Mohon tunggu...
Naomi RuellaEffendi
Naomi RuellaEffendi Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Mahasiswa Fakultas Filsafat UKWMS

Selanjutnya

Tutup

Inovasi

Model Pendidikan Indonesia

11 Mei 2020   21:01 Diperbarui: 11 Mei 2020   21:09 937 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Media. Sumber ilustrasi: PIXABAY/Free-photos

Pada awal tahun 2020, beberapa orang berlomba-lomba untuk menunjukkan eksistensinya. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya kerajaan-kerajaan fiktif. Kerajaan yang munculnya setelah konflik Amerika Serikat dan Iran terjadi mengklaim dirinya adalah pusat perdamaian dunia. Kerajaan yang berpusat di Purworejo, Jawa Tengah, mengklaim bahwa kerajaannya bisa mengendalikan dunia secara mudah. Kerajaan itu bernama Kerajaan Agung Sejagat. Dalam bahasa Jawa, Kerajaan Agung Sejagat ini dapat diartikan sebagai kerajaan yang meliputi seluruh dunia ini (merujuk pada kata “Sejagat”). Tetapi, setelah beberapa hari mendeklarasikan kerajaannya, Raja keraton langsung ditangkap oleh Polda Jateng karena terlibat kasus penipuan.

Kerajaan tersebut telah “mencuci otak” ratusan pengikut dengan membeli seragam keraton yang dijanjikan akan mendapatkan gaji dollar dari bank dunia. Sungguh, Raja keraton Agung Sejagat sangat pandai memainkan kata-kata promosi untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Parahnya, Sang Ratu bukanlah istri dari raja tetapi hanyalah seorang teman. Hal yang sama juga muncul di Jawa Barat. Sebenarnya, kerajaan ini sudah berdiri sejak lama dengan dibuktikan melalui akun youtube yang mereka punya. Kerajaan ini juga mirip yakni dapat mengendalikan dunia. Mereka beranggapan bahwa mereka dapat mengendalikan seluruh dunia. Menurut berita yang beredar, mereka ‘meramalkan’ negara-negara di dunia ini akan berakhir pada bulan Agustus 2020 sehingga negara di dunia ini akan menyerahkannya kepada kerajaan tersebut.

Kerajaan yang katanya di pimpin oleh seorang Paus Paulus VI telah memiliki ratusan pengikut dan baru tersebar di Bandung dan Aceh. Kerajaan ini disebut dengan Sunda Empire. Sunda Empire ini juga mengklaim bahwa PBB lahir di Bandung, kemudian segala sesuatu ini bermula dari Sunda Empire. Penulis bertanya-tanya Apakah sebodoh itu pengikut kerajaan-kerajaan fiktif? Apakah mereka tidak mendapatkan pendidikan yang benar? Ataukah pendidikan di Indonesia ini telah keliru? Penulis tidak begitu tahu secara mendalam pengikut-pengikut kerajaan itu berpendidikan atau tidak tetapi bisa dilihat bahwa pendidikan di Indonesia masih belum berkembang.

Selama ini pendidikan di Indonesia telah membuat murid-murid ‘kecanduan’ mendengarkan apa yang guru berikan. Jadi maksud penulis yakni, murid-murid di Indonesia kebanyakan hanya datang ke sekolah, duduk, lalu mendengarkan penjelasan dari guru. Ketika guru memberikan kesempatan untuk bertanya, para murid diam saja. Penulis dapat mengatakan bahwa pendidikan di negara kita sebagian besar seperti itu. Penulis pun juga pernah mengalami hal yang sama.

Hal inilah yang kemudian membuat cara berpikir para murid menjadi tumpul dan tidak berkembang. Akhirnya mereka dengan sangat mudah di ‘hipmotis’ tentang hal-hal yang keliru. Contohnya banyak masyarakat yang percaya dengan kerajaan yang fiktif, oleh karena itu perlu adanya perubahan. Penulis menawarkan salah satu model pendidikan yang bisa jadi sesuai yakni dengan bentuk kognitivisme. Bentuk pendidikan ini membawa para murid untuk membangun pengetahuan secara pribadi. Peran guru hanyalah membantu meluruskan apabila pengetahuan yang dibangun oleh murid kurang benar, sehingga para murid diajak untuk memakai otaknya untuk benar-benar berpikir.

Salah satu contoh pendidikan yang baik adalah di SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI). Sekolah yang menerima murid yang tidak mampu untuk biaya sekolah dan yatim piatu telah mencetak lulusan yang sangat berguna bagi masyarakat. Mereka setelah lulus dari SMA Selamat Pagi Indonesia bisa membangun sebuah perusahaan yang cukup keren. Ketika masih bersekolah mereka di bekali life skills dengan langsung mempraktikkan dalam dunia kerja. Mereka mempunyai kebun sendiri, beternak sendiri, dan berwirausaha sendiri. Artinya, dalam pendidikan perlu daya kreativitas dan kemauan untuk berubah dan berpikir sehingga mereka tidak mudah untuk di bohongi oleh setiap orang.

Tetapi, pada kenyataannya di Indonesia sekolah seperti SMA Selamat Pagi Indonesia sangat jarang sekali apalagi sekolah ini adalah sekolah gratis. Dapat kita lihat bersama model pendidikan di Indonesia seperti apa. Sekolah-sekolah baik itu negeri dan swasta sibuk sendiri dengan kurikulum yang di berikan pemerintah tanpa melihat apakah murid itu bisa mengembangkan pikiran yang telah di ajarkan oleh guru? Artinya guru hanya mentransfer apa yang telah dimiliki kepada siswa tanpa memperhatikan minat dan bakat mereka. Siswa hanya diberikan teori-teori sehingga tidak punya daya berpikir secara berkembang dan kreatif. Hasilnya para murid hanya bisa mengatakan ‘Iya’ tanpa berpikir ‘Mengapa harus begini begitu?’

Syukur, menteri pendidikan saat ini telah ‘melek’ terhadap model pendidikan di Indonesia yang sangat buruk ini. Pak Nadiem saat ini sedang berusaha untuk mengubah mindset guru dan murid untuk membangun pendidikan di Indonesia ini. Hal ini telah ia katakan dalam pidato hari guru yang berorientasi para murid yang berkembang bukan seorang guru yang hanya menumpahkan ilmunya kepada seorang murid. Harapan penulis, semoga dengan kejadian kerajaan-kerajaan fiktif yang telah menipu pikiran masyarakat Indonesia bisa menjadi evaluasi bahwa perlu dilakukan perubahan baik model, kurikulum, dan mindset pendidikan. Sehingga nantinya kita dapat mewujudkan kata-kata pembukaan UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa’ bukan membodohkan kehidupan bangsa.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan