepat dijuluki "makhluk yang berbicara" daripada sebagai "malaikat yang turun ke bumi" atau "binatang yang berevolusi", sebab manusia lebih mulia daripada semua itu. Alasan 'Aqqad ini tidaklah berlebihan, sebab menurutnya, "malaikat yang turun ke bumi" tudak mempunyai kedudukan sebagai pembimbing ke jalan yang baik maupun yang buruk, demikian pula "binatang yang beervolusi". Hanya manusia lah yang mampu memikul beban dan tanggung jawab yang diamanatkan oleh Allah kepadanya.

Apalagi dalam konsep Islam terdapat kredo yang menegaskan bahwa mencari ilmu itu suatu kewajiban, ibadah dan berdosa bagi yang meninggalkannya. Bagi seorang muslim, pengetahuan merupakan tindakan atau pikiran yang terpencil dan abstrak , melainkan merupakan bagian yang paling dasar dari kemajuan dan pandangan dunianya (world-view).

Dulu, tepatnya pada abad ke-8 hingga dengan abad 12 M, umat islam berdada pada jaman kejayaannya, jaman di mana ilmu pengetahuan dan peradaban Islam berkembang pesat mencapai puncaknya. Kemajuan ilmu pengetahuan ini bermula dari upaya khalifah Harun Al-Rasyid (786-809 M) -- yang mencapai puncaknya pada masa Al-Ma'mun (810-833 M) -- untuk menterjemahkan karya-karya ilmuwan Yunani ke dalam bahasa Arab.

Karya-karya yang diterjemahkan itu pertama adalah karya kedokteran dan filsafat. Pada waktu itu Harun Al-Rasyid mengirim delegasi ke kerajaan Romawi untuk membeli manuskrip. Para pentejemah terkenal saat itu antara lain: Hunain Ibn Ishaq (m. 873 M), seorang Kristen yang ahli berbahasa Arab dan Yunani, Ishaq Ibn Hunain (m. 910 M) dan Tsabit Ibn Qurra' (m. 901M) (Harun Nasution, 1978;11 dan bandingan dengan watt, 1978;54).

Teori ilmu pengetahuan menurut Islam sangat berkaitan dengan keharusan yang mendesak kepada pencarian ilmu. Kita tahu bahwa semangat itu tercermin dalam wahyu pertama kali turun (Q.S Al-'Alaq:1-5), "Bacalah dengan nama Tuhanmu..." "Baca" disini bukan hanya perintah dalam arti sempit, tetapi mengandung pengertian yang amat dalam untuk menuju kekpada terkuaknya ilmu pengetahuan dan penyadaran diri akan adanya Allah, zat yang mengetahui.

Dalam perspektif Islam, filsafat merupakan upaya untuk menjelaskan cara Allah menyampaikan kebenaran atau yang haq dengan bahasa pemikiran yang rasional. Sebagaimana kata Al-Kindi (801-873 M), bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat hal-iwal dalam batas-batas kemungkinan manusia. Ibn Sina (980-1037 M) juga mengatakan, bahwa filsafat adalah menyempurnakan jiwa manusia melalui konseptualisasi hal ihwal dan penimbangan kebenaran teoretis dan praktis dalam batas-batas kemampuan manusia. Karena dalam ajaran Islam diantara nama-nama Allah juga terdapat kebenaran, maka tidak terelakkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara filsafat dan agama (C.A Qadir, 1989:8).

Dalam Islam, strategi pengembangan ilmu juga harus didasarkan kepada perbaikan dan kelangsungan hidup manusia untuk menjadi khalifah di bumi (khalifah fi 'l-ard) dengan tetap memegang amanah besar dari Allah SWT. Ilmu dan imam menjadi bagian integral dalam diri seseorang. Sehingga demikian yang tejadi adalah, ilmu amaliah yang berada dalam jiwa muthmainnah. Dengan begitu, teknologi sebagai produk dari ilmu akan menjadi barang yang bermanfaat bagi umat manusia di sepanjang masa. Dan inilah yang harus menjadi tanggung jawab ilmuwan manusia.

BAB II
SEKILAS TENTANG
FILSAFAT ILMU
Tradisi Keilmuan di Barat

Jaman Yunai kuno berlangsung kira-kira dari abad ke 6 S.M. hingga awal abad pertengahan, antara 600 tahun S.M. hingga tahun 200 SM. Jaman ini dianggap sebagai cikal bakal filsafat yang ada sekarang. Pada jaman ini mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat digantikan dengan logo (baca: rasio) setelah mitos-mitos tersebut tidak dapat lagi menjawab dan memecahkan probblema-problema kosmologis.

Pada tahap ini bangsa Yunani mulai berpikir sedalam-dalamnya tentang berbagai fenomena alam  yang begitu beragam, meninggalkan mitos-mitos untuk kemudian terus meneliti berdasarkan resoning power.

Thales misalnya yang pertama kali mempertanyakan dasar dari alam dan segala isinya. Dia mengatakan, bahwa asal mula dari segala sesuatu adalah air. Sedcangkan menurut Anaximandros, bahwa asal segala sesuatu adalah apeiron (yang tak terbatas ) yang disebabkan oleh penceraian (ekskrisis). Lain lagi dengan Anaximanes, dia berpendapat bahwa asal segala sesuatu adalah hawa atau udara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x