Mohon tunggu...
Nanda Nuriyana SSiTMKM
Nanda Nuriyana SSiTMKM Mohon Tunggu... Tenaga Kesehatan - Praktisi dan Akademisi

BERTUGAS DI RUMAH SAKIT dr FAUZIAH BIREUEN BAGIAN KONSELOR HIV AIDS

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Irit Boleh, Pelit Jangan!

10 Oktober 2021   17:10 Diperbarui: 10 Oktober 2021   17:13 149 14 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

"Kalau hidupmu makin sulit, coba cek. Mungkin kamu tidak tahu ada tetangga menangis kelaparan." ~Nirania

Harta adalah titipan Allah semata, jangan merasa sombong memiliki kekayaan yang berlimpah. Apalagi konon suka pamer di media sosial. 

Lihatlah sekeliling anda barangkali kepekaan sifat dermawanmu sedang diuji.

Keberadaan diri sebagai jutawan merupakan sebuah kenikmatan hidup di dunia sebagai challenge. Adakah si Kaya menimbulkan kesenjangan hingga membuat jiwa-jiwa lemah teraniaya merasa berkecil hati?

Ketahuilah di dalam harta kita ada hak-hak orang lain yang perlu diselesaikan sesuai hak dan kewajiban. Bersedekahlah kamu jika mendapatkan kemudahan. Jangan sampai jiwa kikir menutupi hati dan pikiranmu.

Perbedaan pelit dan irit berbeda tipis namun maknanya sangat kentara. Irit adalah suatu manajemen pengeluaran yang terkontrol dengan baik. Prioritas sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Perencanaan yang matang antara pengeluaran dan pemasukan harus diseimbangkan.

Pelit versi Author di sini merupakan sosok jiwa yang tidak mempunyai naluri kasih sayang serta egois. Si pelit merasa akan kerugian bila berbagi dengan yang lainnya. Baik berbentuk uang, barang atau ilmunya. Si pelit tidak akan pernah percaya bila berbagi akan mendapatkan penggantinya yang lebih baik dari Allah SWT. 

Namun, dia hanya berpegang pada satu prinsip kerugian dan kekurangan bila memberikan sedekah kepada yang membutuhkan uluran tangan.

Pesan temanku "irit boleh, pelit jangan" quotes yang sangat berkesan di memory ku.

Yakinlah, memberi sedekah di samping rejeki kita bertambah juga berbagai kemudahan di berikan oleh-Nya. Malahan berlipat ganda tentunya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan