Mohon tunggu...
Nana Marcecilia
Nana Marcecilia Mohon Tunggu... Indonesia Negaraku

Mengekspresikan hati dan pikiran melalui tulisan | penikmatbudaya.id

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tenaga Medis, Biarkan Perihmu Menjadi Amal Ibadahmu

20 Mei 2020   05:54 Diperbarui: 20 Mei 2020   05:55 111 21 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tenaga Medis, Biarkan Perihmu Menjadi Amal Ibadahmu
Foto Tribunnews.com

Kata "Terserah"-nya para tenaga medis, sepertinya tidak bisa kita artikan sebagai lain dihati, lain dimulut. Kalau boleh saya maknai. "terserah" sebagai kecewa dan sedih yang sangat mendalam hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa mengeluarkan kata "Terserah". Pasrah, mau ngomong juga percuma, gak bakal didengar dan dipahami juga. 

Pasti kita akan merasakan hal yang sama, kan

Coba kita bayangkan andai kita nih sudah bertaruh nyawa untuk orang lain yang sama sekali gak kita kenal, sampai menjauhkan diri dari orang-orang yang disayangi, tapi rasa-rasanya pengorbanan kita cuman dianggap main-main belaka. Digaji sih, cuman rasanya kok ya gak setimpal gitu dengan tenaga, perasaan bahkan nyawa yang dikorbankan.

Setelah usaha keras sampai kurang tidur, mesti berusaha nenangin keluarga supaya mereka gak khawatir, belum lagi harus menahan rindu supaya gak ketemu keluarga dulu, takut keluarga nanti bisa tahu-tahu kena. Malah dianggap itu bukan pengorbanan, melainkan kewajiban yang mesti kita lalui.

Kalau kita jadi mereka, bagaimana perasaannya? Kalau saya pribadi sih pasti ngerasa perih banget beneran. 

Bukannya saya menyalahkan pemerintah, tapi kok ya pemerintah gak bantu koordinasi lebih awal sebelum mengumumkan transportasi publik diaktifkan kembali? Setidaknya dengan adanya koordinasi dengan perusahaan-perusahaan transportasi publik terlebih dahulu mengenai pengetatan aturan jaga di lapangan, jadi kan kejadian berkerumun bisa dihindari. 

Kok setelah beritanya viral, baru ada pengetatan aturan? Itu kan namanya aturan setengah matang.

Bukan juga saya menyalahkan orang-orang yang mengantri mudik ASAP, karena saya berusaha memahami mereka mungkin memiliki pertimbangan tersendiri sampai harus memaksakan diri untuk pulang. Mereka yang berkerumun ditempat umum, mungkin jenuh dirumah, atau ingin buru-buru pulang setelah berbelanja, jadi desak-desakkan sedikit, gak masalah. Tapi, kok yaa, gak bisa apa tahan diri dulu sebentaaarrr saja. 

Belum lagi ada saja YouTuber yang demi konten, malah menyepelekan virus korona ini. Kalau ada yang setuju dengan pemikiran YouTuber itu bagaimana? Kalau banyak orang yang akhirnya terpengaruh dan malah turut meremehkan virus ini, kemudian setelah semakin banyak yang terjangkit, lantas pertanggung jawaban mereka terhadap korban bagaimana? Paling banter, ikut berbela sungkawa, atau turut bersedih pada orang-orang yang terpapar virus korona. 

Coba kita pikir lagi kalau kita bekerja sebagai tenaga medis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN