Mohon tunggu...
Nancy S Manalu
Nancy S Manalu Mohon Tunggu... Wiraswasta - I am K-lover, so what...

To understand yourself, write

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Membangun Impian dari Beasiswa

24 November 2021   11:20 Diperbarui: 24 November 2021   11:24 120 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Dibesarkan dari keluarga yatim sejak kelas 5 SD, anak kedua dari lima bersaudara dan memiliki ibu yang hanya seorang prtani dan pedagang sayur, membuat saya sadar diri dengan keadaan keluarga. Ada empat saudara kandung saya yang juga membutuhkan biaya pendidikan, apalagi ketiga adik saya, tidak boleh egois dengan impian bersekolah di tempat yang mahal dan mengambil jurusan yang bergengsi.

Untuk membantu meringankan beban pendidikan ini, sedari SMU saya sudah menjadi scholarship hunter, apalagi saya bisa bersekolah di salah satu SMU negeri favorit di kota Medan, saya tidak ingin putus sekolah, tidak ingin menyerah dengan kesulitan ekonomi, dan bersyukur memiliki ibu yang luar biasa tangguh yang berjuang untuk kebaikan anak-anaknya. Spirit dari ibu saya sampai menular ke tetangga sekitar rumah, bagaimana tidak, seorang janda, single mother, single fighter mampu menyekolahkan kelima anaknya sampai ke jenjang universitas.

Ada kata-kata bijak mengatakan : bahwa ujian yang kita alami tidak akan melebihi kemampuan manusiawi kita. Jika burung saja yang tidak menanam dan menabur beroleh makanan, terlebih lagi manusia yang memiliki akal untuk bertahan. Di SMU, saya mengambil beasiswa berupa bantuan pemerintah untuk anak yatim melalui pihak sekolah karena saya juga memiliki prestasi yang lumayan (selalu masuk dalam peringkat lima besar di kelas). Saya diminta melengkapi beberapa berkas persyaratan.

Persyaratan berkasnya dibagi dua bagian yaitu berkas internal yang dapat saya lengkapi langsung berupa fotocopy raport dan Kartu Keluarga. Kemudian berkas eksternal yaitu, Surat Keterangan dari Lurah yang menegaskan bahwa kami berasal dari keluarga yatim dan kurang mampu. Tidak terlalu sulit untuk melengkapi berkas-berkas tersebut karena dibarengi niat yang kuat. Kendala di masa SMU yang justru kadangkala saya rasakan adalah sedikit rasa malu.

Masa SMU adalah masa peralihan, masa dimana kita butuh pengakuan dari teman-teman. Butuh diakui cantik, butuh diakui kaya supaya banyak teman dan pintar. Menjadi anak yatim, walaupun kau sedikit pintar dan memperoleh beasiswa/ bantuan karena ini, terkadang membuatmu sedikit rendah diri. Tetapi di sisi lain, ada sedikit kedewasaan yang mulai tertanam di dirimu, ketika engkau mulai bisa berpikir tentang masa depanmu, ketika engkau memiliki tekad untuk tetap bersekolah, bahkan ke jenjang yang lebih tinggi dari harapanmu.

Dengan tekad yang besar, saya berhasil kuliah di sebuah Universitas Negeri paling populer di kota itu dan pulau Sumatera. Saya tidak pernah les atauapun bimbel ketika temanmu yang lain melakukannya. Tentu saja karena ketidak mampuan untuk membayar pendidikan informal tersebut, jadi bisa lulus di universitas tersebut adalah sebuah kebanggaan besar buat ibu dan keluarga saya. Selama berkuliah pun, tentu saja saya menjadi scholarship hunter.

Saya mendapat dua beasiswa internal kampus kala itu, yaitu : Beasiswa PPA (Prestasi Peningkatan Akademik). Ini saya peroleh karena mempunyai nilai Akademik (IP/ Indek Prestasi) yang meningkat atau paling tidak stabil dari semester sebelumnya dan beasiswa BBM untuk mahasiswa yatim/piatu/kurang mampu. Tahun 2003-2006, hanya 3,5 tahun saya menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar Sarjana Ekonomi.

Perkembangan informasi dan teknologi serta penggunaan internet 15 tahun yang lalu tidak sepesat saat ini. Semua informasi beasiswa masih disajikan secara manual (dalam bentuk Surat Edaran) di mading kampus.. Sehingga, jika tidak ingin ketinggalan informasi penting, saya harus rajin membaca mading dan lewat di sekitar kantor birokrat kampus untuk melihat-lihat informasi terbaru. Sebenarnya intinya sama ya dengan zaman now pun, yaitu menjadi siswa/mahasiswa yang aktif mencari informasi karena kita juga yang membutuhkannya.

Berikut beberapa kendala yang mungkin dihadapi para scholarship hunter :

1. Bingung mau bertanya kepada siapa, dan memulai dari mana prosesnya, karena mungkin belum ada pengalaman beasiswa.

2. Insecure dengan nilai/kemampuan sendiri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan