Mohon tunggu...
Nana Marcecilia
Nana Marcecilia Mohon Tunggu... Menikmati berjalannya waktu

Mengekspresikan hati dan pikiran melalui tulisan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Guru, Profesi Penuh Tuntutan, tapi Minim Penghargaan

27 November 2020   10:15 Diperbarui: 27 November 2020   10:16 164 17 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Guru, Profesi Penuh Tuntutan, tapi Minim Penghargaan
Tribunnews.com

Selamat Hari Guru !! Mohon maaf terlambat meng-upload tulisannya.

Teringat ketika saya masih berperan sebagai murid. Tidak mudah bagi saya untuk benar-benar menghormati guru, apalagi kalau yang sangat galak. Pastinya kata makian dibelakangnya terucap. Kemudian juga ada guru yang saya dan teman-teman olok-olok karena merasa orang tersebut tidak pantas disebut sebagai guru. Saat SMA, dimasa sedang bandel-bandelnya, guru pun berani kami lawan, bahkan ada senior yang menantang salah satu guru berkelahi. Ketika guru tersebut tidak datang, kami menyebutnya, "Pengecut!".

Ahh, kalau diingat-ingat rasanya menyesal sekali pernah mengolok-ngolok dan memaki guru. Seperti karma, profesi yang pertama kali saya jalani malah menjadi guru les, kemudian guru TK, dan terakhir mengajar, saya dipercaya menjadi asisten dosen. Dan, yap, saya mengalami yang namanya diolok-olok oleh murid, belum lagi disalah-salahkan orang tua apabila anaknya saya marahi, dan ketika mengajar, sama sekali tidak didengarkan.

Sempat ada rasa salah pilih profesi, karena saya anggap profesi guru itu sangat gampang sekali. Tinggal lihat buku, salin pelajarannya, mengajari anak sesuai dengan rencana, dan selesai sudah, akhir bulan tinggal terima gaji. Hehe. 

Tapi ternyata saya salah, ketika saya mengajari anak dengan hanya membacakan, meminta mereka mencatat, ataupun hanya menjelaskan sesuai dengan buku, murid-murid akan memandang saya. Ya, hanya memandang dan mengerjakan apa yang saya minta, tapi tidak ada pelajaran yang menyerap ke otaknya. Bisa jadi saat bersama saya, murid bisa menghafal atau memahami pelajaran yang saya berikan, namun ketika jam pelajaran usai, seluruh materi yang saya berikan menguap begitu saja dari pikiran mereka.

Beruntung saya memiliki rekan kerja dan pimpinan yang bersedia memberikan arahan dan masukan agar murid-murid tertarik dan bisa benar-benar memahami materi yang diajarkan. Perlu waktu satu minggu lebih, terkadang sampai lembur hanya untuk menyiapkan sebuah materi. Terkadang, saya juga mengeluarkan kocek sendiri untuk menyiapkan properti mengajar. Itu tidak dilakukan saya saja, tapi rekan kerja dan pimpinan juga melakukan hal yang sama.

Eh, sudah berusaha seperti itu, ternyata tetap saja ada murid yang mengolok, mengatakan bahwa cara mengajar kami membosankan, dan seterusnya. Mau nangis rasanya! Belum lagi, ketika ada orang tua yang tidak terima kalau anaknya ditegur karena melakukan kesalahan, tetapi menuntut ketika anak sampai di rumah, anak tersebut harus menjadi anak yang baik dan rajin belajar, serta pintar. Grrr.. Lelah!

Rasanya kalau ada pekerjaan lain, saya ingin segera resign dari profesi guru. Eh, tapi ujung-ujungnya malah jadi guru lagi, saat itu. Hehe.

Sampai suatu hari, mungkin karena sudah lama memegang murid-murid yang sama, mulai tumbuh dihati saya rasa cinta dengan menganggap mereka seperti adik dan anak sendiri.

Dengan adanya perasaan tersebut, ketika saya harus menyiapkan materi dengan waktu yang lama ataupun harus lembur, saya tidak merasa keberatan. Saya malah menikmatinya, ada rasa ingin memberikan yang terbaik bagi murid-murid saya. Ketika masih ada murid yang mengolok atau diam-diam memaki saya, sakit hati sih, tapi saya berusaha menjadikannya bahan intropeksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x