Mohon tunggu...
Nana
Nana Mohon Tunggu... Indonesia Negaraku

Hobi cuap-cuap dalam tulisan | IG : chuapsantai

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Sulitkah untuk Menghargai Keanekaragaman?

20 Agustus 2019   14:47 Diperbarui: 21 Agustus 2019   13:52 0 8 4 Mohon Tunggu...

Ada dua kejadian yang sedang populer saat ini, yakni ceramah Ustadz Abdul Somed yang berujung pada pelaporan karena menista agama dan tindakan rasial yang diterima oleh mahasiswa Papua di Malang, hingga menimbulkan aksi rusuh.

Untuk ceramah Ustadz sendiri, saya tidak berani berkomentar karena saya tidak mendapatkan videonya secara keseluruhan, hanya mendapatkan potongan video ceramahnya saja tentang arti Salib apabila sampai salah satu umat Islam merasa terus terbayang. Sedangkan untuk penyebab mahasiswa Papua sampai marah, saat ini  belum ada penyebab pastinya yang sampai menyulut kemarahan mereka.

Namun dari dua kejadian ini, jari saya tergelitik untuk membahas tentang keanekaragaman di Indonesia yang patut kita hargai, dan sudah ada dari zaman nenek moyang, yang dengan susah payah dipersatukan oleh para pahlawan dan pejuang Indonesia sampai kata Merdeka dikumandangkan. Untuk itu, sudah sepatutnya kita bangga pada keanekaragaman kita, bukan malah membuat perbedaan A B C, kemudian karena salah paham akhirnya berkembang menjadi permusuhan saudara.

Dimulai dari masa Orde Baru yang menimbulkan perbedaan perlakuan antara warga negara asli Indonesia dengan warga negara Indonesia beretnis keturunan Tionghoa. Kemudian, Pilkada tempo lalu yang banyak mengangkat isu agama untuk mengalahkan lawan politiknya, belum lagi adanya isu etnis juga dibawa-bawa. Pemilu kemarin juga hampir sempat memecah kebhinekaan kita.

Mungkin kita harus kembali mempelajari sejarah berdirinya bangsa ini, agar masing-masing dari kita semua menghargai apa yang dimiliki bangsa ini. Dan kita menghargai para saudara kita yang memiliki latar belakang budaya, suku, dan agama yang berbeda, seperti kita menghargai pasangan hidup kita apa adanya. 

Ada benarnya ketika Presiden Sukarno mengatakan dalam pidatonya "JAS Merah- Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah", karena dengan kita paham sejarah kita sendiri, kita akan lebih menghargai apa yang saat ini kita miliki, dan mempelajari agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Jangan sampai, karena kita meninggalkan sejarah, kita bisa tercerai-berai dan kembali "dijajah" oleh negara asing secara tidak langsung, baik itu dari segi politik, ekonomi maupun sumber daya.  

Kilas balik ke zaman nenek moyang kita, dari sejarah yang saya pelajari, nenek moyang kita, awalnya, belum memeluk agama sama sekali, dan bahkan bentuk agama saja mereka tidak tahu. Nenek moyang kita hanya meyakini bahwa ada yang berkuasa diluar dari kehidupan mereka. Dengan begitu, mereka merasa perlu menyembah sesuatu,  yang dulunya dikenal dengan nama animisme dan dinamisme. 

Hal ini menunjukkan manusia selalu ada keinginan untuk dekat dengan Penciptanya. 

Saat muncul berbagai kerajaan per wilayah Indonesia, dibukalah pelabuhan untuk berdagang. Banyak orang asing yang bisa bersinggah dan saling berdagang untuk  memenuhi kebutuhan hidup. Itulah tanda manusia memang makhluk sosial. Selagi berdagang, para pendatang pun sambil memperkenalkan dan menyebar agama yang telah mereka yakini. 

Agama yang pertama kali masuk ke Indonesia adalah Hindu. Dan dalam pelajaran sejarah, Kutai merupakan kerajaan Hindu tertua di Indonesia. Kutai tidak sendiri, ada kerajaan lain dari wilayah yang berbeda yang juga memeluk agama Hindu, dan masih banyak juga yang memeluk animisme dan dinamisme. Apakah itu berarti antar kerajaan tidak mau lagi yang namanya bekerja sama karena berbeda agama ataupun berbeda budaya?

Bisa jadi, karena yang mereka inginkan adalah kekuasaan, oleh karena itu kerajaan yang ada selalu timbul tenggelam digantikan kerajaan baru. Agama yang kemudian masuk ke Indonesia adalah Buddha, kemudian Islam. Agama-agama tersebut dianut oleh kerajaan-kerajaan yang ada sesuai dengan zamannya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3